24 Dhu al-Qidah 1438 :: 16 August 2017

Sikap Muslim dalam Menghadapi Fitnah (2)

Diposting : 26 Rabiul Awal 1436 H / View : 3308x Tags:

Sikap Muslim dalam Menghadapi FitnahDi antara sikap muslim yang bisa menyelamatkannya dari semua ujian adalah selalu berkomitmen bersama jamaah kaum muslimin dan pemerintah mereka di setiap zaman. Dia senantiasa bersama kaum muslimin, tunduk kepada pemerintah mereka, dan menjauhi semua sekte yang menyimpang. Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallâhu anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam mengenai fitnah, dia berkata, “Para sahabat dahulu sering bertanya kepada Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam tentang kebaikan, sementara aku sering bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir keburukan itu akan menimpaku.” Dia bertanya kepada beliau mengenai apa yang harus dia lakukan. “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika keburukan itu menimpaku?” yakni pada saat turunnya fitnah. Maka beliau menjawab,

“تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ”

“Berkomitmenlah bersama jamaah kaum muslimin dan pemerintah mereka.”

Selama kaum muslimin masih ada walaupun jumlah mereka sedikit. Jika mereka berada di atas kebenaran maka komitmenlah bersama mereka dan tunduk kepada pemerintah kaum muslimin, karena itulah sikap yang bisa menyelamatkan dari fitnah, dengan izin Allah.

“Berkomitmenlah bersama jamaah kaum muslimin dan pemerintah mereka” dan janganlah menyimpang bersama orang-orang yang menyimpang dengan mengatasnamakan kebebasan (berpendapat) atau mengatasnamakan demokrasi atau mengatasnamakan sekularisme atau mengatasnamakan pluralisme atau seruan-seruan semacamnya. Tidak, semua hal ini tidak ada dalam kamus kita selaku muslim. Kita hanya berpegang teguh dengan agama kita dan selalu bersatu bersama jamaah kaum muslimin dan pemerintah mereka. Inilah sebab keselamatan ketika terjadi fitnah. Jangan sampai kita tertipu dengan seruan-seruan batil, jangan tertipu dengan slogan-slogan manis (yang menipu), dan jangan kita mendengar syubhat-syubhat yang akan menjauhkan kita dari jamaah kaum muslimin dan pemerintah mereka. Hudzaifah radhiyallâhu anhu lanjut bertanya, “Bagaimana jika pada masa itu, kaum muslimin tidak bersatu padu dan tidak dipimpin oleh seorang penguasa?” Lâ haula walâ quwwata illâ billâh, fitnah yang besar telah datang sementara waktu itu kaum muslimin tidak bersatu dan mereka juga tidak mempunyai pemimpin. Maka beliau bersabda,

“فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا”

“Tinggalkanlah semua sekte-sekte itu.”

Jangan kamu terjun ke dalam fitnah-fitnah itu. Jauhi semua sekte-sekte itu karena tidak ada satu pun sekte yang mempunyai keistimewaan dibandingkan sekte lainnya. Tatkala ketika itu tidak ada jamaah kaum muslimin dan juga tidak ada pemerintah, maka semua sekte-sekte itu sesat lagi binasa, karena itu janganlah bergabung bersama mereka. Jauhi semuanya walaupun konsekuensinya kamu akan sendirian.

“وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ”

“(Tinggalkanlah semua sekte-sekte itu) walaupun kamu harus menggigit akar pohon, sampai kematian menjemputmu dalam keadaan seperti itu.”

Jadi beginilah sikap seorang muslim dalam menghadapi fitnah (ujian):

Pertama, berpegang teguh dengan kitab Allah Azza wa Jalla.

Kedua, berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam dan sunnah para khalifah dan sahabat beliau.

Ketiga, selalu bersama kaum muslimin dimana pun mereka berada dan juga selalu tunduk kepada pemerintah kaum muslimin.

Keempat, jika pada saat itu tidak ada jamaah dan pemerintah kaum muslimin, maka dia harus menyelamatkan dirinya sendiri dengan menjauhi semua sekte-sekte yang ada, sampai kematian menjemputnya dalam keadaan dia berpegang teguh dengan agamanya dan sunnah Nabinya.

Orang-orang munafik itu selalu ada dan hidup di semua masa dan tempat, terkadang mereka berasal dari anak-anak kita sendiri atau dari komunitas kita sendiri. Mereka menunggu kesempatan untuk menimpakan keburukan kepada kaum muslimin dan mereka selalu bergabung dengan musuh-musuh kita. Jika fitnah telah datang, mereka akan bergabung dengan musuh dan meninggalkan kaum muslimin. Sebagaimana yang mereka lakukan pada hari berkumpulnya semua sekutu kaum musyrikin pada perang Ahzab pada masa Nabi shallallâhu alaihi wasallam, tatkala orang-orang Arab bersatu untuk menyerang Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam. Mereka datang dengan tujuan untuk memusnahkan Islam dan kaum muslimin, mereka ingin membunuh Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Mereka datang dan mengepung Madinah, jumlah mereka banyak dan kebanyakannya berasal dari kabilah-kabilah kafir. Ketika itu, orang-orang Yahudi bergabung dengan mereka dan mereka membatalkan perjanjian damai yang mereka buat dengan Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam. Mereka bergabung dengan barisan orang-orang kafir, padahal mereka adalah ahli kitab yang mengenal bahwa Muhammad adalah Rasul Allah shallallâhu alaihi wasallam. Mereka bergabung dengan musuh-musuh beliau dan bersatu dengan orang-orang kafir. Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,

(إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتْ الأَبْصَارُ وَبَلَغَتْ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَ* هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالاً شَدِيد)

(Yaitu) ketika mereka datang kepada kalian dari atas dan dari bawah kalian, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (kalian) dan hati kaliab naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kalian menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam sangkaan. Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.[Al-Ahzâb: 10-11]

Bagaimanakah perbedaan sikap antara kaum mukminin dengan orang-orang munafik?

(وَزُلْزِلُوا زِلْزَالاً شَدِيد* وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّ غُرُور)

“Dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.’” [Al-Ahzâb: 11-12]

Mereka berkata, Rasulullah berjanji kepada kita bahwa dia akan mendapatkan pertolongan, bahwa keamanan akan tersebar di jazirah Arab, dan setiap pengendara akan berkendara dari sini sampai sana dalam keadaan aman tanpa ada gangguan. Tapi nyatanya sekarang, pergi untuk buang air saja kita tidak mampu. Mana janji Rasulullah?! “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.”

Inilah sikap orang-orang munafik. Adapun kaum mukminin,

(وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلاَّ إِيمَاناً وَتَسْلِيماً* مِنْ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلاً* لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُوراً رَحِيماً* وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا)

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya), supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu.” [Al-Ahzâb: 22-25]

Inilah hasilnya. Tatkala ujian dan cobaan diturunkan, orang-orang munafik akan tersisih dari kaum mukminin dan orang-orang Yahudi akan bergabung dengan orang-orang kafir padahal mereka adalah ahli kitab yang mengenal betul bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.

(وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْراً وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيّاً عَزِيزاً)

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Ahzâb: 25]

Sebelum menyebutkan semua ayat di atas, Allah berfirman,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحاً وَجُنُوداً لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيراً)

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepada kalian ketika datang kepada kalian tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kalian melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kalian kerjakan.” [Al-Ahzâb: 9]

Lantas apa yang terjadi? Kaum muslimin tidak jadi berperang.

(وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ)

Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.” [Al-Ahzâb: 25]

Allah mengutus angin kencang lagi dingin yang menyesakkan dada-dada mereka dan Allah mengutus para malaikat dari langit untuk menyusupkan rasa takut ke dalam hati-hati mereka, sehingga mereka semua mundur dalam keadaan takut dan terkalahkan.

(وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْراً وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيّاً عَزِيزا* وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ)

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka.” [Al-Ahzâb: 25-26]

Sementara orang-orang Yahudi yang membantu dan bergabung dengan mereka, Allah mengeluarkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka, yang mereka berpikir benteng-benteng itu bisa melindungi mereka dari siksaan Allah Azza wa Jalla.

(وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمْ الرُّعْبَ فَرِيقاً تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقاً* وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضاً لَمْ تَطَئُوهَا)

Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kalian bunuh dan sebahagian yang lain kalian tawan. Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” [Al-Ahzâb: 26-27]

Ini pada perang Khaibar. Awalnya mereka tidak meraih hasil ini, hasil dari kesabaran. Namun setelah mereka diuji, “dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan.”

Dan mereka bersabar, mereka akhirnya merasakan sendiri kebenaran janji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Mereka bersabar sehingga inilah yang mereka raih. Dengan demikian, orang mukmin yang jujur bisa dibedakan dengan orang munafik yang pendusta ketika turunnya ujian dan cobaan dan pada keadaan lainnya. Inilah hikmah Allah Jalla wa ‘Alâ menurunkan fitnah.

Di masa ini -sebagaimana yang kalian ketahui-, orang-orang kafir berusaha untuk menguasai kaum muslimin dengan segala cara, dengan berbagai tipu daya, dan dengan kekuatan persenjataan mereka. Mereka ingin menghabisi Islam dan kaum muslimin dengan dalih bahwa rakyat di negeri Islam itu terzhalimi dan tertindas, dan bahwa rakyat menghendaki hak-hak mereka. Mereka juga berdalih dengan kebebasan dan tuntutan terhadap hak-hak demokrasi, dan seterusnya. Hal ini diperparah dengan adanya dukungan dari para penulis buku yang tertipu dengan mereka, sehingga mereka berbicara dengan lisan-lisan mereka dengan seenaknya. Akan tetapi semua ini tidak akan membahayakan Islam dan kaum muslimin. Di masa ini mereka menyerukan pluralisme kebebasan bersuara dan seterusnya. Apakah kita tidak mempunyai agama?!

Bukankah Allah telah menurunkan kepada kita sebuah kitab dari langit dan mengutus kepada kita seorang Rasul? Dan bukankah Dia telah memerintahkan kita untuk mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah, serta selalu tunduk kepada pemerintah?!

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً)

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul, dan kepada pemerintah kalian. Jika kalian berbeda pendapat dalam suatu masalah, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian memang beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih baik dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisâ`: 59]

Mereka menyerukan emansipasi wanita dengan semua hal yang dicakup oleh makna ‘kebebasan kebinatangan’, bukan ‘kebebasan yang baik’ yang memerdekakan kaum wanita dari ketundukan dan kepatuhan terhadap syahwat dan ambisi orang-orang kafir, dimana mereka menginginkan agar kaum wanita setara dengan kaum lelaki padahal mereka tidaklah sama.

(وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنْثَى)

“Dan kaum lelaki itu tidak sama dengan kaum wanita.” [Âli Imrân: 36]

Mereka menginginkan emansipasi wanita, dimana wanita juga diperbolehkan untuk mengerjakan pekerjaan kaum lelaki, dan agar kaum wanita keluar dari rumah mereka yang merupakan tempat dimana mereka seharusnya bekerja.

(وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ)

“Dan tinggallah di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias seperti berhiasnya kaum jahiliah terdahulu. Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat.” [Al-Ahzâb: 33]

Mereka tidak menginginkan apa yang tersebut dalam ayat di atas, namun yang mereka inginkan adalah agar kaum muslimah sama seperti wanita-wanita dari barat yang kafir, bahkan lebih buruk lagi. Mereka akan menjadi lebih buruk daripada wanita-wanita kafir karena mereka adalah orang-orang yang mengafiri nikmat Allah dan menanggalkan adab-adab Islam. Mereka lebih buruk daripada wanita-wanita kafir yang pada dasarnya tidak mengenal Islam dan tidak hidup di bawah naungan Islam sepanjang hidup mereka. Karenanya mereka menjadi jauh lebih buruk dari wanita-wanita kafir. Inilah yang mereka inginkan karena mereka mengetahui bahwa jika kaum wanita sudah rusak maka akan rusak pula tatanan kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan sabda Nabi shallallâhu alaihi wasallam,

“وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ”

“Dan waspadalah dari (fitnah) wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israil adalah kaum wanita.”

Dan beliau shallallâhu alaihi wasallam bersabda,

“مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ”

“Aku tidak meninggalkan suatu fitnah yang lebih membahayakan kaum lelaki dibandingkan kaum wanita.”

Tatkala mereka mengetahui akan besarnya kedudukan kaum wanita, maka mereka mengarahkan kaum wanita menuju perilaku yang berkebalikan dari akhlak Islam, yang berkebalikan dengan agamanya, dan berkebalikan dengan perilaku masyarakat kaum muslimin. Semua itu mereka lakukan agar mereka bisa meraih tujuan mereka melalui perantaraan kaum wanita. Mereka bertumpu padanya dan mereka mendapatkan bantuan dari orang-orang munafik di negeri kita dan di negeri sekitar kita. Orang-orang munafik ini membantu mereka dalam menjalankan tujuan mereka, menyebarkan pemikiran-pemikiran mereka, dan menjunjung tinggi semua pemikiran itu padahal mereka tidak mengetahui kesimpulan dan maknanya. Mereka mendukungnya semata-mata karena pemikiran itu bersumber dari negara-negara maju -menurut mereka-, padahal sebenarnya mereka adalah negara-negara yang terbelakang. Berbagai konsep dan pemikiran datang dari Barat lalu mereka menilainya sebagai konsep dan pemikiran yang sempurna. Mereka mengatakan, “Kita adalah negara terbelakang dan seterusnya, dan kita membutuhkan pembaharuan yang mereka namakan reformasi,” padahal sebenarnya itu merupakan tindakan perusakan. Mereka mengatakan, “Sungguh kami adalah kaum reformis.” Hal ini sebagaimana ucapan orang-orang munafik,

(وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ* أَلا إِنَّهُمْ هُمْ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ)

“Dan jika dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab, ‘Sungguh kami hanya orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ketahuilah bahwa mereka ini adalah para perusak namum mereka tidak menyadarinya.” [Al-Baqarah: 11-12]

Beginilah sikap mereka dalam menghadapi fitnah. Dan tidak ada yang mampu bersabar dalam menghadapi fitnah kecuali orang-orang yang memiliki keimanan, keyakinan, dan keteguhan hati, sehingga mereka tidak mudah tertipu dengan seruan-seruan yang ada. Kita -alhamdulillah- bukanlah orang-orang yang ragu terhadap agama dan akidah kita, lantas mengapa kita tidak berkomitmen dengan agama kita dan bersabar di atasnya?!

Mengapa kita tidak berkomitmen dengan akidah kita?!

Mengapa kita menurunkan derajat kita sendiri?!

Yang mereka inginkan dari kita adalah agar kita melepaskan kemuliaan kita. Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,

(وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ)

“Padahal kalian lebih tinggi (dibandingkan mereka).” [Âli Imrân: 139]

Dengan satu syarat. Ketinggian tidak didapatkan begitu saja, melainkan dengan satu syarat yaitu:

(إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ)

“Jika kalian beriman.” [Âli Imrân: 139]

(وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ)

“Padahal kalian lebih tinggi (dibandingkan mereka) jika kalian beriman.” [Âli Imrân: 139]

Maka kaum mukminin akan mendapatkan ketinggian mereka dengan keimanan. Dan dengan hilangnya keimanan, maka mereka akan merasakan kerendahan dan kehinaan. Akan tetapi keimanan itu membutuhkan ujian dan cobaan, karena itu tidak ada yang perlu diherankan.

Akan datang banyak fitnah, sebagaimana yang Nabi shallallâhu alaihi wasallam kabarkan, bahwa setiap kali zaman bertambah tua maka fitnah akan semakin besar dan semakin beraneka ragam bentuknya dibandingkan pada zaman sebelumnya. Fitnah yang bertubi-tubi datangnya, fitnah yang di dalamnya.

“الْمُؤْمِنُ الْقَابِضُ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمَرِ”

“Mukmin yang komitmen dengan agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api.”

“بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ” قالوا: يا رسول الله ومن الغرباء؟ قال:”الَّذِينَ يصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ”،

وفي رواية: “الَّذِينَ يُصْلِحُونَ مَا أَفْسَدَ النَّاسَ”

“Islam datang dalam keadaan asing dan kelak akan kembali menjadi asing sebagaimana datangnya. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing tersebut.” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang-orang yang terasing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang memperbaiki ketika manusia sudah mulai merusak.”

Dan dalam sebuah riwayat, “Orang-orang yang memperbaiki apa yang dirusak oleh manusia.”

Mereka inilah orang-orang yang terasing di akhir zaman. Mengapa mereka menjadi orang-orang yang terasing?

Karena mayoritas manusia ketika itu berkebalikan dan bertentangan dengan mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang terasing.

Orang asing adalah orang yang hidup di tengah orang-orang yang bukan keluarganya dan tidak sekampung dengannya. Inilah orang asing.

Maka seorang mukmin di akhir zaman hidup di tengah orang-orang yang bukan keluarganya dan tidak sekampung dengannya. Dalam artian mereka tidak sama dalam hal akhlak, wawasan, dan pemikiran. Hendaknya seorang mukmin bersabar dalam menghadapinya:

(وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)

“Dan saling berpesan dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kesabaran.” [Al-‘Ashr: 3]

Aku memohon kepada Allah Azza wa Jalla agar berkenan memberikan taufik kepada kita semua menuju ucapan dan amalan yang shalih.

Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau seluruhnya.

 

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/%2013693]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.