2 Safar 1439 :: 22 October 2017

Sikap Muslim dalam Menghadapi Fitnah (1)

Diposting : 25 Rabiul Awal 1436 H / View : 9966x Tags:

Sikap Muslim dalam Menghadapi FitnahBismillahirrahmanirrahim

Segala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam dari Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau dan para sahabat beliau seluruhnya.

Amma ba’du:

Materi yang akan kita bicarakan -insya Allah-, sebagaimana yang diumumkan berjudul: Sikap Muslim dalam Menghadapi Fitnah. Semoga Allah menjaga kita semua dari keburukannya.

Al-Fitan adalah bentuk plural dari kata fitnah, yaitu ujian dan cobaan. Sudah menjadi sunnah Allah Subhânahu wa Ta’âlâ pada makhluk-Nya bahwa Dia akan senantiasa menguji mereka dan tidak akan membiarkan mereka hidup begitu saja tanpa diuji. Karena jika seandainya mereka dibiarkan hidup begitu saja tanpa diuji, niscaya tidak akan bisa dibedakan antara mukmin dengan munafik dan tidak akan nampak perbedaan antara yang jujur dengan yang dusta, karena tidak adanya kejelasan padanya. Sebagaimana firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,

(الم* أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ* وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ)

 “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” [Al-Ankabût: 1-3]

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menurunkan berbagai ujian agar nampak dan bisa diketahui mana yang jujur dan mana yang dusta. Seandainya bukan karena ujian, niscaya tidak bisa dibedakan antara ini dan itu, permasalahannya akan menjadi tidak jelas, dan kaum muslimin akan mudah mempercayai orang yang menampakkan keimanan dan keislaman di hadapan mereka, padahal sebenarnya dia bukanlah orang yang bisa dipercaya. Itu dia lakukan hanya untuk menipu dan memperdaya kaum muslimin, karena jika itu tidak dia lakukan maka kaum muslimin akan menjauhinya dan tidak akan mempercayakannya untuk mengurusi urusan mereka. Seandainya tidak ada ujian, niscaya mereka tidak akan bisa mengetahui hakikat sebenarnya dari orang tersebut. Seandainya tidak ada ujian, maka mukmin dan munafik akan sulit dibedakan, demikian halnya orang yang jujur dan orang yang dusta, akan lahir banyak kerusakan, dan tidak akan bisa dibedakan antara ini dan itu. Karenanya, di antara bentuk kebijaksanaan dan kasih sayang Allah, Dia menurunkan semua ujian ini agar kedua jenis manusia ini bisa dibedakan.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ Maha Bijaksana dalam perbuatan-Nya dan dalam apa saja yang Dia takdirkan terjadi di alam ini. Allah berfirman kepada kita,

(مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتَّى يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنْ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِنْ رُسُلِهِ مَنْ يَشَاءُ)

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.” [Âli Imrân: 179]

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini,” yakni keadaan dimana orang-orang munafik dan para pendusta berbaur dengan kaum mukminin yang jujur, karena keadaan itu bisa melahirkan keburukan yang besar bagi agama dan dunia mereka.

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” Dan itu dengan cara diturunkannya berbagai ujian kepada para hamba-Nya.

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib,” sehingga kalian tidak akan bisa mengetahui isi hati orang lain. Banyak orang yang menampakkan pertolongan, kejujuran, pembenaran, dan keimanan di depan kalian padahal sebenarnya dia adalah musuh yang senantiasa mengintai kalian. Kalian tidak mengetahui itu karena kalian tidak bisa mengetahui isi hatinya. Tatkala manusia tidak bisa mengetahui isi hati orang lain, Allah menjadikan semua ujian ini sebagai sarana yang bisa menampakkan isi hati mereka, yang berisi kecenderungan kepada keburukan, dusta, dan kemunafikan. Karena jika ujian sudah datang, maka orang-orang munafik itu akan berkomentar sehingga mereka akan mudah dideteksi dan pada akhirnya mereka akan berpihak kepada orang-orang kafir. Adapun dalam kondisi tenang (tanpa fitnah, penj.), maka mereka akan sulit dideteksi, sehingga mereka dengan mudah menipu, berdusta, dan menyembunyikan semua perbuatan busuk mereka.

Adapun firman-Nya, “Akan tetapi Allah memilih,” yakni menyeleksi “siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.” Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Alâ,

(عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً* إِلاَّ مَنْ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ)

“Maha Mengetahui yang gaib maka Dia tidak akan memperlihatkan ilmu gaibnya kepada siapapun, kecuali kepada rasul yang Dia ridhai.” [Al-Jin: 26-27]

Terkadang, Allah memberitakan kabar gaib kepada para rasul karena adanya manfaat dakwah dan sebagai wujud penyempurnaan risalah. Adapun selain para nabi, maka mereka tidak mengetahui ilmu gaib dan Allah juga tidak pernah memberitakan kabar gaib kepada mereka.

(قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ)

“Katakan (wahai Muhammad), Tidak ada yang mengetahui kabar gaib di langit maupun di bumi selain Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” [An-Naml: 65]

Inilah hikmah dari diturunkannya berbagai ujian kepada para hamba.

Ujian tidak hanya diturunkan pada waktu-waktu tertentu, melainkan dia diturunkan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’âlâ,

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ

 Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka.” Inilah sunnah Allah Subhânahu wa Ta’âlâ pada semua makhluk-Nya.

Ujian itu beraneka ragam bentuknya:

  • Ada ujian pada agama.
  • Ujian pada harta.
  • Ujian pada anak keturunan.
  • Dan ada ujian pada ucapan, madzhab, dan perbedaan pendapat. Jadi ujian itu beraneka ragam.

Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menurunkan semua ujian ini kepada para hamba-Nya untuk menolong agama-Nya dan menghinakan semua musuh yang mengintai (baca: menginginkan keburukan pada) agama-Nya.

(الَّذِينَ يَتَرَبَّصُونَ بِكُمْ, فَإِنْ كَانَ لَكُمْ فَتْحٌ مِنْ اللَّهِ قَالُوا أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ وَإِنْ كَانَ لِلْكَافِرِينَ نَصِيبٌ قَالُوا أَلَمْ نَسْتَحْوِذْ عَلَيْكُمْ وَنَمْنَعْكُمْ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً* إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ)

“Orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada diri kalian (hai orang-orang mukmin) –maksudnya, menanti (keburukan menimpa) kalian- Maka jika terjadi bagi kalian kemenangan dari Allah mereka berkata: ‘Bukankah Kami (turut berperang) beserta kalian?’ Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata, ‘Bukankah Kami turut memenangkan kalian, dan membela kalian dari orang-orang mukmin?’ Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.” [An-Nisâ`: 141-142]

Dan betapa banyak orang-orang munafik di setiap waktu dan tempat.

Ujian -dengan berbagai bentuk dan jumlahnya- bisa diklasifikasikan menjadi dua jenis:

Jenis Pertama: Ujian yang berupa syubhat, yang menimpa agama dan akidah seseorang.

Jenis Kedua: Ujian yang berupa syahwat, yang menimpa perilaku, akhlak, kelezatan, keinginan perut dan kemaluan, dan bentuk-bentuk keinginan jiwa lainnya.

Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Alâ dalam surah At-Taubah,

(كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ)

“Sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagiannya.” [At-Taubah: 69]

Yakni: Keinginan syahwat mereka.

(فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ)

“Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kalian telah menikmati bagian kalian sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagiannya.” [At-Taubah: 69]

Kalian menyerupai mereka dalam hal meraih syahwat yang diharamkan, walaupun wujudnya berbeda sesuai dengan agama dan akhlak kalian.

(كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً)

“(Keadaan kalian hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti keadaan orang-orang sebelum kalian, mereka lebih kuat daripada kalian.” [At-Taubah: 69]

Maka perhatikanlah ujian dan cobaan yang menimpa mereka.

(كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالاً وَأَوْلاداً فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ)

“Mereka lebih kuat daripada kalian, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka.” [At-Taubah: 69]

Yakni: Andil mereka dalam semua urusan ini. Mereka meninggalkan agama mereka dan menuju kepada keinginan kemaluan dan perut mereka, ambisi kepemimpinan mereka, dan apa saja yang mereka inginkan.

(فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلاقِهِمْ)

“Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya.”

Keduanya serupa.

Kemudian Allah berfirman,

(وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا)

“Dan kalian mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya.” [At-Taubah: 69]

Ini adalah ujian yang berupa syubhat, yakni perbincangan batil mengenai urusan agama, munculnya banyak pendapat yang bertentangan dengan agama, dan munculnya berbagai sekte yang menyelisihi kebenaran. Ini semua termasuk ujian dalam agama, ujian yang berupa syubhat. Di antaranya adalah munculnya berbagai sekte dalam Islam, seperti sekte Qadariyah, sekte Jahmiyah, dan sekte Syi’ah. Dan masih banyak lagi fitnah dalam agama, yang semuanya bersumber dari fitnah-fitnah di atas. Sekte-sekte ini sebagaimana yang Nabi shallallâhu alaihi wasallam sabdakan,

“سَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّةَ عَلَى ثَلَاثِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً”، قَالُوا: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: “مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي”

“Umat ini akan terpecah belah menjadi 73 sekte, semuanya di dalam neraka kecuali satu.” Mereka bertanya, “Siapakah dia wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa saja yang berada di atas ajaran yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.”

Satu sekte yang selamat ini digelari al-firqah an-nâjiyah (golongan yang selamat), karena mereka selamat dari neraka. Semuanya di dalam neraka kecuali satu, dan golongan itu selamat dari neraka karena mereka senantiasa komitmen dengan ajaran yang dibawa oleh rasulullah shallallâhu alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Mereka teguh dan bersabar di atasnya padahal ada banyak kesulitan dan kesusahan yang senantiasa menghalangi mereka. Akan tetapi mereka tetap bersabar dan kokoh di atas ajaran Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam dan para sahabat beliau, dan mereka tidak menyimpang bersama sekte-sekte yang menyimpang.

Beliau shallallâhu alaihi wasallam juga bersabda kepada para sahabat beliau,

“فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ من بَعْدِي تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ”،

وفي رواية: “وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ”

“Karena sungguh siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Karenanya kalian wajib untuk berkomitmen dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah sepeninggalku. Berpegangteguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham kalian. Waspadalah kalian dari semua amalan baru, karena semua amalan yang baru adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah kesesatan.”

Dan dalam sebuah riwayat, “Dan semua kesesatan berada di dalam neraka.”

Rasulullah tidak akan meninggalkan sesuatu kecuai beliau telah menerangkan dan menjelaskannya kepada kita. Di antara contohnya adalah beliau telah menjelaskan bagaimana seharusnya sikap seorang muslim dalam menghadapi semua ujian ini, yaitu dengan cara senantiasa berada di atas ajaran Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam, komitmen dengannya, bersabar di atasnya, dan senantiasa berada di atas sunnah Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam dan para sahabat beliau. Sikap inilah yang menjadi sebab keselamatan dari berbagai ujian. Inilah sikap seorang muslim dalam menghadapi ujian. Dia tidak tertipu dan terbuai oleh fitnah, namun dia tetap kokoh di atas agamanya dan bersabar di atasnya. Dia telah mempunyai suri tauladan pada diri Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam dan para sahabat beliau, terkhusus para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan hidayah. (Bersambung)

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/%2013693]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.