9 Dhu al-Qidah 1439 :: 22 July 2018

Ikhtilath dan Apa Perkataan Orang Tentangnya

Diposting : 11 Rabiul Awal 1436 H / View : 3774x Tags: , ,

Ikhtilath dan Apa Perkataan Orang TentangnyaSegala puji hanya bagi Allah, semoga shalawat dan salam atas Rasulullah Nabi kita Muhammad, keluarga, para shahabatnya dan siapa saja yang mencintainya.

Adapun setelah itu, sesungguhnya Allah memuliakan wanita dan mensyariatkan untuknya hukum-hukum yang sesuai dengan dirinya dan yang menjaga kehormatannya. Di antaranya bahwa Allah mensyariatkan untuk mereka hijab penutup yang melindunginya dari gangguan orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit syahwat di dalam hati-hati mereka. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” [Al-Ahzâb: 59]

Yaitu, lebih mudah untuk dikenal kemuliaan dan kehormatannya, agar tidak merasa puas orang-orang yang memiliki penyakit syahwat di dalam hati terhadap mereka. Dan membolehkan mereka bekerja untuk mendapatkan penghasilan yang baik disertai dengan berhijab dan jauh dari bercampur baur dengan laki-laki yang dapat menimbulkan fitnah, sebab mereka atau fitnah yang timbul dari mereka sendiri.

Dan wanita muslimah yang senantiasa berpegang teguh dengan manhaj (metodologi) Rabbani ini yang dapat menjauhkan mereka dari bahaya atas mereka dan bahaya yang mereka timbulkan. Namun di akhir-akhir ini telah terjadi perdebatan sengit seputar masalah-masalah ini yang bertujuan melepaskan wanita dari ajaran yang Allah inginkan atas mereka agar mereka (para wanita) meniru gaya hidup wanita barat yang bekerja keras dan meniti karir karena dia lepas dari ajaran-ajaran (Islam) yang menjaganya dan melindungi kehormatannya. Para pengusung perdebatan dan propaganda ini memiliki tujuan agar wanita lepas dari hijabnya, bercampur baur dengan kaum pria di bangku-bangku sekolah dan di tempat-tempat kerja yang campur baur dengan lawan jenis, di pertemuan-pertemuan dan seminar-seminar bersama para pelatihnya duduk di barisan kaum pria untuk acara-acara dan yang lainnya dalam keadaan membuka wajah. Mereka duduk dan berdiri bersama laki-laki berdampingan, berjabat tangan dengan mereka para laki-laki, bercampur baur dengan laki-laki di dalam acara-acara televisi, seakan-akan mereka adalah para mahramnya dan juga di atas panggung-panggung memandu acara.

Dan ketika para ulama berusaha untuk mengingkari hal tersebut dengan cara melarangnya, maka sebagian para wartawan dengan lisan-lisan mereka yang tajam menggelincirkan mereka dari kebenaran tanpa  memperdulikan apa yang disampaikan para ulama berupa dalil-dalil dari Al-Qur`an dan Sunnah untuk membantah apa yang mereka ucapkan. Bahkan mereka tidak menyebarkan ucapan-ucapan para ulama ini kepada manusia untuk menutup kebenaran ini dari masyarakat dan menyembunyikan kebenaran dalam keadaan mereka mengetahui. Mereka menyebarkan syubhat-syubhat yang mereka sangka bahwa pemikiran mereka ini mendukung propaganda seputar membuka wajah (bagi para wanita,pen) dan campur baur laki-laki dan perempuan. Seperti ucapan mereka, “Tidak ada dalilnya bahwa ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) itu dilarang. Tidak ada ulama yang berpendapat seperti ini sebelumnya.” Begitu juga ucapan mereka bahwa ikhtilath itu ada juga di Masjidil Haram, saat thawaf dan saat sa’i. Ucapan mereka yang mengatakan bahwa para wanita juga banyak yang masih bekerja di pasar-pasar, di sawah-sawah dan menggembala bersama para laki-laki. Dan yang lainnya dari syubhat-syubhat. Mereka tidak membiarkan sedikitpun penjelasan-penjelasan akan kemuliaan wanita dalam Islam itu tersebar di hadapan syubhat-syubhat tersebut, dengan tujuan agar mereka dapat melarikan diri dari keterangan akan kebenaran yang mana mereka sendiri tidak memiliki dalil yang memperkuat pendapatnya.

Jawaban dari syubhat-syubhat tersebut secara ringkas dan global adalah sebagai berikut,

  1. Alasan mereka bahwa tidak ada dalilnya yang melarang antara laki-laki dan perempuan. Maka dijawab bahwa dalil-dalil yang menjelaskan hal itu sangat banyak dan melimpah di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Dan para ulama telah menyebarkannya, semoga Allah membalas kebaikan mereka, di dalam banyak buku yang secara khusus membahas itu dan di situs-situs internet. Bisa jadi yang berbahaya itu bermanfaat, karena dalil-dalil ini terpisah-pisah di dalam banyak buku dan perkataan ulama tidak terkumpul dalam satu tempat. Semoga Allah memudahkan dalam pengumpulannya, penyusunannya dan penerbitannya.

(لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَة).

Yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula).” [Al-Anfâl: 42]

  1. Adapun pendalilan mereka bahwa ikhtilath terjadi di Masjidil Haram, pada saat thawaf dan sa’i. Maka jawabannya, bahwa pendalilan ini tidak benar. Karena para wanita shalat di Masjidil Haram di tempat-tempat khusus untuk mereka sebagaimana yang telah disaksikan. Adapun ikhtilath yang terjadi pada saat thawaf dan sa’i maka ini campur baur yang tidak bisa dihindari dikarenakan sesak dan penuhnya manusia (saat haji,pen) dan tidak disengaja. Walaupun demikian maka wajib bagi kaum pria agar menjauhi berdesak-desakan dengan kaum wanita semampu mereka.
  2. Adapun anggapan bahwa para wanita masih ada yang bekerja di pasar-pasar melakukan jual beli, ada yang masih bekerja di ladang-ladang dan tempat menggembala bersama kaum pria. Maka jawabannya, bahwa para wanita bekerja di tempat-tempat tersebut dalam keadaan terpisah dari kaum pria. Di pasar-pasar telah disediakan tempat khusus untuk wanita di mana mereka melakukan jual beli secara terpisah dari kaum laki-laki. Adapun di ladang dan di tempat menggembala maka para wanita bekerja secara terpisah dari kaum pria. Di antara mereka ada jarak yang jauh yang memisahkan kedua jenis makhluk ini satu dengan yang lain.

Sebagai penutup, saya memohon kepada Allah Ta’âlâ agar memberikan ilmu kepada kaum muslimin mengenai agama mereka dan mengembalikan kesalahan-kesalahan mereka kepada kebenaran, mengokohkan pihak yang benar dengan kebenarannya. Menambahkan kepadanya ilmu dan pemahaman.

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallâhu alaihi wa sallam keluarga dan para shahabatnya.

 

Ditulis oleh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Anggota Persatuan Ulama Besar Arab Saudi, 24-12-1431 H

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/13124]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.