24 Dhu al-Qidah 1438 :: 16 August 2017

Sikap Moderat (Pertengahan) Dalam Islam

Diposting : 17 Rabiul Akhir 1436 H / View : 4089x Tags: ,

Sikap Moderat (Pertengahan) Dalam IslamSegala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau seluruhnya.

Amma ba’du,

Saya datang ke sini bukan untuk menambah pengetahuan dan wawasan ilmiah kalian, namun Saya datang ke sini hanya untuk mengingatkan (apa yang kalian sudah ketahui, penj). Selain itu, Saya juga sengaja datang untuk berjumpa dan melihat kalian, karena fakultas ini juga merupakan ibu kami dan rumah pertama bagi Kami. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:

(كم منزل في الأرض يألفه الفتى *** حنينه أبدا لأول منزلي)

“Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang telah ditinggali oleh pemuda ini, namun kerinduannya selamanya hanya untuk tempat tinggalnya yang pertama.”

 

Assalamu ‘Alaikum Warahmatullâhi Wabarakâtuh

Judul ceramah kali ini -sebagaimana yang telah disampaikan- adalah Sikap Moderat (Pertengahan) Dalam Islam.

Judul ceramah ini dipetik dari firman Allah Ta’âlâ:

(وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيداً)

“Demikianlah kami menjadikan kalian sebagai umat yang bersikap pertengahan, agar kalian bisa menjadi saksi atas manusia, dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian.” [Al-Baqarah: 143]

Para ulama tafsir berkata, “Pertengahan maksudnya adalah adil lagi terbaik”.

Umat ini -alhamdulillah- adalah umat yang adil lagi terbaik, sebagaimana yang Allah sendiri persaksikan. Hal itu karena umat ini kelak akan menjadi saksi atas semua umat pada hari kiamat, sementara yang namanya saksi dipersyaratkan memiliki sifat adil. Maka umat ini mengemban tugas persaksian karena Allah telah menganugerahkan kepada mereka pengutusan sang rasul Muhammad shallallâhu alaihi wa sallam. Rasul ini menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah, padahal mereka dahulu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Sebagaimana firman Allah Ta’âlâ:

(يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمْ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ)

“Rasul ini membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al Kitab dan hikmah, padahal mereka dahulu benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” [Âli Imrân: 164, Al-Jum’ah: 2]

Maka umat ini akan menjadi saksi atas seluruh umat pada hari kiamat. Jika Allah Jalla Wa ‘Alâ telah mendatangkan semua umat dan nabi-nabi mereka pada hari kiamat, Dia akan bertanya kepada semua nabi, “Apakah kalian telah menyampaikan (risalah)?” Mereka akan menjawab, “Wahai Rabb Kami, Kami telah menyampaikan apa yang Engkau utus Kami dengannya kepada mereka.” Kemudian Allah bertanya kepada umat-umat, “Apakah para nabi ini telah menyampaikan kepada kalian?” Maka mereka semua menjawab, “Tidak.” Allah Ta’âlâ berfirman,

(فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ)

 “Maka kami benar-benar akan bertanya kepada semua umat yang para rasul diutus kepada mereka dan kami benar-benar akan bertanya kepada para rasul.” [Al-A’râf: 5]

Maka umat-umat akan mengingkari hal tersebut. Lalu Allah Jalla Wa ‘Alâ bertanya kepada para rasul, “Siapa yang bisa mempersaksikan untuk kalian bahwa kalian telah menyampaikan?” Para rasul menjawab, “Muhammad shallallâhu alaihi wa sallam dan umatnya akan mempersaksikan untuk Kami.” Maka Allah Jalla Wa ‘Alâ bertanya kepada umat Muhammad shallallâhu alaihi wa sallam, dan mereka mempersaksikan bahwa memang benar para rasul telah menyampaikan risalah kepada umat-umat mereka.

Bagaimana cara umat ini mengetahui hal tersebut? Mereka mengetahuinya dari kitab suci yang Allah turunkan kepada mereka, yang berisi kisah-kisah para nabi, mulai dari Nuh sampai Muhammad shallallâhu alaihi wa sallam. Semua kisah mereka tersebut dan tertuang dalam al Qur`an, apa yang terjadi antara semua nabi dengan umat mereka, seakan-akan engkau menyaksikannya secara langsung dan seakan-akan engkau hidup di zaman mereka. Maka umat ini akan mempersaksikan dengan apa yang Allah ajarkan kepada mereka, mereka bersaksi berdasarkan ilmu, karena persaksian itu hanya boleh dilakukan berdasarkan ilmu. Sebagaimana firman Allah Ta’âlâ,

(إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ)

“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran dalam keadaan mereka mengetahui.” [Az-Zukhruf: 86]

Mereka bersaksi berdasarkan ilmu yang Allah wariskan kepada mereka dalam Al-Qur`an yang mulia ini, yang tidak mungkin bisa disusupi oleh kebatilan dari arah depan dan tidak pula dari arah belakangnya, yang turun dari Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Maka umat ini adalah umat yang moderat, akan menjadi saksi atas semua umat, dan Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam akan menjadi saksi dan menyucikan umat ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

(فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاءِ شَهِيداً)

“Maka bagaimana jika Kami datangkan setiap umat beserta saksinya, dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka.” [An-Nisâ`: 41]

Maka umat ini adalah umat yang moderat (arab: wasath). Al-Wasathiyah berasal dari kata al-wasath, yang bermakna sesuatu yang berada di antara dua sisi. Sebagaimana ucapan seorang penyair:

كانت هي الوسط المحمي فاكتفت *** بها الحوادث حتى أصبحت طرفا

“Dia dahulu merupakan (wanita yang bersikap) pertengahan yang menjaga, namun kejadian demi kejadian membebaninya hingga akhirnya dia berada di salah satu sisi.”

Sikap moderat adalah sikap dimana seseorang berada di antara dua sisi. Umat ini senantiasa berada di antara dua sisi umat, sisi ekstrim yang terwujud dalam umat Nasrani dan sisi toleran berlebih yang terwujud pada umat Yahudi. Maka umat ini berada di pertengahan antara sikap ekstrim Nasrani dengan sikap toleran berlebih dan bergampangan Yahudi. Sikap moderat ini juga berlaku pada setiap individu umat ini. Sebagaimana umat ini secara umum bersikap moderat dan adil di antara sikap ekstrim dengan sikap toleran berlebih, maka demikian halnya setiap individu umat ini -alhamdulillah- adalah orang yang bersikap moderat, antara sikap ekstrim dengan sikap toleran berlebih, antara sikap berlebihan dengan sikap meremehkan agama. Sehingga seorang muslim tidak bersikap ekstrim seperti ekstrimnya orang-orang yang radikal dan sekte Khawarij, dan tidak juga bersikap meremehkan seperti sekte Murjiah dan orang-orang yang menelantarkan ajaran agama.

Jika kita mengingkari sikap ekstrim dan radikal, maka kita juga harus mengingkari sikap meremehkan agama dan toleran berlebih. Jika kita hanya memusatkan perhatian pada salah satu sisi dan menelantarkan sisi yang lainnya, maka itu tidak benar, bahkan bisa jadi sisi yang ditelantarkan itu lebih berbahaya. Dimana saya melihat bahwa pengingkaran ini hanya terfokus pada sikap ekstrim dan radikal. Ini sebenarnya sudah benar. Betul, kita harus mengingkari sikap ekstrim dan radikal, namun jangan sampai kita melupakan sikap bergampangan, toleran berlebih, dan penyimpangan. Maka kita juga wajib memusatkan perhatian pada kedua sisi ini, Kita memperingatkan bahaya sikap yang ini dan sikap yang itu. Dan hal ini -alhamdulillah- telah terdapat dalam kurikulum pelajaran Kita. Pelajaran kita memperingatkan dari sikap ekstrim dan sikap toleran berlebih, serta memerintahkan keadilan. Ini sebagai realisasi firman Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ,

(وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ)

“Dan sesungguhnya ini adalah jalanKu yang lurus maka ikutilah jalan itu, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan selainnya karena akan memecah belah kalian dari jalan-Nya.” [Al-An’âm: 153]

Maka jalan Allah hanya satu, adapun sekte dan kelompok selainnya maka jumlahnya berbilang, sangat banyak, dan tidak terhitung. Di antara semua sekte itu ada yang bersikap berlebihan dan ada yang bersikap meremehkan. Bersikap berlebihan dengan cara bersikap ekstrim, sementara sikap meremehkan dengan cara toleran berlebih dan menelantarkan ajaran agama. Allah Jalla Wa ‘Alâ berfirman kepada Nabi-Nya shallallâhu alaihi wa sallam,

(فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا)

“Maka istiqamahlah sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan kepada orang yang bertaubat bersamamu, dan janganlah kalian melampaui batas.” [Hûd: 112]

Allah memerintahkan mereka untuk senantiasa istiqamah dan melerang mereka dari sikap ekstrim. Allah berfirman, “Dan janganlah kalian melampaui batas.” Melampaui batas adalah keluar dari batasan yang seharusnya dengan menambahkan sesuatu. Allah berfirman dalam ayat yang lain:

(فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوه)

“Maka istiqamah dan minta ampunlah kepada-Nya.” [Fushshilat: 6]

“Minta ampunlah kepadanya,” dari semua kekuranganmu dalam beribadah. Istiqamahlah dan waspadalah dari kekurangan dalam beribadah. Jika ada kekurangan dalam ibadahmu maka tutupilah dengan istighfar. Ayat ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kekurangan dalam istiqamah, namun dia bisa menutupi kekurangan itu dengan istighfar. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda:

“اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا”

“Istiqamahlah dan kalian tidak akan bisa mengumpulkan semuanya.”

Maksudnya, kalian tidak akan bisa mengumpulkan (baca: mengamalkan) semua perintah Allah. Pasti akan ada kekurangan dalam pengamalannya, namun kalian bisa menutupi kekurangan itu dengan istighfar. Beliau juga bersabda,

“سَدَّدُوا وَقَارِبُوا”

“Bersikap luruslah dan mendekatlah.”

‘Bersikap lurus’ maksudnya melakukan sesuatu yang sesuai dengan kebenaran. Dan ‘mendekatlah’ maksudnya lakukan amalan yang dekat dengan kebenaran. Jika kekeliruan dalam suatu amalan itu sedikit, maka yang dimaksud dengan ‘mendekat kepada yang benar’, dan kekeliruan itu bisa ditutupi dengan istighfar dan taubat kepada Allah Azza Wa Jalla. Agama kita adalah agama yang toleran dan selalu menghilangkan kesulitan dari pemeluknya:

(وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ)

“Dan Dia tidak pernah menjadikan kesusahan bagi kalian dalam agama kalian.” [Al-Hajj: 78]

Allah Jalla Wa ‘Alâ menjadikan agama ini bersifat toleran dan tidak memberikan kesulitan di dalamnya, karenanya Dia tidak pernah membebani kita dengan amalan yang kita tidak mampu lakukan. Olehnya itu, siapa saja yang keluar dari jalan yang lurus ini, yakni sikap moderat, maka dia akan terjatuh ke dalam salah satu sisi; ekstrim atau toleran berlebih, dan kedua sikap ini merupakan sikap yang tercela. Tidak ada yang selamat darinya kecuali orang yang berjalan di atas jalan pertengahan yang telah Allah perintahkan. Sebagaimana yang tersebut di akhir surah Al-Fatihah -yang Allah perintahkan kita untuk membacanya dia setiap rakaat-,

(اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” [Al-Fatihah: 6]

Yakni, yang adil lagi pertengahan.

(صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ)

“Jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat kepada mereka.” [Al-Fatihah: 7]

Dan mereka adalah orang-orang yang Allah sebutkan dalam firman-Nya,

(وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلَئِكَ رَفِيقا)

“Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu bersama dengan orang-orang yang Allah beri nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi, orang-orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka inilah pendamping yang terbaik.” [An-Nisâ`: 69]

Allah menyuruh kita untuk selalu bersama mereka dan berjalan bersama mereka. Jika kamu bersama mereka niscaya kamu tidak akan sendirian selamanya “dan mereka inilah pendamping yang terbaik.” Orang yang sendirian hanyalah orang yang tidak bersama mereka, karena dia akan bersama kelompok yang berlebihan dan ekstri atau bersama kelompok yang meremehkan dan terlalu toleran.

Di zaman ini, kita sering mendengar adanya seruan dan anjuran untuk bersikap toleran. Seruan ini masih terlalu umum, karena jika yang dimaksud dengan sikap toleran di sini adalah engkau mentolerir hak-hakmu, dimana engkau memaafkan orang yang berbuat zalim kepadamu atau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, maka ini adalah sikap toleran yang terpuji. Adapun jika engkau bersikap toleran pada hak-hak Allah, maka itu tidak diperbolehkan. Adalah Nabi shallallâhu alaihi wa sallam, jika hak beliau shallallâhu alaihi wa sallam dizhalimi, maka beliau selalu memaafkan dan mentolerir hal tersebut. Namun jika yang dilanggar adalah sesuatu yang Allah haramkan, maka beliau akan marah karena Allah Jalla Wa ‘Alâ dan beliau tidak mentolerir sedikit pun hal tersebut. Karena sikap tolerir tidak boleh ada dalam hak-hak Allah Jalla Wa ‘Alâ, dan hanya dibolehkan pada hak makhluk.

Di zaman sekarang, banyak orang-orang yang justru menginginkan sebaliknya. Dia ingin agar kamu bisa mentolerir pelanggaran pada hak Allah, padahal ini bertentangan dengan perintah Allah Jalla Wa ‘Alâ. Tidak ada sikap toleran sedikit pun pada hak-hak Allah, siapapun pelakunya, karena itu sama saja dengan perbuatan menjilat. Allah Jalla Wa ‘Alâ berfirman,

(وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ)

“Mereka menghendaki kamu bersikap lunak kepada mereka agar mereka juga bersikap lunak kepadamu.” [Al-Qalam: 9]

(وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنْ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِي عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذاً لاتَّخَذُوكَ خَلِيلاً* وَلَوْلا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً* إِذاً لأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيراً)

“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami.” [Al-Isrâ`: 73-75]

Allah melarang dan mengancam Rasul-Nya agar jangan sampai beliau mengalah pada sesuatu dari urusan agama hanya untuk membuat mereka senang. Karena jika engkau mengalah pada sesuatu dari urusan agamamu, maka mungkin mereka akan senang kepadamu, namun jelas Allah akan murka kepadamu. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam hadits Aisyah,

مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ

“Barangsiapa yang mencari keridhaan Allah walaupun dia harus menanggung kemurkaan dari manusia, maka Allah akan meridhainya dan manusia akan menyukainya. Namun barangsiapa yang mencari pujian manusia dengan resiko dia akan menerima kemurkaan dari Allah, maka Allah akan murka kepadanya dan manusia akan membencinya.”

Maka seorang muslim tidak boleh mengalah sedikit pun dalam hak Allah Jalla Wa ‘Alâ. Karenanya Allah mensyariatkan adanya jihad di jalan-Nya, mensyariatkan amar ma’ruf nahi mungkar, mensyariatkan adanya hukum-hukum had (pidana), dan tidak pernah membolehkan untuk mengalah di dalamnya. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الحَدَّ

“Tidaklah umat-umat sebelum kalian binasa kecuali karena jika ada seorang bangsawan di antara mereka yang mencuri maka mereka akan melepaskannya, dan jika ada rakyat biasa di antara mereka yang mencuri maka mereka akan menegakkan hukum had.”

Kemudian beliau shallallâhu alaihi wa sallam bersabda,

وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Karena itu, jangan sekali-kali kamu mentolerir pelanggaran dalam hak Allah. Sikap toleran yang dianjurkan adalah sikap tolerir di antara sesama manusia dalam penunaian hak-hak mereka. Dan sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, sebagaimana seseorang mengingkari sikap berlebihan, ekstrim, dan radikal, maka dia juga harus mengingkari dengan pengingkaran yang setara -atau bahkan lebih- siapa saja yang bergampangan dalam perintah-perintah Allah, larangan-larangannya, dan syariatnya. Mereka ini berdalih dengan sikap toleran, mereka mengatakan bahwa agama Islam itu agama toleransi. Betul, agama kita itu sangat toleran dalam syariatnya, namun toleran di sini bukan berarti kamu boleh meninggalkannya atau meninggalkan sebagian darinya.

Islam sangat toleran dalam pensyariatannya. Allah Jalla Wa ‘Alâ mensyariatkan untuk kita syariat yang terbaik dan paling sempurna, dan Dia tidak pernah memberikan kesusahan kepada kita di dalamnya. Allah mensyariatkan banyak keringanan kepada kita ketika kita membutuhkannya. Dia mensyariatkan kita untuk tidak berpuasa ramadhan ketika sedang safar, Dia mensyariatkan kita untuk tidak berpuasa ramadhan ketika sakit, yang mengharuskan kita untuk berbuka, tapi dengan syarat engkau menggantinya di hari-hari yang lain. Dia mensyariatkan untuk meng-qashar semua shalat yang 4 rakaat menjadi hanya 2 rakaat ketika safar. Semua ini adalah kemudahan dan keringanan syariat. Adapun bentuk keringanan yang diinginkan oleh banyak orang-orang yang bodoh atau yang mempunyai kepentingan tertentu di zaman ini, maka yang mereka maksudkan adalah engkau boleh meninggalkan perintah dan larangan Allah, dan kamu boleh menuruti keinginanmu. Atau kamu cukup mengamalkan apa yang berkembang di tengah-tengah masyarakat agar mereka tidak membencimu. Seruan semacam ini harus diperingatkan akan bahayanya dan kamu harus menyadarinya, maka kita katakana, “Itu tidak boleh”.

Kita tidak bersama orang-orang yang ekstrim dan juga tidak bersama orang-orang yang memiliki sikap toleran berlebih. Kita justru bersama dengan orang-orang yang bersikap moderat, bersama dengan jalan yang lurus. Inilah jalan dan manhaj kita. Inilah yang kita ajarkan dan pelajari di madrasah-madrasah kita, kampus-kampus kita, dan masjid-masjid kita. Kita saling memberikan pengajaran mengenai pentingnya untuk bersikap moderat dalam semua urusan agama, yaitu tidak berada di sisi ‘ekstrim’ dan ‘kesulitan yang besar’ dan tidak juga berada di sisi ‘toleran berlebih’ dan ‘menelantarkan ajaran agama.

Maka kita wajib mengetahui bahwa pengingkaran tidak boleh hanya ditujukan kepada mereka yang bersikap ekstrim saja lantas meninggalkan mereka yang memiliki sikap toleran berlebih. Namun kita harus mengingkari yang ini dan yang itu, serta memperingatkan orang-orang dari mereka. Kita harus menjelaskan sikap yang benar dalam masalah ini agar masyarakat tidak tertipu dalam hal ini. Jika mereka berkomentar dan menyerukan untuk bersikap toleran, bergampangan atau orang-orang yang ekstrim dan radikal  menyerukan untuk bersikap ekstrim dan radikal, maka kita tidak boleh diam saja, para ulama tidak boleh diam saja, bahkan mereka wajib untuk mengingkari orang-orang radikal tersebut dan menjelaskan sikap yang benar kepada umat agar mereka tidak disesatkan oleh orang-orang ekstrim tersebut sehingga mereka keluar dari jalan yang benar, dan juga tidak disesatkan oleh orang-orang yang bergampangan dan meremehkan sehingga mereka bisa menelantarkan agama mereka. Wajib bagi para ulama untuk menjelaskan hal ini, kalian juga -selaku mahasiswa jurusan Syariah- wajib menjelaskannya, dan demikian pula para dosen yang mengajar di fakultas yang diberkahi ini. Setiap muslim -dimanapun mereka mengajar- wajib untuk menjelaskan masalah ini kepada para muridnya, terlebih di zaman-zaman ini dimana penjelasan mengenai masalah ini sangat dibutuhkan dan banyaknya komentar-komentar seputar ini. Setan -laknat Allah atasnya- senantiasa memperhatikan anak cucu Adam, jika dia melihat pada manusia ada kecintaan dan keinginan kepada kebaikan, maka setan akan mengarahkannya kepada sikap ekstrim dan melampaui batas agar dia bisa mengeluarkan manusia itu dari jalan yang lurus dan dari sikap moderat. Dan jika dia melihat padanya ada kecintaan kepada syahwat dan kemalasan, maka dia akan menambah kadar syahwat dan kemalasannya, juga mengarahkannya kepada perbuatan meremehkan dan menelantarkan kewajiban agar dia bisa mengeluarkan manusia itu menuju ke sisi yang negatif. Setan selalu berusaha keras untuk mengeluarkan kaum mukminin dari jalan yang lurus melalui kedua sikap ini; sikap berlebihan dan ekstrim serta sikap meremehkan dan bergampangan, kecuali orang yang Allah rahmati dan selalu komitmen dengan kitab Allah, sunnah Rasul-Nya shallallâhu alaihi wa sallam, dan jalan para pendahulu umat ini. Orang seperti inilah yang bisa mengalahkan dan menjauhkan setan. Kita memohon kepada Allah agar Dia berkenan untuk menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersikap moderat dalam agama Allah Azza Wa Jalla.

Ini adalah masalah yang urgen dan merupakan permasalahan yang besar, masalah ini harus diajarkan kepada semua pelajar sejak dari usia dini, yakni masalah bersikap moderat dalam agama mereka. Alhamdulillah semua kurikulum dan buku-buku yang kita pelajari, semuanya mengandung  manhaj ini, manhaj wasathiyah (moderat). Hanya saja pengajaran seperti ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah memahami betul masalah ini sehingga dia bisa menyampaikan dan menjelaskannya kepada para pelajar serta menganjurkan mereka untuk bersikap dengannya. Adapun sekedar mengandalkan bahwa masalah ini sudah tersebut dalam kitab-kitab, namun tidak ada yang membacakan, mensyarah, dan menjelaskannya kepada mereka, maka itu tidak akan ada manfaatnya. Inilah tugas kalian wahai mahasiswa dari fakultas yang diberkahi ini, hendaknya kalian mengajarkan kepada para pelajar jalan yang benar. Karena kita di zaman ini sangat membutuhkan penjelasan seputar ini, terlebih dengan banyaknya komentar-komentar yang menyeru mereka untuk keluar dari jalan yang lurus, apakah itu menuju kepada sikap ekstrim, radikal, menumpahkan darah, dan perusakan, maupun menuju kepada sikap toleran berlebih, bergampangan, meninggalkan batasan dan syariat Allah, menanggalkan syariat dari hukum, menyerukan pornografi, sufur (menampakan aurat bagi wanita), dan mengeluarkan wanita dari jalannya yang benar menuju jalan para penyeru kesesatan dan kerusakan. Karena jika kaum wanita sudah rusak maka akan hancurlah masyarakat, ibarat bom waktu. Karenanya kaum wanita wajib dilindungi dan dijaga dengan sebaik-baiknya sesuai dengan aturan syariat. Sebenarnya ini juga berlaku bagi kaum lelaki, namun wanita lebih ditekankan karena mereka adalah fitnah (ujian). Fitnah itu ada dua macam:

Fitnah syubhat dan ini dalam permasalahan akidah. Dan fitnah syahwat, dan ini dalam permasalahan akhlak dan jalan hidup.

Setan dan bala tentaranya dari kalangan setan manusia dan jin berusaha keras untuk melariskan semua kerancuan ini dalam masyarakat. Baik pada aqidah mereka dengan menanamkan kerancuan, keraguan, dan penyimpangan, maupun pada akhlak dan jalan hidup mereka dengan mengajak mereka mengikuti syahwat.

(وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلاً عَظِيماً)

“Allah hendak menerima taubat kalian, sementara orang-orang yang mengikuti syahwat menginginkan agar kalian berpaling dengan sejauh-jauhnya.” [An-Nisâ`: 27]

Ini adalah peringatan dari para pengikut hawa nafsu dan syubhat, sehingga kita wajib untuk waspada dari mereka. Ada 3 orang sahabat Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam -yang mereka ini tengah bersemangat dalam agama dan mencintai kebaikan- mendatangi istri-istri Nabi shallallâhu alaihi wa sallam untuk menanyakan kepada mereka perihal ibadah Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam. Setelah istri Nabi mengambarkan kepada mereka bagaimana gambaran ibadah Nabi, maka seakan-akan mereka menganggap ibadah Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam itu biasa-biasa saja. Kemudian mereka berkata, “Dimana kedudukan kita dibandingkan Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam, dimana semua dosa-dosa beliau -yang terdahulu dan yang belakangan- telah diampuni.” Lalu berkatalah salah seorang dari mereka, “Saya akan shalat malam tiap malam dan tidak akan tidur.” Yang lainnya berkata, “Saya akan berpuasa setiap hari dan tidak akan membatalkan puasa.” Dan orang yang ketiga berkata, “Saya tidak akan menikah,” dia ingin membujang agar bisa lebih fokus beribadah kepada Allah. Orang yang keempat berkata, “Saya tidak akan memakan daging,” karena ingin menyiksa dirinya sendiri. Tatkala ucapan mereka ini sampai ke telinga Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam, beliau shallallâhu alaihi wa sallam marah mendengarnya. Beliau marah karena cara mereka itu merupakan jalan penyimpangan, dimana mereka berpikir bahwa cara mereka sudah sesuai dengan jalan yang benar. Kemudian Nabi shallallâhu alaihi wa sallam berkhutbah, dimana beliau alaihish shalatu wassalam bersabda,

مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَقُولُونَ كَذَا وَكَذَا، أَمَّا أَنَا فأُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ

“Bagaimanakah menurut kalian dengan orang-orang yang berkata begini dan begitu. Adapun saya sendiri, maka saya shalat dan juga tidur, saya berpuasa dan juga berbuka, dan saya menikahi wanita.”

Dalam sebuah riwayat,

وَأَكُلُ اللَّحْمَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Dan saya memakan daging. Siapa saja yang membenci sunnahku maka dia bukan golonganku.”

Ini adalah contoh sikap ekstrim dan berlebihan dari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam. Dan contoh dari (sunnah Nabi dalam menghadapi) sikap bergampangan adalah Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam memotong tangan pencuri, merajam pezina, mencambuk peminum khamar, serta menegakkan hukum had (pidana) dan peringatan kepada para pelaku maksiat. Semua ini beliau lakukan untuk mencegah tersebarnya sikap bergampangan dalam agama. Beliau memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran untuk mencegah sikap bergampangan dalam agama. Tindakan-tindakan Nabi shallallâhu alaihi wa sallam ini wajib kita ketahui, kita lestarikan, kita berjalan di atasnya, dan kita jelaskan kepada manusia, karena kebutuhan manusia akan penjelasan masalah ini sangat dibutuhkan di zaman ini. Karena manusia terbagi menjadi dua arus; arus ekstrim dan radikal serta arus bergampangan dan toleran berlebih. Maka sudah sepatutnya kita mengetahui masalah ini dan menjelaskannya kepada manusia. Kita harus menerapkannya pada diri kita sendiri terlebih dahulu, agar kita bisa menjadi umat yang moderat dalam agama kita.

Semoga Allah melimpahkan taufik kepada kita semua menuju amalan yang Dia cintai dan ridhai. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2345]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.