1 Rabi II 1439 :: 19 December 2017

Takdir diatas Segalanya

Diposting : 24 Rabiul Akhir 1436 H / View : 2932x Tags:

Takdir diatas SegalanyaBelakangan-belakangan ini tersebar sebuah bait syair yang dibacakan oleh seorang penyair di sebagian negeri-negeri Islam. Berikut teksnya,

إِذَا الشَّعْبُ يَوْمًا أَرَادَ الْحَيَاةَ                  فَلَا بُدَّ أَنْ يَسْتَجِيبَ الْقَدَرَ

“Jika hari ini bangsa ini menginginkan kehidupan, maka takdir pasti akan mengabulkannya.”

Saya sudah sering ditanya mengenai maksud syair di atas, dan jawabannya bahwa syair di atas harus diperhatikan lebih seksama:

  1. Jika maksud bait syair di atas adalah bahwa keinginan bangsa itu mampu mengalahkan takdir Allah, maka penyair itu telah serampangan dalam berucap. Seorang muslim tidak boleh mengucapkannya karena itu adalah kesalahan penyair, tidak boleh diulang-ulangi. Para penyair terkenal serampangan dalam berucap. Allah Ta’âlâ berfirman,

(وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمْ الْغَاوُونَ* أَلَمْ تَرَى أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ* وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لا يَفْعَلُونَ* إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيراً وَانتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ)

dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shalih dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezhaliman. Dan orang-orang yang zhalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” [Asy-Syu’arâ`: 224-227]

  1. Jika si penyair memaksudkan bahwa bangsa itu tidak bisa mewujudkan tujuannya kecuali jika Allah telah menakdirkan terwujudnya, maka makna seperti ini benar. Penyair yang lain berkata,

مَا كُلُّ مَا يَتَمَنَّى الْمَرْءُ يُدْرِكُهُ                 تَأْتِي الرِّيَاحُ بِمَا لَا تَشْتَهِي السّفُنُ

“Tidak semua yang diidamkan seseorang itu akan dia dapatkan. Angin bisa datang dengan membawa sesuatu yang tidak disukai oleh perahu.”

  1. Jika si penyair memaksudkan bahwa jika suatu bangsa menginginkan sesuatu, maka mereka harus melakukan sebab-sebab yang disyariatkan agar keinginan mereka terwujud. Sehingga syair di atas semakna dengan ucapan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallâhu anhu tatkala beliau enggan untuk memasuki kota yang terserang wabah penyakit. Maka ada yang berkata kepada beliau, “Apakah anda lari dari takdir Allah?!” Beliau radhiyallâhu anhu berkata, “Kami lari dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain.” Maksudnya, Kami melakukan sebab-sebab yang bisa melindungi (kami dari wabah), yang Allah telah perintahkan kepada kami untuk melakukannya. Dan menghindari wabah penyakit termasuk takdir Allah Ta’âlâ karena tidak ada satupun kejadian yang terjadi di alam ini kecuali itu merupakan takdir Allah. Ini adalah amalan yang disyariatkan. Allah memerintahkan kita untuk taat kepada-Nya agar dengannya kita bisa menjauhi siksaan-Nya yang telah Dia takdirkan akan menimpa para pelaku maksiat.

Bagaimana pun juga, makna bait syair ini terlalu global, tidak boleh mengucapkannya sampai diketahui maksud sebenarnya, dan ini harus dijelaskan kepada orang-orang.

Hanya Allah pemberi taufik dan hidayah menuju jalan yang lurus. Shalawat dan salam dari Allah kepada Nabi Kita Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Ditulis:

Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Anggota Haiah Kibarul Ulama

2 Rabiul Akhir 1432 H

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/13232]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.