24 Dhu al-Qidah 1438 :: 16 August 2017

Adab-adab bagi Seorang Penuntut Ilmu (1)

Diposting : 29 Rabiul Awal 1436 H / View : 3695x Tags:

الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وأصحابهAdab-adab bagi Seorang Penuntut Ilmu أجمعين أما بعد:

Sungguh, saya sangat bergembira dengan adanya pertemuan ini yang mudah-mudahan berberkah bersama dengan saudara-saudara saya di lembaga pendidikan ini, para jajaran pimpinan lembaga pendidikan ini, para pengajar serta para pelajar. Saya memohon kepada Allah untuk Saya dan untuk semua kaum muslimin agar diberi taufik untuk berjalan di atas jalan yang benar yang mengantarkan kepada-Nya, dalam ilmu, amalan dan pengajaran serta dalam memberikan contoh.

Kemudian setelah itu,

Saya katakan bahwa lembaga pendidikan ini –segala puji bagi Allah- sejak berdirinya pada setiap tahunnya menghasilkan buah.

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا

“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya.” [Ibrahim: 25]

Dan hal ini telah terwujud lembaga pendidikan ini –alhamdulillah-, dan juga saya lihat untuk saat ini hasilnya lebih banyak, dan juga lebih banyak persiapannya, hal ini menunjukkan kabar baik. Dan tidaklah diragukan bahwasanya universitas yang berberkah ini dengan sekian jurusannya, semuanya baik dan berkah bagi negeri ini dan dunia Islam. Ini semua adalah nikmat dari Allah terhadap para hamba-Nya dan bentuk penjagaan syari’at yang suci ini, sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Alâ,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [Al-Hijr: 9]

Maka, universitas ini dengan berbagai jurusannya adalah benteng yang kokoh dengan idzin Allah untuk agama ini, dan lembaga pendidikan ini telah berupaya, pengorbanan dan juga telah menghasilkan.

Dan tema pembahasan kita adalah ‘Adab Penuntut Ilmu’.

Tidak diragukan bahwa menuntut ilmu adalah pondasi untuk bisa berkata dan beramal,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. [Muhammad: 19]

Maka, di ayat ini dimulai dengan perintah untuk berilmu sebelum berucap dan beramal, sebagaimana ucapan Iman Bukhari rahimahullâh dalam shahihnya. Dan keutamaan menuntut ilmu juga dijelaskan sangat banyak dalam Al-Qur`an dan Sunnah serta dalil-dalil darinya sebagaimana yang telah kalian dengarkan dari yang terhormat Kepala Lembaga Pendidikan tadi. Di antara firman Allah Subhânahu wa Ta’âlâ,

 وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” [At-Taubah: 122]

Tidaklah semua orang mudah baginya untuk menuntut ilmu, akan tetapi dari setiap golongan, suku dan dari setiap negeri serta dari setiap keluarga ada sebagian dari mereka, dan sebagian di sini bisa bermakna sedikit dan banyak dari sesuatu, yang mereka itu,

لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ

“… memperdalam pengetahuan mereka tentang agama…”

Inilah yang diinginkan dengan menuntut ilmu, bukan hanya sekadar menghapal saja, menghapal itu adalah wasilah saja, namun (yang diinginkan adalah) memperdalam pengetahuan agama. Betapa banyak orang yang memiliki ilmu namun tidak memahaminya, sehingga yang menjadi tujuan adalah memperdalam pemahaman dalam agama Allah Azza wa Jalla,

لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ

“… untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama….”

Kemudian setelah memperdalam ilmu agama, ia kembali kepada kaumnya, negerinya dan sukunya serta keluarganya, dan memberi peringatan kepada mereka dengan mengajar mereka dan menyebarkan ilmu kepada mereka, dengan beginilah tersebarnya Islam di timur dan barat, dengan jalan yang mudah dan ringkas yang di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak,

وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا

“…untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya….”

Yang penting bagimu adalah dengan memulai dari kaummu.

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” [Asy-Syu’arâ`: 214]

Dimulai dari mereka, kemudian melebar kebaikan itu dari mereka kepada selainnya, demikian seterusnya.

وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“…dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Dan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu dengannya, maka Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju syurga.”

Langkah demi langkah ia tempuh dalam menuntut ilmu, akan mudah baginya jalan tersebut ke surga bagi seorang penuntut ilmu. Dan bukanlah seorang penuntut ilmu itu hanya dengan membaca kita/buku, namun tidak membaca Al-Qur`an, bukan pula hanya dengan duduk di rumahnya dan hanya membaca, tidaklah demikian. Haruslah ia menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu, haruslah baginya untuk duduk bersama para ulama, haruslah baginya mendatangi tempat-tempat belajar, dan yang seperti ini tentunya membutuhkan perjuangan dan kesabaran serta menanggung berbagai kesulitan. Maka seorang penuntut ilmu haruslah ada perjuangan, mengorbankan waktu santainya untuk mengumpulkan segala ilmu yang ia pelajari.

نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ

“…dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang…”

Jalan ini adalah jalan yang ditempuh untuk mencari ilmu, inilah tujuannya, yaitu mencari ilmu dengan menjumpai ahlinya. Ilmu itu didapatkan dengan berhadapan langsung dengan ahlinya dan juga dengan menulis, mendapatkan ilmu itu bukanlah hanya dengan menghadap kitab tetapi juga menjumpai para ulama,

“…untuk mencari ilmu dengannya, maka Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju surga.”

Akan mudah baginya jalan menuju surga, apabila benar niatnya maka ia akan berjalan menuju surga. Tidaklah ia berambisi kepada perkara lainnya, namun ia pergi menuju surga, bila adanya perkara lain dari perkara-perkara duniawi maka itu hanyalah perkara yang bisa membantunya yang Allah Azza wa Jalla berikan untuknya. Akan tetapi bukanlah perkara duniawi tersebut yang menjadi ambisi niat utamanya, hanya saja untuk membantunya dalam menuntut ilmu.

Adapun adab-adab dalam menuntut ilmu:

Yang pertama dan pondasinya adalah niat.

Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya, dan bagi setiap orang itu akan mendapatkan balasan berdasarkan niatnya. Barangsiapa yang berniat dengan hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk duniawi dan isinya atau untuk wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya berdasarkan tujuan hijrahnya tersebut.”

Allah akan memperlakukannya berdasarkan niatnya. Tidaklah ada yang tersembunyi dari-Nya sedikitpun, bahkan segala yang ada di dalam hati, Ia mengetahui niat-niat dan tujuan, maka Ia akan memperlakukan setiap orang berdasarkan niatnya. Dan hal ini lebih ditekankan untuk diperhatikan bagi seorang penuntu ilmu agar ia mengikhaskan niatnya hanya karena Allah, menuntut ilmu karena Allah, bukan karena selainnya. Jika ia menuntut ilmu karena Allah, maka Allah akan memudahkannya serta akan membantunya dan juga akan memberi taufik kepadanya,

“…dan bagi setiap orang itu akan mendapatkan balasan berdasarkan niatnya…”

Maka hendaknya ia mengiklashkan niatnya hanya karena Allah Azza wa Jalla agar ia teranggap beribadah dalam menuntuk ilmu itu, ia teranggap beribadah dengan ia keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu hingga ia kembali. Dan menuntut ilmu itu lebih utama dari amal ibadah yang bersifat sunnah, lebih utama dari shalat malam, puasa di siang hari, karena manfaat yang lahir darinya bersifat menyeluruh mengenai orang lain. Adapun amalan ibadah tersebut kemanfaatannya hanya terbatas didapatkan oleh orang yang mengamalkannya saja tidak didapatkan oleh orang selainnya. Sehingga menuntut ilmu itu lebih utama daripada amal ibadah yang bersifat sunnah. Kedudukan menuntut ilmu itu di bawah kedudukan jihad di jalan Allah, bahkan menuntut ilmu itu bisa masuk ke dalam salah satu (dari) jenis-jenis jihad di jalan Allah. Dan jihad di jalan Allah itu terwujud berdasarkan ilmu, haruslah dengan ilmu.

Sehingga, haruslah ia berniat dengan ikhlas karena Allah Azza wa Jalla, inilah yang pertama kali.

Yang kedua, selayaknya bagi seorang penuntut ilmu menempuh jalan dengan bertahap dalam proses ia belajar, tidak dengan sekaligus atau tidak dengan mendahulukan hal-hal yang bersifat cabang bukan pokok agama.

Selayaknya ia belajar dari permulaannya dan dari perkara-perkara pokok, dasar agama pada bab-bab pembahasannya, sehingga ia pun menempuh jalan dengan bertahap sedikit demi sedikit. Adapun bagi yang mendahulukan perkara cabang dari pembahasan ilmu, dari sebuah kitab dengan pembahasan dan pendapat yang terlalu bertele-tele, lalu ia membacanya kemudian ia berkata, “Inilah, saya sedang menuntut ilmu”, padahal ini adalah perbuatan menelantarkan dirinya, bukanlah menuntut ilmu yang seperti itu. Tapi metode yang mencerai-beraikan pikiran. Haruslah ia menempuh metode dalam belajar dengan huruf alif, ba`, … dan seterusnya.

Menuntut ilmu, dari awal langkahnya ia tempuh dengan bertahap, dengan melewati tingkatan-tingkatan ilmu yang dipelajari. Karena itulah di setiap universitas, di manapun juga itu terdiri dari beberapa tingkatan dan jenjang pendidikan. Karena ilmu itu tidaklah diambil dengan sekaligus. Wajib bagi penuntut ilmu untuk bertahap dalam proses ia belajar, dan bagi pengajar juga memberikan ilmunya dengan bertahap, juga dengan sedikit demi sedikit. Oleh karena inilah para ulama menulis berbagai matan-matan (ringkasan) untuk para penuntut ilmu, memulai dengannya di hadapan guru-gurunya:.

وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“Hendaklah kalian menjadi orang-orang rabbani, karena kalian selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kalian tetap mempelajarinya.” [Âli Imrân: 79]

Rabbaniyyûn adalah orang-orang yang mentarbiyah (mendidik) para penuntut ilmu dengan cara bertahap, sedikit demi sedikit. Para uIama tafsir menjelaskan bahwa Ar-Rabbaniy itu adalah seorang yang mendidik dengan memulai dari ilmu yang ringan sebelum ilmu yang beratnya, mendidik para penuntut ilmu dari pembahasan yang ringan sebelum pembahasan yang beratnya, hingga ia berjalan dengan bertahap sedikit demi sedikit. Dan ilmu itu antara satu dengan yang lainnya saling menguatkan, sebagaimana sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu bagian dengan bagian lainnya, tegak di atas pondasi lalu berdiri bagian lainnya di atas pondasi tadi, sedikit demi sedikit hingga menjadi tegak bangunan-bangunan yang sangat banyak. Demikian kiranya metode yang ditempuh oleh penuntut ilmu, dengan menempuh tahapan sedikit demi sedikit.

Sehingga wajib bagi penuntut ilmu untuk bertahap dalam belajar, dan dalam proses bertahap tersebut membutuhkan kesabaran. Ada sebagian orang yang menjadi seorang yang ahli ilmu dalam waktu satu hari atau dalam hanya satu bulan atau setahun, ilmu itu bagaikan membajak ladang dan dasar dari puncaknya itu apabila engkau mencurahkan seluruh usiamu untuk mendapatkannya tidak akan bisa meraihnya.

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا

“Dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.” [Al-Isrâ`: 85]

Maka, butuh akan kesabaran dan menanggung penderitaan serta tidak terburu-buru. Dan orang yang memiliki kesabaran itu tidak akan bercahaya. Sehingga, butuh kesabaran dalam menuntut ilmu, yang kesabaran itu juga dibutuhkan dalam waktu yang panjang yang senantiasa menyertai dalam proses menuntut ilmu. (Bersambung)

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/%2014406]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.