24 Dhu al-Qidah 1438 :: 16 August 2017

Salafy, Hakekat dan Karakteristiknya (1)

Diposting : 13 Rabiul Akhir 1436 H / View : 4269x Tags:

Salafy, Hakekat dan Karakteristiknya_1

الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين. أما بعد:

Sesungguhnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan bahwasanya kelak akan terjadi perpecahan di tengah umat ini sebagaimana yang telah terjadi pada umat terdahulu. Dan beliau juga telah memberikan wasiat kepada Kita (dalam) menghadapi hal tersebut dengan berpegang teguh kepada perkara yang telah dijalani oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan, dan Nashrani berpecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya di neraka kecuali satu.”

Beliau ditanya, “Siapakah mereka yang selamat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,

Setiap orang yang berada di atas perkara yang saya dan para shahabatku pada hari ini berada di atasnya.

Dan dalam riwayat lain, “Dan setiap kesesatan itu di neraka.”

Inilah yang diwasiatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita tatkala terjadi perselisihan dan perpecahan agar komitmen di atas perkara yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya. Karena sudah kepastian yang akan terjadi dan memang telah terjadi, sebagaimana yang telah dikhabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka jalan selamat adalah komitmen di atas perkara yang beliau dan para shahabatnya berada di atasnya, inilah golongan yang selamat dari neraka, dan golongan-golongan yang lainnya itu di neraka.

Dan karena itulah dinamakan dengan Firqatun Nâjiyah (golongan yang selamat) Ahlus Sunnah Wal Jamaah, ini adalah golongan yang memiliki perbedaaan dengan golongan lainnya yaitu dengan mengikuti Al-Qur`an dan Sunnah. Dan segala selainnya itu adalah golongan aliran yang sesat, walaupun disandarkan kepada umat ini namun metodologi dakwahnya menyelisihi metodologi manhaj Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabatnya. Dan ini di antara wujud sempurnanya nasihat beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta kesempurnaan penjelasan beliau kepada manusia, sehingga jalan itu telah jelas –walhamdulillah- dengan mengikuti Al-Qur`an dan Sunnah dan segala yang ada padanya, para salaf umat ini dari kalangan para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga akhir tiga atau empat dari generasi yang memiliki keutamaan. Sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik dari kalian adalah yang hidup di genarasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelah mereka.” Berkata periwayat hadits, “Saya tidak tahu, apakah beliau menyebut setelah generasi beliau dua atau tiga.” Kemudian beliau bersabda, “Akan datang kelak setelah mereka suatu kaum, setelah generasi mereka itu tadi, yang mereka itu suatu kaum yang bersumpah padahal tidaklah diminta untuk bersumpah, mempersaksikan padahal tidak diminta untuk bersaksi. Mereka berkhianat dan tidaklah bisa dipercaya. Dan akan tampak dari mereka itu orang-orang yang gemuk.”

Setelah masa generasi yang utama tadi, terjadilah hal ini. Akan tetapi bagi yang tetap berjalan di atas manhaj yang telah ditempuh oleh generasi utama tersebut walaupun dia berada di akhir hari dunia ini, maka ia akan selamat dari neraka. Dan Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah: 100]

Maka Allah telah menjamin bagi yang mengikuti para muhajirin dan anshar, namun dengan syarat, “… dengan baik …”, yaitu dengan benar-benar kokoh bukan dengan klaim diri semata atau hanya sekadar penyandaran tanpa pengamalan baik karena kebodohan atau atau karena hawa nafsu. Tidaklah setiap yang menyandarkan diri kepada salaf itu telah dikatakan tepat, hingga ia benar-benar mengikuti dengan baik. Inilah syaratnya sebagaimana yang telah Allah jadikan sebagai syarat. Syarat, “dengan baik” ini maksudnya adalah kokoh lagi sempurna. Inilah yang dituntut dari pengikutan itu sehingga haruslah dipelajari manhaj salaf, dikenali dan dipegang dengan kokoh.

Adapun bagi mereka yang hanya menyandarkan dirinya saja kepada mereka para shahabat itu, namun tidak mengilmui akan manhaj mereka tidak pula mengilmui metode pemahaman dalam  beragama mereka, ini tidaklah bisa memberikan apa-apa dan tidaklah bisa bermanfaat sedikitpun. Mereka tidaklah bisa dikatakan sebagai salaf, mereka bukanlah dari kalangan pengikut salaf. Karena mereka tidak mengikuti generasi salaf itu dengan baik, sebgaimana yang disyaratkan oleh Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itulah kalian –Alhmadulillah- berada di universitas ini, di negeri ini, di masjid ini. Negeri yang dipelajari di dalamnya manhaj salafush shalih sehingga Kita bisa mengikuti mereka dengan baik bukan hanya sebatas pengakuan dan penamaan saja. Betapa banyak orang-orang yang mengaku dakwahnya dakwah salafiyyah dan dirinya di atas manhaj salaf padahal dirinya berada di atas perkara yang menyelisihi hal tersebut, karena kebodohannya terhadap manhaj salaf atau dikarenakan hawa nafsunya. Dia tahu akan tetapi dia lebih mengikuti hawa nafsunya bukan mengikuti manhaj salaf.

Lebih dari itu, bagi yang berada di atas manhaj salaf maka ia butuh akan dua perkara, sebagaimana yang telah kita sebutkan, yaitu mengilmui manhaj salaf dan yang kedua berpegang teguh atau komitmen dengan manhaj salaf. Dan jika ia telah mengemban semua itu, maka ia akan mendapati para penyimpang. Ia akan mendapatkan gangguan, perkara-perkara yang menyakitkan dan ia akan menjumpai tuduhan-tuduhan sebagaimana yang terjadi dari tuduhan-tuduhan yang jelek. Akan tetapi hendaknya ia bersabar di atas perkara tersebut karena ia  telah mantap berkeyakian di atas hal tersebut, maka janganlah ia tergoyahkan oleh badai angin yang kencang dan jangan pula ia berubah karena adanya fitnah-fitnah, bersabarlah di atas hal tersebut hingga berjumpa dengan Rabb-nya.

Hendaklah ia mempelajari tentang manhaj salaf terlebih dahulu, ia ikuti dengan baik, ia bersabar dengan perlakuan manusia kepadanya. Namun tidak sekadar seperti itu, haruslah baginya untuk menyebarkan manhaj salaf tersebut, harus baginya untuk menyeru manusia kepada Allah, mengajak kepada dakwah salaf, menjelaskan kepada manusia serta menyebarkannya, inilah seorang salafy yang sebenarnya. Adapun jika hanya sekadar mengklaim dakwah salafiyyah, namun tidak mengetahui akan manhaj salaf, atau mengetahuinya namun tidak mengikutinya tapi justru mengikuti kebiasaan manusia atau mengikuti perkara yang hanya sesuai dengan hawa nafsunya, ini bukanlah seorang salafiy walaupun berlabel ‘Salafiy’, atau dirinya tidak bersabar di tengah fitnah-fitnah terjadi, namun lembek dan terlalu bertoleransi dalam agamanya terhadap manhaj salaf, maka yang seperti ini bukanlah manhaj salaf. Bukanlah yang menjadi ukuran itu penamaan dan label saja, akan tetapi (yang menjadi) ukuran adalah hakikatnya. Inilah yang kita butuhkan, yaitu mencurahkan perhatian yang besar untuk mengenal manhaj salaf dan mempelajari manhaj salaf dalam aqidah, akhlak serta amalan di seluruh sisi akan manhaj salaf. Inilah manhaj yang disebutlkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang orang-orang yang berada di atasnya hingga akhir kiamat. Beliau bersabda, “Akan senantiasa ada di tengah umatku suatu golongan –inilah para pengikut salaf- yang mereka senantiasa berada di atas kebenaran, yang mereka akan senantiasa tampak, dan tidaklah akan membahayakan mereka setiap yang menghina mereka dan setiap yang menyelisihi mereka. Demikianlah keadaan mereka hingga datang keputusan Allah Tabâraka wa Ta’âlâ.

Dalam hadits ini disebutkan, “… dan tidaklah akan membahayakan mereka setiap yang menghina mereka dan setiap yang menyelisihi mereka… ” Ini menunjukkan bahwasanya aka ada yang menyelisihi mereka, akan ada yang akan menghina mereka. Akan tetapi tidaklah menggoyahkan mereka hal tersebut, bahkan mereka menjadikan itu semua (gangguan dan celaan; penj.) sebagai jalan menuju Allah Azza wa Jalla dan bersabar terhadap ujian dari-Nya. Sebagaiman nasihat Luqman Al-Hakim tatkala memberi wasiat kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan perintahlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. [Luqmân: 17-18]

Inilah manhaj salaf, inilah karakteristik dan ciri mereka. Allah Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa. [Al-An’âm: 153]

Allah berfirman,

“… adalah jalan-Ku…”,

Disandarkan kepada diri-Nya, penyandaran keagungan dan kemuliaan terhadap diri-Nya dan untuk yang berada di atas jalan-Nya.

Dan pada firman-Nya,

“…adalah jalan-Ku yang lurus”,

Maksudnya: pertengahan lagi lurus.

“…Maka ikutilah Dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain)…”

Ini menunjukkan bahwa di sana ada jalan-jalan yang banyak lagi tak terbatas.

“…dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian…”

Inilah manhaj-manhaj yang menyelisihi manhaj salaf, “…dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kalian bertakwa.”

Pertama kali dikatakan, “…maka ikutilah…”, kemudian setelah itu, “… Yang demikian itu diperintahkan kepada kalian…”  Ini adalah penekanan, “… yang demikian itu diperintahkan kepada kalian agar kalian bertakwa.” Agar kalian bertakwa dan takut kepada Allah, takut terhadap kesesatan, takut terhadap syubhat, takut terhadap segala perkara yang bisa menghalangi kalian dari jalan yang lurus ini. Ini semua menunjukkan akan ada banyak penghalang.

Dan perhatikan dalam ayat, bagaimana Allah menyebut dengan satu dari sekian banyak jalan-jalan yang ada. Jalan Allah itu satu tidaklah terbagi-bagi dan tidaklah berbilang serta tidak pula bengkok dan berbeda-beda. Adapun jalan-jalan selainnya itu, sangatlah banyak tak terhingga. Semua membuat dan menciptakan jalan pintas untuk dirinya. Semuanya menciptakan manhaj dan metode yang mudah untuknya dan untuk para pengikutnya dengan jalan dan metode yang sangat banyak. Allah berfirman, “…dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain)…”, dan jika kalian ikuti jalan-jalan tersebut, apakah yang akan terjadi? “…itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya…”, akan mengeluarkan kalian dari jalan Allah Azza wa Jalla, kalian akan jatuh ke dalam kesesatan, kebinasaan serta kehancuran dan tidak ada keselamatan, kebaikan serta keberuntungan kecuali dengan komitmen di atas jalan yang lurus, yaitu jalan Allah Jalla wa ‘Alâ, dan selainnya itu merupakan jalan-jalan syaithan yang di setiap tepi jalan tersebut, ada syaithan yang mengajak manusia kepadanya.

Maka, waspadalah terhadap perkara ini. Janganlah terperdaya dengan banyaknya orang-orang yang menyelisihi, jangan toleh syubhat-syubhat, hinaan, serta celaan mereka kepada kita, tidak usah diperdulikan. Bahkan kita tetap berjalan menuju Allah di atas ilmu. Dan Allah telah memerintahkan kita di setiap raka’at pada shalat kita untuk membaca surat Al-Fatihah, yang di akhir surah,

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ)

Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus.

Jalan lurus itulah jalan Allah Azza wa Jalla, yang disebutkan dalam ayat tadi, “…adalah jalan-Ku yang lurus”.

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ)

“Berilah kami petunjuk kepada jalan…”

Maksudnya, tunjukilah kami dan bimbinglah kami serta kokohkanlah kami kepada jalan yagn lurus.

(صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ)

Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat mereka.

Siapakah mereka yang berjalan di atasnya?

الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu par Nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisâ`: 69]

Itulah mereka teman, serta bagimu di atas jalan yang engkau tempuh ini.

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” [An-Nisâ`: 69]

Maka, janganlah engkau berkecil hati di atas jalan ini, karena yang menemanimu adalah orang-orang yang terpilih dari makhluk yang ada. Janganlah berkecil hati walaupun ada banyak jalan-jalan lainnya serta banyak pula yang menyelisihinya. Janganlah engkau menoleh kepadanya, sebab engkau yakin terhadap perkara yang engkau berpijak di atasnya yaitu jalan Allah Azza wa Jalla.

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fâtihah: 7]

Maksudnya, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan bukanlah pula jalannya orang-orang yang tersesat. Orang-orang yang dimurkai dalam ayat ini adalah mereka yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya, seperti kalangan Yahudi yang mereka itu berilmu akan tetapi mereka tidak mengamalkannya. Dan ilmu itu jika tidak diamalkan maka akan menjadi hujjah yang akan menghujat pemiliknya pada hari kiamat kelak.

والعلم إن كان أقوالا بلا عمل     فإن صاحبه بالجهل منغمِرُ

Dan ilmu itu, jika hanya ucapan semata tanpa amal       

Maka pemiliknya dengan kebodohan ia terhanyut

Maka harus disertai dengan amalan. Ilmu tanpa amal itu bagaikan pohon tanpa buah. Apa manfaatnya pohon yang tak berbuah? Karena itulah Allah murka kepada mereka karena mereka berilmu namun tidak mengamalkannya, maka pantaslah mereka mendapatkan kemurkaan dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ serta kebencian dan kemarahan dari-Nya. Walaupun mereka memandang diri sebagai manusia yang mulia, terpandang, berkududukan lagi maju serta bermartabat dan seterusnya. Apa (arti) kemajuaannya jika mereka di atas kesesatan, dimurkai Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ

Bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [Al-Fâtihah: 7]

Bukan jalannya orang-orang yang tersesat yaitu jalannya orang-orang yang beribadah kepada Allah dan mereka beramal. Mereka zuhud akan tetapi tidak di atas ilmu dan petunjuk dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, maka amalan mereka bagaikan debu yang berterbangan tidaklah bermanfaat bagi mereka sedikitpun karena mereka tersesat dari jalan yang lurus. Mereka beramal dengan letih namun tidak bermanfaat, dan di antara mereka itu adalah kaum Nashrani.

Kaum nashrani ada dalam ajaran mereka ibadah kerahiban akan tetapi tanpa ilmu, sehingga mereka tersesat dan keliru. Maka tolak ukurnya bukanlah pada sebatas kesungguhan saja tanpa disesuaikan dengan kebenaran serta jalan yang benar.

Misalnya saja pada pemahaman sufiyyah yang ada di tengah umat Islam. Mereka itu di atas jalan kaum Nashrani, mereka beribadah, zuhud, bersungguh-sungguh, mereka melakukan ‘uzlah (menjauh dari keramaian manusia), namun mereka tidak memiliki ilmu dan juga tidak belajar, justru mereka zuhud (enggan dari ilmu), mereka berkata kepada manusia untuk beramal saja.

Adapun ilmu akan menyibukan kalian dari amalan, dan yang lebih dituntut dari kalian adalah beramal. Mereka menjauhkan manusia dari ilmu, dari duduk bersama di hadapan para ulama untuk mengambil ilmu dari mereka, mereka katakan bahwa para ulama itu adalah orang-orang yang kurang akalnya, menghalangi kalian dari beramal, inilah ajaran mereka. (bersambung)

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/%2014381]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.