25 Rabi I 1439 :: 13 December 2017

Komitmen Dengan Al-Kitab dan As-Sunnah Adalah Penyelamat dari Fitnah dan Agama Kita Menolak Demonstrasi dan Provokasi

Diposting : 20 Rabiul Awal 1436 H / View : 2400x Tags: , ,

Komitmen Dengan Al-Kitab dan As-Sunnah Adalah Penyelamat dari Fitnah dan Agama Kita Menolak Demonstrasi dan ProvokasiSegala pujian hanya milik Allah. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Kita Muhammad, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Wa ba’du,

Pada hari-hari belakangan ini, berbagai fitnah bertiup kencang di dunia Islam secara umum dan negeri Arab secara khusus. Fitnah-fitnah ini mengancam keamanan mereka, ketentraman mereka, memecah belah persatuan mereka, dan merongrong negeri mereka. Semua itu merupakan rancangan dari musuh-musuh mereka dan dilaksanakan oleh para provokator dan penipu yang berasal dari anak bangsa yang menjadi negara target mereka. Anak-anak bangsa yang tertipu ini menyebarkan fitnah ini tanpa memikirkan akibat dan hasil perbuatan mereka, karena mereka tertipu dengan janji-janji palsu dan mereka berjalan menuju fatamorgama yang menipu. Sampai akhirnya kamu tidaklah mendengar dan tidak pula membaca dari media-media informasi kecuali berita yang membuatmu gelisah, seperti adanya kasus pembantaian massal, pengusiran penduduk, runtuhnya suatu pemerintahan, dan memburuknya situasi keamanan. Para penyulut api fitnah ini persis sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bahwa mereka ini,

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَطَاعَهُمْ قَذَفُوهُ فِيهَا

“Penyeru kepada pintu-pintu jahannam. Siapa saja yang mengikuti mereka, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam jahannam.”

Nabi shallallâhu alaihi wa sallam telah merumuskan kepada Kita suatu jalan untuk Kita berjalan di atasnya, agar Kita bisa meraih keselamatan dari keburukan para penyeru fitnah itu. Tatkala Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallâhu anhu bertanya kepada beliau, “Apa nasehat anda jika masa (fitnah) itu menjumpaiku?” Beliau shallallâhu alaihi wa sallam menjawab,

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

 “Hendaknya engkau selalu berkomitmen bersama masyarakat kaum muslimin dan pemerintah mereka.”

Hudzaifah radhiyallâhu anhu kembali bertanya kepada beliau, “Bagaimana jika pada masa itu tidak ada rakyat dan tidak juga ada pemerintah?” Maka beliau shallallâhu alaihi wa sallam menjawab,

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Tinggalkanlah semua kelompok-kelompok itu, walaupun engkau harus menggigit erat akar pohon sampai engkau meninggal dalam kondisi seperti itu.”

Ini tuntunan yang bersifat individual. Adapun tuntunan untuk umat secara umum, maka Nabi shallallâhu alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk selalu berkomitmen dengan Al-Kitab dan As-Sunnah ketika terjadi perpecahan dan fitnah. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

 “Sungguh siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Karena itu, wajib bagi kalian untuk selalu berkomitmen dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang pendapatkan petunjuk dan hidayah sepeninggalku. Berpegang teguhlah kalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”

Hadits ini merupakan penafsiran dari firman Allah Ta’âlâ,

(وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا)

“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya dengan tali agama Allah dan janganlah kalian berpecah belah.” [Âli Imrân: 103]

Kita telah merasakan sendiri buah dari wasiat ketuhanan dan kenabian ini ketika berbagai fitnah bertiup kencang akhir-akhir ini. Fitnah ini menyebabkan lahirnya pergolakan dan tuntutan untuk merubah dasar negara di sebagian negara-negara Arab dan negara-negara Islam, dan sudah banyak rakyat dan pemerintah suatu negara yang menjadi korban darinya. Namun Kerajaan Saudi ini tetap aman dan tentram karena dasar negaranya adalah Al-Qur`an,

(لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ)

“Tidak bisa disusupi oleh kebatilan dari arah depannya dan tidak pula dari arah belakangnya. Turun dari yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” [Fushshilat: 42]

(وَمَنْ أَحْسَنُ مِنْ اللَّهِ حُكْماً لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ)

“Siapakah yang lebih baik hukumnya dibandingkan Allah, bagi orang-orang yang yakin?!” [Al-Mâ`idah: 50]

Adapun undang-undang buatan manusia, maka undang-undang itu tidak akan mampu bertahan menghadapi goncangan, karena dia tidak dibuat berdasarkan wahyu yang Allah turunkan, yang relevan pada setiap waktu dan tempat. Tidak ada seorang pun yang mampu untuk membuat yang semisalnya walaupun hanya satu ayat, dan tidak akan ada seorang pun yang mampu untuk mengkritisinya.

(وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ)

“Allah yang menghukumi dan tidak ada seorang pun yang mampu mengkritisi hukumnya.” [Ar-Ra’d: 41]

Tatkala Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan akan terjadinya fitnah, lalu ditanyakan kepada beliau, “Apakah solusinya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kitab Allah.” Adapun undang-undang buatan manusia, maka itu rentan kritikan, tidak relevan untuk setiap waktu dan tempat, dan akan langsung roboh pada ujian yang pertama. Undang-undang ini bagaikan sarang laba-laba, yang tidak bisa melindungi dari panas, dingin, hujan, dan tidak akan bertahan dari hembusan angin. Karenanya, sanggahan pertama yang dilontarkan oleh penduduk negeri ini kepada semua seruan yang mengajak kepada tindakan anarkis dan demonstrasi adalah dengan menyatakan bahwa agama kami telah melarang dan tidak melegalkan semua tindakan itu. Agama kami justru memerintahkan kami untuk bersikap tenang, tidak mudah panik, dan untuk selalu merekatkan hubungan baik antara pemerintah dengan rakyat. Agama kami melarang kekacauan dan memerintahkan untuk menghentikan semua fitnah dan para penyulutnya. Agama kami melarang perbuatan melampaui batas, permusuhan, dan membangkang kepada pemerintah. Juga memerintahkan untuk mendamaikan antara para pelaku kezhaliman dengan korban kezhaliman selama itu memungkinkan, dan jika tidak mungkin, maka pihak yang berbuat zhalim itu harus diperangi sampai mereka kembali ke jalan Allah. Allah Ta’âlâ berfirman,

(وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ* إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ)

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kalian damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kalian perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kalian berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” [Al-Hujurât: 9-10]

Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمِيعٌ عَلَى وَاحِدٍ مِنْكُمْ، يُرِيدُ أَنْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ وَيَشُقَّ عَصَاكُمْ، فَاقْتُلُوهُ

“Siapa saja yang mendatangi kalian dalam keadaan kalian tengah bersatu di bawah seorang pemimpin, lalu orang itu hendak memecah belah persatuan kalian dan mematahkan tongkat kepemimpinan kalian, maka bunuhlah orang itu.”

Beginilah sikap Islam dalam mencegah terjadinya fitnah dan cara mengobatinya ketika fitnah sudah terjadi. Dan alhamdulillah, ini jugalah yang menjadi sikap negara ini -pemerintah dan ulamanya- dalam menghadapi fitnah ini. Sikap yang membungkam semua musuh, mengajari semua yang bodoh, dan mengingatkan semua yang lalai. Siapa saja yang berpegang teguh dengan sikap ini, niscaya tidak ada fitnah yang bisa membahayakan dirinya selamanya, dengan izin Allah.

Segala pujian hanya milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah kepada Nabi Kita Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

 

Ditulis oleh:

Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Anggota Haiah Kibarul Ulama

8 Jumadil Awwal 1432 H

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/13324]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.