2 Safar 1439 :: 22 October 2017

Adab-adab bagi Seorang Penuntut Ilmu (2)

Diposting : 00 Rabiul Akhir 1436 H / View : 2818x Tags:

Adab-adab bagi Seorang Penuntut IlmuDan di antara adab bagi seorang penuntut ilmu adalah tidak terburu-buru, lalu mengatakan bahwa, “Saya menempuh jalan pintas dan saya telah mencapai puncak keilmuan dalam waktu yang singkat.” Tidaklah demikian. Memang ia telah mendapatkan ringkasan saja dari ilmu itu sebagaimana yang ia meringkasnya. Kata seorang penya’ir:

دخلت فيها جاهلا متواضعا –يعني الجامعة-    وخرجت منها جاهلا مغرورا

Aku masuk (maksudnya, ke Universitas) dalam keadaan bodoh,

Dan ternyata aku keluar darinya juga dalam keadaan bodoh lagi terperdaya

Karena ia mengambil ilmu hanya dalam waktu yang singkat saja, padahal ilmu tidak akan bisa seperti itu. Harus baginya untuk mengambil ilmu itu sedikit demi sedikit, dan yang seperti itu memang sangat membutuhkan kesabaran, butuh untuk mengatur dan menjaga waktu, ia bebaskan gunakan waktunya (untuk belajar; penj.) kecuali waktu untuk istirahat, makan dan waktu untuk menunaikan kewajiban-kewajiban dari shalat fardhu, dan sisanya ia gunakan untuk menuntut ilmu, siang dan malam. Di waktu-waktu selain waktu makan dan istirahatnya serta tidurnya, ia gunakan untuk menuntut ilmu, bukan ia habiskan di jalan-jalan dan di tempat-tempat hiburan bersama dengan teman-temannya atau untuk bertamasya, tidaklah demikian. Tapi ia gunakan untuk menuntut ilmu. Di antara yang paling berharga bagi seorang penuntut ilmu adalah dengan ia menggunakan waktunya untuk menuntut ilmu, itulah yang akan menenangkan dan memberikan kelezatan, yang lebih baik daripada ia bertamasya atau ke tempat-tempat hiburan, bahkan lebih baik dari segalanya. Ia berada di surga apabila ia berada dalam kondisi menuntut ilmu. Demikianlah sekiranya ia senantiasa menjaga waktunya, serta menjaga dirinya dari hal-hal yang banyak tersebar di saat ini dari permainan-permaian atau hiburan-hiburan yang melalaikan dan juga dari internet, dari situs-situs yang saya sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Akan tetapi, hendaknya menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, senantiasa bersama dengan ilmu bukan selainnya, seperti yang dikatakan, “Ilmu itu jikalau engkau curahkan seluruhnya untuknya, maka ia akan beri sebagian saja darinya untukmu.”

Jika engkau mencurahkan segalanya untuk mendapatkan ilmu, maka ilmu itu hanya akan memberimu sebagian saja darinya. Adapun jika engkau mencampuradukkan ini dengan itu, pergi ke pasar-pasar, yang seperti ini akan menelantarkan dirimu sendiri dan engkau tidak akan mendapatkan ilmu sama sekali. Akan hilang ilmu darimu dan tidak akan pula berkembang ilmu pada dirimu. Demikianlah hendaknya adab bagi seorang penuntut ilmu.

Ilmu itu senantiasa dibutuhkan dan tidaklah bisa dianggap bisa diraih seluruhnya, “Ada dua hal yang tidak akan pernah kenyang, seorang penuntu ilmu dan seorang pengejar dunia.”

Maka janganlah engkau anggap dirimu telah mencapai puncak, akan tetapi anggaplah dirimu selalu berada di awal jalan menuntut ilmu.

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا

“Dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.” [Al-Isra`: 85]

Dan Allah Jalla wa ‘Ala berfirman kepada Nabi-Nya, mengajarkan kepada Nabi-Nya.

وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ

“Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” [An-Nisâ`: 113]

وَلا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur`an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu. Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’” [Thâhâ: 114]

Dan Nabi Musa alaihis salâm, sebagai Nabi yang digelari ‘Kalimullah’ (diajak bicara oleh Allah), ketika diberitakan kepadanya bahwa ada seseorang di bumi ini yang memiliki ilmu yang tidak dimiliki oleh Nabi Musa, maka beliau pun pergi mendatanginya.

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُباً

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’” [Al-Kahfi: 60]

Bertahun-tahun menempuh perjalanan hingga berjumpa dengan hamba Allah yang shalih tersebut, lalu terjadilah peristiwa sebagaimana yang Allah terangkan di dalam Al-Qur`an.

Maka, jika sang Kalimullah saja menempuh perjalanan untuk mencari ilmu hingga beliau tenang mendapatkan ilmu yang tadinya tidak dimiliki oleh nabi Musa, lalu bagaimana sekiranya ada seorang yang menganggap dirinya tidaklah membutuhkan ilmu, saya tidaklah membutuhkan ilmu, saya telah mendapatkan ilmu itu hingga puncaknya, saya kan telah telah memiliki rekomendasi doctoral, rekomendasi yang tinggi yang tidak ada lagi lebih tinggi darinya. Padahal banyak perkara lainya setelah itu. Rekomendasi yang tinggi itu memiliki kunci-kunci, jika benar adanya rekomendasi tersebut setelah adanya idzin, maka itu akan menjadi kunci-kunci bagi para penuntut ilmu. Maka janganlah seorang penuntut ilmu merasa bangga dengan dirinya dan merasa ilmunya telah banyak, padahal ia selalu membutuhkan ilmu selama-lamaya.

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْماً

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”

Dan termasuk dari adab bagi seorang penuntut ilmu adalah bersifat tawadhu’ (rendah hati).

Semakin bertambah ilmunya semakin bertambah pula tawadhu’nya sebagai bentuk rasa takutnya kepada Allah Jalla wa ‘Alâ.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” [Fâthir: 28]

Tidaklah ia bersifat takabbur dan sombong, tetapi jika bertambah ilmunya bertambah pula tawadhu’nya, rasa takutnya kepada Allah Azza wa Jalla, tawadhu’ terhadap orang lain. Demikian kiranya hendaknya bagi seorang penuntut ilmu itu.

Dan perkara yang paling penting dari itu semua adalah beramal, mengamalkan ilmu. Sebab ilmu itu adalah wasilah untuk beramal, bukanlah sekadar ilmu itu yang menjadi tujuan, akan tetapi ia adalah wasilah. Maka mengamalkan ilmu itu adalah buah dan ilmu yang tidak diamalkan bagaikan sebuah pohon yang tidak berbuah bahkan ia kelak akan menjadi hujjah, petaka bagi pemiliknya sendiri pada hari kiamat. Ia mengemban ilmu namun ia tidak mengambil manfaat darinya.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa Kitab-Kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim. [Al-Jumu’ah: 5]

Seperti inilah yang terjadi pada kaum Yahudi, yang mereka itu telah dimurkai. Mereka mengemban ilmu namun tidak mengamalkannya, dan sebagaimana sebuah amalan tanpa ilmu itu tidaklah benar, haruslah dengan ilmu dan amal. Amalan tanpa ilmu itu adalah kesesatan, karena itulah pada akhir surah Al-Fatihah yang senantiasa kita baca di setiap raka’at dari shalat kita. Allah Jalla wa ‘Alâ berfirman,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka.”

Siapa mereka itu? Mereka adalah yang telah mengumpulkan ilmu yang bermanfaat dengan amalan yang shalih. Mereka inilah yang Allah telah beri kenikmatan, mereka itu dari kalangan para Nabi, shiddâqân, syuhada’ dan shalihin, merekalah sebaik-baik teman dekat.

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ

“Bukan (jalan) mereka yang dimurkai.”

Siapakah mereka?!

Mereka adalah orang-orang yang mengemban ilmu lalu mereka tidak beramal. Itulah orang-orang Yahudi dan bukanlah ini khusus bagi orang Yahudi saja, bahkan semua orang yang demikian sifatnya, yang tidak mengamalkan ilmunya itulah,

“…mereka yang dimurkai.”

Karena mereka melakukan pelanggaran kepada Allah dengan ilmunya, maka ini lebih parah daripada orang yang bodoh yang melakukan pelanggaran kepada Allah dalam keadaan jahil. Karena itulah bagi mereka kemurkaan dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

وَلا الضَّالِّينَ

“Dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

Mereka ini adalah yang tidak memiliki ilmu, namun beribadah kepada Allah di atas kejahilan, seperti para pelaku kebid’ahan dan kesesatan dari kalangan nashrani dan selain mereka yang beribadah kepada Allah dengan kebodohan dan kebid’ahan.

 وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا

“Dan mereka mengada-adakan rahbâniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya).” [Al-Hadîd: 27]

Mereka itulah yang tersesat dan menyimpang jalannya, mereka berjalan tidak di atas jalan yang benar.

Maka wajib bagi seorang penuntut ilmu agar mengamalkan ilmu yang Allah telah beri padanya, dan juga wajib baginya untuk menyeru kepada Allah dan menyeru kepada ilmu yang ada padanya, menyebarkannya kepada manusia, tidak menyembunyikan dan mendiamkan saja.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلْنَا مِنْ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُوْلَئِكَ يَلْعَنُهُمْ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمْ اللاَّعِنُونَ* إِلاَّ الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُوْلَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah bertaubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 159-160]

Sehingga, janganlah ia menyembunyikan ilmu di dalam dadanya saja lalu ia diamkan, namun ia sebarkan ke tengah manusia. Ilmu itu bukanlah hanya milikmu, namun ilmu itu untukmu dan untuk selainmu. Kamu hanyalah mengembannya untuk menyampaikannya kepada selainmu, maka janganlah menyembunyikannya dan kamu diamkan serta meninggalkan manusia dalam kesesatannya dan kebodohannya. Ini adalah perbuatan yang haram atas dirimu.

Oleh karena itulah dalam surat Al-Ashr, Allah Jalla wa ‘Alâ telah berfirman.

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr: 1-3]

Setiap manusia itu dalam kerugian, baik ia raja atau jelata, orang kaya atau fakir, pria atau wanita, orang arab atau selainnya, mereka semua dalam keadaan merugi kecuali orang-orang yagn bersifat dengan empat sifat.

“… orang-orang yang beriman…”

Ini sifat yang pertama, dan iman itu tidaklah didapatkan kecuali dengan ilmu yang bermanfaat.

Yang kedua,

“…mengerjakan amal shalih…”

Karena ilmu itu tidaklah bermanfaat tanpa amalan.

Sifat yang ketiga,

“…dan saling menasehati supaya menaati kebenaran…”

Tidak dengan menyembunyikan kebenaran, namun ia berwasiat dengannya dan menyebarkannya kepada manusia serta mengajak orang lain padanya.

Sifat yang keempat,

“…dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Bersabar dengan adanya gangguan di jalannya, sebab orang yang berdakwah kepada manusia untuk memerintahkan mereka dan melarang mereka akan menghadapi gangguan dari mereka dan juga kesulitan, sehingga ia hadapi dengan bersabar. Dan juga dari bentuk kesabaran adalah kesabaran dengan terus-menerus atau konsisten beramal dan tidak berhenti di awal jalan dan enggan bersabar karena letih, tidaklah demikian. Engkau bersabar dengan keletihan tersebut dan engkau bersabar menghadapi manusia, bersabar dengan segala yang menimpamu.

Inilah, perkara yang sangat penting bagi seorang penuntut ilmu dalam kehidupan ini. Dan kalian walhamdulillah datang untuk mengemban tanggung jawab ini. Kiranya persiapkanlah diri kalian untuk mengembannya, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta bersabarlah dan lanjutkanlah terus menuntut ilmu di lembaga pendidikan yang tinggi dan di tempat selainnya, di seluruh masa hidupmu wahai insan, menjadi seorang penuntut ilmu hingga ke liang lahad dalam keadaan menuntut ilmu. Karena ilmu itu tidaklah ada ujungnya, dan setiap orang yang bertambah keilmuannya akan bertambah pula kebahagiaan dan kebaikannya.

Kita memohon kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ agar memberi Kita taufik kepada ilmu yang bermanfaat serta amalan shalih.

Ya Allah, berilah Kami ilmu yang bisa bermanfaat bagi Kami dan jauhkanlah Kami dari segala perkara yang bisa membahayakan Kami, dan terimalah taubat dari Kami terhadap kekurangan dan kelalaian Kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha penerima Taubat lagi Maha penyanyang.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين.

 

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/%2014406]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.