1 Rabi II 1439 :: 19 December 2017

Penjelasan dari Lajnah untuk Pembelaan Terhadap Ummul Mukminin

Diposting : 29 Jumadil Akhir 1436 H / View : 4255x Tags: ,

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وبعد:

Penjelasan dari Lajnah untuk Pembelaan Terhadap Ummul MukmininSaya telah memperhatikan fatwa yang keluar dari Al-Lajnah / Lembaga Resmi untuk Riset Ilmiyyah dan Fatwa untuk Kerajaan Saudi Arabia dan juga yang tersiarkan tentang tuduhan zina serta hinaan dan celaan terhadap kehormatan istri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha yang penuh dengan kedustaan terhadap Al-Qur`an dan Sunnah yang suci.

Dan dalam rangka menegakkan kebenaran dan pembelaan terhadap kehormatan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anha yang juga merupakan kehormatan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Al-Lajnah menulis penjelasan sebagai berikut:

Sesungguhnya termasuk dari dasar keyakinan ahlus sunnah wal jamaah adalah wajib mencintai para shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alahi wa sallam serta memuliakan mereka dan juga ridha atau melapangkan dada terhadap mereka. Merekalah yang telah menemani penutup para Nabi dan Rasul, merekalah yang hidup di masa turunnya wahyu dan merekalah yang telah Allah puji dan sanjung dalam kitab-Nya dan juga dipuji dan disanjung oleh Al-Musthafa shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya, sehingga cukuplah itu semua sebagai kemuliaan dan keutamaan. Allah Ta’âlâ berfirman,

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Dan Allah Ta’âlâ berfirman,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” [Al-Fath: 18]

Dan juga Allah Ta’âlâ berfirman,

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” [Al-Fath: 29]

Dan telah shahih dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim,

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka.” Dan beliau juga berkata, “Janganlah kalian mencela para shahabatku jikalau ada di antara kalian berinfak emas yang besarnya bagaikan bukit uhud, tidak akan bisa menandingi satu mud saja dari kebaikan mereka apalagi setengahnya.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Dan hadits-hadits yang menyebutkan rekomendasi dan menyebutkan kebaikan mereka baik secara keseluruhan atau individu, sangatlah banyak.

Dan termasuk pijakan pokok keyakinan ahlussunnah wal jamaah adalah wajib mencintai ahli bait/keluarga Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan mengetahui hak-hak mereka serta menempatkan mereka pada kedudukan yang semestinya. Mereka adalah wasiat dari Rasulullah, sebagaimana yang dikhabarkan dalam shahih Muslim,

Saya ingatkan kalian dengan nama Allah, untuk memperhatikan ahli bait/keluargaku! (Beliau mengucapkan sebanyak tiga kali).”

Dan juga dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallâhu ‘anhu berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh karib kerabatnya Rasulullah itu lebih aku cintai daripada aku shalat bersama karibku sendiri.” Dan beliau radhiyallâhu ‘anhu juga berkata sebagaimana dalam shahih Al-Bukhari, “Dekatilah Nabi Muhammad, dengan kalian mendekati keluarganya.”

Dan tidaklah diragukan bahwasanya pada istri beliau dan keturunan beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam, itulah ahli bait beliau. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh firman Allah Ta’âlâ,

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. Dan ucapkanlah perkataan yang baik, dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, keluarkanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzâb: 32-33]

Dan juga termasuk dari keyakinan ahlussunnah wal jamaah bahwasanya seseorang itu tidaklah bisa lepas dari kemunafikan kecuali dengan selamatnya keyakaninannya terhadap pada shahabat dan ahli bait. Imam At-Thahawiy rahimahullâh berkata, “Dan barangsiapa yang berucap indah untuk para shahabat Nabi dan pada istrinya yang suci dari segala kotoran juga keturunan beliau yang suci dari segala kotoran maka ia telah terlepas dari kemunafikan.” Dan beliau berkata, “Dan kami mencintai para shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan tidaklah kita berlebih-lebihan dan kecintaan terhadap salah satu dari mereka, dan tidak juga kita berlepas diri terhadap salah satu dari mereka, dan kita membenci setiap orang yang membenci mereka dan menyebut mereka tidak dengan kebaikan. Dan padahal kita tidaklah menyebut mereka kecuali dengan kebaikan, mencintai mereka termasuk keimanan dan kebaikan, dan kebencian terhadap mereka itu merupakan kekufuran dan kemunafikan serta pelampuan batas.”

Dengan inilah, jelas bahwa barangsiapa yang mencela para shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam atau menjelekkan beliau mencerca Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan melemparkan tuduhan dusta terhadap para istri beliau, maka itu adalah perbuatan kejahatan dan dosa yang luar biasa besarnya, khususnya terhadap Ash-Shiddiqah binti Ash-Shiddiq, seorang wanita yang telah disampaikan dari langit ke tujuh akan terlepasnya diri beliau dari tuduhan dusta tersebut. Dan beliau adalah wanita yang paling dicintai oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dari para istri beliau yang lainnya. Beliau adalah wanita yang paling paham terhadap agama dari kalangan wanita umat Islam ini secara mutlak. Dulu para shahabat yang utama radhiyallahu ‘anhum apabila mereka menjumpai suatu permasalahan dalam agama maka mereka pun meminta fatwa dari beliau.

Kebaikan-kebaikan beliau radhiyallâhu ‘anha sangatlah banyak dan terkenal di tengah umat. Sungguh telah terdapat hadits-hadits yang shahih menyebutkan kekhususan beliau secara pribadi dibandingkan para istri Nabi ummahâtul mukminin yang lainnya radhiyallâhu ‘anhunna. Di antaranya:

  1. Pernah datang malaikat dengan wujud aslinya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan membawa selembar pakaian dari sutra sebelum Nabi menikahi beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Hadits ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ ia berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Saya pernah melihatmu dalam mimpi dalam tiga malam, datang kepadaku malaikat dengan selembar kain dari sutra dan ia berkata, ‘ini adalah istrimu’, maka ia membuka lembaran kain tadi yang menutupi wajahmu dan ternyata dirimu.’ Akupun berkata, ‘jika itu datang dari Allah maka Allah akan pasti wujudkan.’”
  2. Di antara kebaikan dari diri beliau radhiyallâhu ‘anhâ adalah beliau adalah wanita yang paling dicintai oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau pernah terang-terangan menyampaikan hal ini tatkala beliau ditanya siapa orang yang paling beliau cintai. Sebagaimana dalam riwayat Imam Bukhari dari Amr bin ‘Ash radhiyallâhu ‘anhu, bahwa beliau pernah mendatangi Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” Aku berkta, “Siapa dari kalangan laki-laki?” Beliau menjawab, “Ayahnya.”

Imam Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullâh berkata, “Ini adalah khabar yang shahih dan tidaklah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mencintai kecuali pasti pada perkara yang baik.” Dan beliau pernah bersabda, “Seandainya saya boleh menjadikan seseorang sebagai kekasih dari umat ini, maka saya akan jadikan Abu Bakr sebagai kekasih. Akan tetapi hanya sebatas persaudaraan dalam Islam.” Maka beliau Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam mencintai beliau dan beliau adalah manusia yang paling utama dari umatnya dari kalangan lelaki dan putri beliau adalah yang paling utama dari kalangan wanita dari umat beliau, sehingga barangsiapa yang membenci dua manusia yang paling dicintai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ini maka ia sangat berhak dan pantas menjadi orang yang paling dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dan kecintaan beliau kepada Aisyah adalah perkara yang memang sudah tersebar dimaklumi.

  1. Dan di antara keutamaan Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, tatkala turunnya wahyu kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau berada di selimutnya Aisyah bukan istri-istri beliau yang lainnya. Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya, ia berkata, “Dulu para shahahat sangat ingin memberi hadiah-hadiah mereka pada saat Nabi berada di hari giliran Aisyah. Aisyah berkata, ‘Maka berkumpullah para istri Nabi kepada Ummu Salamah, mereka berkata, ‘Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya para shahabat sangat ingin memberi hadiah-hadiahnya pada saat Nabi berada di giliran Aisyah, padahal kami juga ingin kebaikan sebagaimana Aisyah menginginkan kebaikan.’ Maka Nabi pun berlalu dan beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para shahabat agar jika ingin memnberi hadiah, berikan saja kepada beliau saat di manapun atau sedang di giliran siapapun beliau berada. Maka Ummu Salamah sampaikan hal itu (keinginan para istri nabi tadi; penj.) kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Namun beliau berpaling dariku (enggan memenuhinya; penj.), pada saat kedatangan beliau lagi padaku, maka aku sebutkan lagi keinginan tersebut pada beliau, namun beliau tetap berpaling dariku. Tatkala ketiga kalinya aku sampaikan hal tersebut, beliaupun bersabda, ‘Wahai Ummu Salamah, janganlah engkau ganggu aku dalam masalah Aisyah. Sungguh demi Allah, tidaklah turun wahyu kepadaku di saat aku sedang berada di selimut dari seorang istri di antara kalian selain dirinya.’”

Berkata Imam Adz-Dzahabi rahimahullâh, “Jawaban beliau ini menunjukkan akan keutamaan Aisyah dibandingkan seluruh Ummahatul Mukminin yang lainnya, yang dilatarbelakangi perkara ilahiy di balik kecintaan beliau padanya, dan karena perkara itulah beliau mencintai Aisyah”.

  1. Di antara keutamaan Aisyah radhiyallâhu ‘anha: Malaikat Jibril ‘alaihis salâm mengirim salam untuknya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Aisyah radhiyallâhu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda pada suatu hari: ‘Wahai Aisyah, ini ada Jibril mengirimkan salam untukmu’, maka aku menjawab, ‘Wa ‘alaihissalâm warahmatullâhi wa barakâtuh, engkau melihat dan aku tidak bisa melihatnya’, maksudnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam”.

Berkata Imam An-Nawawi, “Dalam hadits ini terdapat keutamaan yang sangat jelas bagi Aisyah radhiyallâhu ‘anha.

  1. Di antara keutamaan Aisyah radhiyallâhu ‘anha: Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memulai dengan memilih beliau tatkala turun ayat perintah untuk memilih, dan beliau arahkan agar meminta pendapat dengan bermusyawarah kepada ayahnya dalam masalah tersebut. Hal itu karena ilmunya Nabi akan ayahnya Aisyah yang tidak akan memerintahkannya berpisah dengan beliau, maka Aisyah memilih Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat, kemudian diikuti pilihan seperti itu juga oleh seluruh istri beliau yang lainnya. Diriwayatkan dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallâhu ‘anha, ia berkata, “Tatkala Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memilih kepada para istrinya, maka beliau memulai dari diriku, beliau bersabda, ‘Sungguh saya ingatkan engkau dengan sebuah perintah dan jangan engkau terburu-buru memutuskan hingga engkau meminta pendapat kepada kedua orang-tuamu’, sungguh beliau sebenarnya sudah tahu bahwa kedua orang tuaku tidak akan memerintahkan aku berpisah dengan beliau. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya Allah yang Maha Agung dengan pujian untuk-Nya telah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلا وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا

 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, ‘Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.” [Al-Ahzâb: 28-29]

Maka aku bekata, ‘apakah karena ini aku harus bermusyawarah dengan kedua orang tuaku? Sungguh, aku hanya menginginkan Allah dan Rasul-Nya serta negeri akhirat.’” Kemudian Aisyah melanjutkan, “Setelah itu, para istri Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melakukan seperti yang telah aku lakukan tersebut.”

  1. Di antara keutamaan Aisyah radhiyallâhu ‘anha: Nabi shallallâhu ‘alahi wa sallam sangat menginginkan agar berada di rumah Aisyah tatkala beliau sakit, dan wafatnya beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam di pangkuan antara dada Aisyah pada hari gilirannya, dan Allah telah mengumpulkan air liur beliau dengan air liur Aisyah di saat-saat terakhir beliau berada di dunia sebelum wafat, dan beliau pun di makamkan di rumah Aisyah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah radhiyallâhu ‘anha bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau mengalami sakitnya, beliau mendatangi semua istrinya dan berkata, “Di manakah saya besok?” Beliau sebenarnya sangat ingin di rumah Aisyah. Lalu Aisyah berkata, “Tatkala beliau berada di rumahku, beliau pun wafat.” Dan dalam riwayat Muslim juga dari Aisyah radhiyallâhu ’anha, ia berkata, “Jika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tersadarkan dari pingsannya, beliau berkata, ‘Dimana saya besok? Dimana saya besok?’ Beliau sebenarnya ingin di rumahnya Aisyah, maka para istri beliau yang lain pun memberikan idzin agar beliau berada di manapun beliau inginkan. Maka beliau pun berada di rumahnya Aisyah hingga beliau wafat di sisi Aisyah. Beliau wafat pada hari yang beliau mengelilingi istri-istrinya dan berada di rumahku, Allah mewafatkan beliau dan kepala beliau berada di antara leher dan dadaku. Dan bercampurlah air liur beliau dengan air liurku.” Dan Aisyah juga berkata, “Abdurrahman bin Abu Bakr pernah masuk dengan membawa siwak yang biasa beliau menggunakannya, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam melihatnya. Maka aku berkata kepada Abdurahman, ‘Berikan padaku siwak itu, wahai Abdurrahman!’ Maka iapun memberikannya padaku, maka aku melumatkannya dengan mengunyahnya. Lalu aku berikan kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, maka beliau pun menggunakan sambil bersandar di dadaku.” Dan dalam riwayat lain dengan tambahan lafazh, “Maka Allah pun menyatukan air liurku dengan air liur beliau di saat hari terakhir beliau di dunia ini, menjelang beliau menuju negeri akhirat.”

  1. Di antara keutamaan Aisyah radhiyallâhu ‘anha: Adanya pemberitaan dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa Aisyah adalah penghuni surga.

Diriwayatkan oleh Al-Hakim dengan sanadnya hingga ke Aisyah radhiyallâhu ‘anha, ia berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah dari kalangan istri-istrimu yang akan masuk surga?” Beliau menjawab, “Tidakkah engkau tahu, bahwa dirimu termasuk dari mereka?” Lalu aisyah berkata, “Terbayanglah di benakku hingga sekarang, ternyata beliau tidaklah menikahi seorang perawan selain aku.” Dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Al-Qasim bin Muhammad bahwasanya Aisyah mengeluh lalu mendatangi Ibnu Abbas, maka Ibnu Abbas berkata, “Wahai Ummul Mukminin, engkau adalah termasuk bersama Rasulullah dan Abu Bakr masuk ke dalam surga.” Ini adalah keutamaan yang besar bagi Aisyah radhiyallâhu ‘anha dengan kepastian untuk beliau masuk ke dalam surga yang tidaklah mungkin pemberitaan tersebut kecuali berdasarkan dalil.

  1. Di antara keutamaan Aisyah radhiyallâhu ‘anha: Dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhû, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keutaman Aisyah dibandingkan seluruh para wanita lainnya, bagaikan keutamaan tsarîd (roti enak dicampur kuah; penj.) dibandingkan seluruh makanan lainnya.” Maka dalam hadits ini Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Aisyah itu memiliki keutamaan yang lebih dari para wanita lainnya, sebagaimana lebihnya keutamaan tsarîd dibanding selainnya dari makanan-makanan yang ada.
  2. Di antara keutamaan Aisyah radhiyallâhu ‘anha: Ada beberapa ayat dari kitab Allah (turun) dengan sebab beliau. Di antaranya ada yang khusus terkait dengan diri beliau sendiri dan ada yang untuk umat secara keseluruhan. Adapun ayat yang khusus terkait dengan diri beliau sendiri dan juga menunjukkan akan mulianya kedudukan beliau dan kemuliaan beliau dengan persaksian dari yang Maha Pencipta Jalla wa ‘Alâ dengan perlepasan dari diri beliau terhadap tuduhan dusta dan kebohongan, yaitu pada ayat,

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kalian juga. Janganlah kalian kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kalian bahkan ia adalah baik bagi kalian. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar.” [An-Nûr: 11]

Hingga ayat:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” [An-Nûr: 36]

Dan para ulama dari kalangan peneliti juga menjelaskan tentang diri Aisyah, “Di antara keutamaan Aisyah rodhiallahu ‘anha bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ melepaskan diri beliau dari tuduhan dusta kepada beliau dari para pendusta. Dan Allah menurukan ayat yang memberikan udzur dan perlepasan diri beliau sebagai wahyu yang terbacakan di tempat-tempat ibadah kaum muslimin, dalam shalat-shalat mereka hingga hari kiamat, dan dipersaksikan bahwa beliau termasuk dari kalangan yang baik-baik dan menjanjikan untuk beliau maghfirah dan rezeki yang mulia. Dan Allah Subhânahu wa Ta’âlâ mengabarkan bahwa tidaklah yang dituduhkan kepada beliau dari kedustaan itu melainkan menjadi kebaikan bagi beliau, dan tidak semakin menjadi kejelekan dan merendahkan kedudukan beliau, bahkan Allah mengangkat derajat beliau dengan hal tersebut dengan derajat yang tinggi lagi mulia. Dan beliau pun senantiasa disebut dengan kebaikan dan perlepasan diri dari kedustaan oleh seluruh penduduk bumi dan langit, maka sungguh sangat banyak keutamaan dan kebaikan dari diri beliau dengan hal tersebut.

Dengan keterangan ini dan keterangan lainnya, maka jelaslah akan keutamaan dan kedudukan beliau radhiyallâhu ‘anha. Adapun tuduhan keji yang beliau telah terlepas darinya adalah kedustaan nyata terhadap Al-Qur`an dan Sunnah yang bisa membuat pelakunya keluar dari agama sebagaimana telah disepakati oleh para ulama seluruhnya tanpa terkecuali sebagaimana ijma’ atau kesepakatan, ini telah disebutkan oleh banyak ulama.

Maka wajib bagi setiap muslim untuk mencintai para shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan ridha terhadap mereka seluruhnya serta memuliakan mereka, menyebarkan kebaikan-kebaikan dari mereka dan membela serta menjaga kehormatan mereka dan menahan diri terhadap adanya perkara yang terjadi di antara mereka. Karena mereka juga adalah manusia yang tidaklah ma’shum akan tetapi kita harus menjaga wasiat dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam terhadap mereka, dan kita menyikapi mereka sebagaimana dengan tuntunan Al-Qur`an, kitapun juga mengatakan,

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb Kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” [Al-Hasyr: 10]

 

Lembaga Tetap untuk Penelitian Ilmiyyah dan Fatwa:

Ketua : Abdul  Aziz bin Abdullah Âlu Asy-Syaikh.

Anggota : Ahmad bin Ali Siyar Al Mubâraki, Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Muhammad bin Hasan Âlu Asy-Syaikh, Abdullah bin Muhammad Al-Khunain, Abdullah bin Muhammad Al-Muthlaq, Abdul Karim Al-Khudhair.

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13086]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.