24 Dhu al-Qidah 1438 :: 16 August 2017

Wajib Menjaga Al-Qur’an dari Tambahan Penerbit

Diposting : 19 Rabiul Akhir 1436 H / View : 2723x Tags:

mushaf madinah 1Para ulama salaf dahulu, mereka senantiasa menjaga keutuhan mushaf (Al-Qur’an) yang mulia dari segala penulisan apapun selain Al-Qur`an Al-Karim, dalam rangka meneladani Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Beliau melarang dari menulis hadits-hadits dari sabda beliau yang mulia pada saat itu karena khawatir akan terjadi percampuran dengan Al-Qur`an Al-Karim. Dan sungguh demikian juga yang ditempuh para ulama salafush shalih, mereka menjaga keutuhan mushaf dari segala selain Al-Qur`an dalam rangka penjagaan terhadapnya dari penambahan dan pengurangan serta dari pencampuradukan ucapan-ucapan manusia dengan kalam Allah Azza wa Jalla. Oleh karena itu, berdirilah komite ilmiyyah yang dipercaya untuk mencetak mushaf dan menerbitkannya dengan sebaik-baik cetakan dan juga dengan ilustrasi penulisan yang terbaik, berdasarkan firman Allah Ta’âlâ,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [Al-Hijr: 9]

Namun di masa belakangan ini telah terjadi adanya sebagian ijtihâdât (pembaharuan) dan masukan-masukan dalam cetakan sebagian mushaf serta adanya sikap bermudah-mudahan dari beberapa sisi perbuatan tanpa ada kejelian berpikir. Dan telah tersebar mushaf-mushaf seperti ini, yang terdapat padanya hasil pekerjaan mereka itu di beberapa toko-toko buku. Di antara perubahan tersebut:

    1. Perubahan tanda baca panjang (mad) di sebagian huruf. Sebagian diberi tanda hitam dan sebagian dengan warna merah sebagai tanda untuk menunjukkan hukum-hukum tajwid dan anggapan mereka bahwa tajwid itu hukum khusus yang ditulis tersendiri dan tidak dimasukkan dalam cetakan mushaf.
    2. Sebagian mereka menjadikan dengan warna-warna khusus dalam sebagian mushaf tersebut, untuk ayat-ayat yang berisi ancaman diberi warna khusus, dan untuk ayat yang berisi janji-janji dengan warna khusus pula. Ayat yang menyebutkan tentang surga dengan warna khusus, ayat yang menyebutkan tentang neraka maka diberi warna khusus pula di lembaran-lembaran mushaf tersebut. Demikian juga pada nama-nama Allah serta sifat-Nya diberi dengan warna tersendiri. Demikianlah warna-warni di lembaran-lembaran mushaf tersebut sesuai dengan konteks ayatnya secara khusus (yang biasa ditemukan) di sebagain mushaf cetakan Suriah. Ini adalah perbuatan para pelaku bid’ah.
    3. Adanya di akhir lembaran mushaf penyebutannya nama-nama Allah.
    4. Adanya di akhir lembaran sebagian mushaf itu yang disebut dengan ‘Doa Khatam Al-Qur`an’ yang membuat masyarakat umum mengira itu bagian dari Al-Qur`an sehingga harus juga dibaca. Dan terdapat beberapa konteks kalimat yang bid’ah seperti, “Ya Allah berilah kami rezeki dengan huruf alif ini berupa demikian dan demikian…”, “… dengan huruf ya’ berupa demikian dan demikian…”, “dan berilah kami rezeki dengan seluruh huruf Al-Qur`an ini berupa demikian dan demikian…
    5. Adanya catatan kaki di beberapa cetakan mushaf, tafsir-tafsir dari ayat dengan ringkas untuk beberapa lafazh ayat Al-Qur`an Al-Karim, dan bahkan pada sebagiannya ada ta`wil yang tidak benar lagi batil terhadap nama Allah dan sifat-Nya, padahal ada buku-buku penjelasan untuk nama-nama tersebut yang bisa menjadi rujukan.
    6. Demikian juga didapatkan pada sebagian mushaf, di awal surat Al-Fâtihah tulisan, يا الله (Ya Allah), dan di awal surat Al-Baqarah, يا محمد (Ya Muhammad) ini adalah kalimat seruan dalam doa yang ditujukan kepada selain Allah.
    7. Demikian juga didapatkan pada sebagian mushaf adanya penafsiran-penafsiran beberapa ayat di antara baris-baris secara khusus di sebagian cetakan dari India.

Ini semua adalah tambahan-tambahan yang harus dicegah dan tidak boleh bermudah-mudahan dalam menetapkannya. Dan juga dilarang untuk menggunakan semua mushaf yang mengandung salah satu penambahan tersebut sebagai bentuk penjagaan terhadap kitabullah dari penambahan-penambahan dan dari keinginan para penerbit, supaya perkara ini tidak menjadi semakin melebar hingga semakin parah dari penambahan-penambahan orang-orang yang jahil yang hanya didasari ambisi ekonomi semata. Walaupun dimaklumi bahwa tidaklah ada larangan bagi seseorang melakukan seperti itu untuk mushafnya sendiri secara khusus yang ia simpan untuk dirinya sendiri apabila dirinya adalah seorang yang berilmu/ulama, namun tidaklah dibolehkan perbuatan seperti itu untuk mushaf-mushaf yang tersebar di tengah manusia.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Ditulis oleh:

Shalih bin Fauzan Al Fauzan
Anggota Lembaga Ulama Besar
8 – 8 – 1432 H

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/13401]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.