3 Shawwal 1438 :: 27 June 2017

Bantahan Terhadap Fatwa Pembolehan Ikhtilath (Campur Baur Pria & Wanita)

Diposting : 15 Jumadil Awal 1436 H / View : 2898x Tags:

Benar, Barangsiapa yang Bukan Ahlinya Janganlah Masuk Ke Dalamnya!

(Bantahan Terhadap Fatwa Pembolehan Ikhtilath)

Bantahan Terhadap Fatwa Pembolehan Ikhtilath (Campur Baur Pria & Wanita)DR. Muhammad bin Nâhidh Al-Qawîz di surat kabar Riyadh pada tanggal 11–7–1432 H telah menulis sebuah ucapan tentang permasalahan ‘Al-Ikhtilath’ (campur baur antara pria dan wanita). Ia telah menyibukkan dirinya dan juga banyak penulis lainnya ingin menceburkan diri ke tengah masyarakat dalam masalah tersebut, dan hendaknya ia dicegah untuk melindungi masyarakat muslim dari terjatuh ke dalam ikhtilath, yang masyarakat lainnya telah terjatuh ke dalamnya dari perkara-perkara fitnah yang terjadi dan timbul dari ikhtilath tersebut.

Dan DR. Muhammad ini sebenarnya telah menyampaikan di akhir kalimatnya, ia berkata, “Apakah pantas bagi seorang yang bukanlah ahli mesin untuk berijtihad dalam masalah mesin, lalu dipegang pendapatnya?” Jawab, “Tidak boleh, sebab ia bukanlah ahli mesin yang tidak memiliki ilmu permesinan.” “Apakah boleh seorang yang bukan dokter untuk menangani obat-obatan?” Jawab, “Tidak boleh, karena ia bukanlah seorang dokter, ia tentunya tidak mengerti akan obat-obatan.” “Apakah bagi seorang muslim itu, apapun profesinya, untuk mendahulukan pendapatnya dari perkara-perkara keislaman?” Jawab, “Ya, bagi seorang muslim. Dengan demikian jelaslah bahwa syarat pertama adalah dengan adanya keahlian. Kemudian setelah ia memiliki keahlian, syarat kedua yaitu pengetahuan, setelah itu barulah boleh baginya.”

Kaidahnya dalam Islam bahwa bertanya itu adalah sebagai pengecualian (bukan pada asalnya; penj.). Allah Ta‘âlâ berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tiada mengetahui.” [Al-Anbiyâ`: 7]

Saya katakan, duhai kiranya si Doktor komitmen dengan kaidah ini. Dirinya sendiri telah melarang orang yang bukan ahlinya untuk masuk kepada permasalahan yang bukan ahlinya, dan si Doktor ini ketika ia masuk ke permasalahan yang bukan ahlinya dan menyebutkan ayat tersebut, diriya tidaklah baik dalam berdalil sehingga ia pun terjatuh dalam kesalahan. Dan dalam kaidah yang telah ditetapkan dalam ilmu tafsir bahwasanya setiap orang yang menggunakan sebuah dalil untuk sebuah kebatilan, maka ayat yang ia jadikan sebagai dalil tersebut adalah bantahan untuk diriya sendiri.

Inilah yang terjadi pada diri si Dokter kita ini, semoga Allah memberi hidayah untuk Kita dan untuknya kepada kebenaran terhadap apa yang telah Kita ucapkan, kita perbuat. Ia telah berkata, “Hendaknya kita tinggalkan dalil-dalil yang bukan pada tempatnya, kemudian hendaknya kita tafakkur terhadap Al-Qur`an yang mulia, sebagaimana yang Allah perintahkan kepada kita.

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci?” [Muhammad: 24]

Dan hendaknya kita memperhatikan sejarah perjalanan para Nabi dan Rasul, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur`an karim.”

Saya katakan, sekiranya dia menyebut dalil-dalil yang disangka bukan pada tempatnya tersebut, maka tentunya Kita akan bisa menyepakatinya atau menolaknya. Dan juga apa sumber rujukan untuk dalil-dalil tersebut. Ini bukanlah metode dialog yang Kita inginkan dan Kita ajak kepadanya.

Kemudian, ia berkata, “Hendaknya kita tinggalkan dalil-dalil yang tidak ditempatkan pada tempatnya,” menurutnya. Kemudian katanya, “Hendakya kita tafakkur terhadap Al-Qur`an Karim.” Apakah yang diinginkan dari hal ini agar kita meninggalkan dalil-dalil dari Sunnah dan kita hanya mencukupkan dengan dalil dari Al-Qur`an saja?! Seperti metodenya orang-orang yang sesat. Atau apa sebenarnya yang diinginkan?! Coba tunjukkan kepada Kita dalil-dalil dari Al-Qur`an yang ia anggap tersebut, padahal sungguh telah sesuai dengan ucapannya, bahwa dalil-dalil tersebut bukan pada tempatnya, hal tersebut dikarenakan bebebara sebab:

Pertama:

Ucapannya, kita mulai dengan permasalahan sang Ibu Nabi Isa yaitu Maryam binti Imran ‘alihas salâm, yang telah dipuji oleh Allah dengan pujian yang tidak diberikan kepada wanita selainnya, dan seluruh kehidupan beliau itu dengan ikhtilath. Beliau pernah dipelihara oleh Zakariya ‘alaihis salâm, yang beliau itu bukanlah mahramnya.

Kita katakan, pengasuhan Nabi Zakariya ‘alaihis salâm terhadap Maryam –semoga Allah meridhainya- terjadi dari hasil undian di antara para pendeta di saat itu.

إِذْ يُلْقُونَ أَقْلامَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ

 “Ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam.” [Âli Imrân: 44]

Sebab, Maryam itu adalah putri dari pimpinan dan juga pembesar mereka, (yakni) Imran. Dan Allah-lah yang mengkhususkan ia dengan Zakariya.

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا

“Maka Rabbnya menerimanya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.” [Âli Imrân: 37]

Dikarenakan juga keberadaan bibinya bersama nabi Zakariya, yaitu Ummu Yahya ‘alaihis salâm, maka ini bukanlah ikhtilath. Sebab Maryam pada saat itu juga masih kecil, dan tatkala telah dewasa maka ia pun berhijab dari mereka.

فَاتَّخَذَتْ مِنْ دُونِهِمْ حِجَابًا

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka.” [Maryam: 17]

Agar beliau bisa menyendiri dan beribadah kepada Rabb-nya dan menuntup diri dari mereka. Dan masuknya Zakariya kepadanya di tempatnya itu untuk memberi makanan dan minuman padanya, karena memang ia adalah yang memeliharanya, maka itu juga bukanlah ikhtilath, sebab beliau itu datang karena ada keperluan bukan untuk duduk khalwat dengan Maryam.

Kedua:

Adapun pendalilan si Doktor dengan kisah ratu Balqis dengan Sulaiman, maka ini adalah pendalilan yang bukan pada tempatnya, sebab kondisi tersebut dalam rangka berdakwah kepada Allah, dan ratu Balqis datang sebagai utusan bersama dengan kaumnya untuk berjumpa dengan Sulaiman yang berakhir dengan keislaman Balqis. Dan kisah masuknya ia ke istana adalah Sulaiman berada di tempat duduk yang tinggi, dan disingkapkannya kedua betisnya, tatkala ia melihat Sulaiman.

حَسِبَتْهُ لُجَّةً

“Dikiranya kolam air yang besar.” [Al-Naml: 44]

Maksudnya, ia mengira air karena beningnya. Sebab istana tersebut licin terbuat dari kaca, dan si Balqis melakukan hal tersebut karena mengkhawatirkan dirinya akan tercebur. Inilah yang menunjukkan bahwa itu bukanlah kebiasaannya membuka pahanya karena perbuatan tersebut meniadakan kesopanan, dan bukanlah kisah ini bisa menjadi dalil untuk membolehkan ikhtilath sebagaimana anggapan si Doktor.

Ketiga:

Adapun pendalilan si Doktor dengan kisah dua wanita dan nabi Musa ‘alaihis salâm yang menggiring hewan ternaknya untuk membolehkan ikhtilath. Maka ini bukanlah dalil untuk hal itu, justru sebaliknya. Sebab kedua wanita tersebut menjauh dari bercampur dengan para pria dan berdesak-desakkan dengan mereka untuk mendapatkan air, hingga akhirnya keduanya pun menunggu.

حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ

“Hingga pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya).” [Al-Qashash: 23]

Maka di sini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa wanita itu menjauh dari ikhtilath dengan para lelaki, berkebalikan dengan pendapat si Doktor. Demikian juga tentang datangnya salah satu dari wanita tersebut untuk mengundang Musa ‘alaihis salâm agar hadir kepada bapaknya, ini juga bukanlah dalil yang membolehkan ikhtilath, seperti anggapan si doctor, karena wanita tersebut datang dengan,

تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ

“Salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan.” [Al-Qashash: 25]

Malu kepada Musa ‘alaihis salâm. Maka di sini menunjukkan akan sikap menjaga diri agar tidak mendekat kepadanya, apalagi ikthtilath! Dan si Doktor juga memastikan bahwa kedua wanita tersebut adalah putri Nabi Syu’aib. Ini adalah perkara yang bukan pada tempatnya, sebab tidaklah ada keterangan dalam ayat bahwa kedua wanita tersebut putri dari Nabi Syu’aib ‘alaihis salâm, lalu dari  mana ia bisa memastikan seperti itu?!

Keempat:

Ucapan si Doktor, sesungguhnya sejarah perjalanan Nabi itu dipenuhi dengan keterangan-keterangan yang menunjukkan bahwa kaum muslimah dahulu juga keluar ke pasar untuk memenuhi kebutuhan harian mereka atau untuk saling berkunjung sesama mereka atau mendatangi masjid yang hal tersebut tidaklah dicegah oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan juga para shahabatnya. Dan tidaklah dibuat istilah ‘ikhtilath’ pada saat itu. Padahal dimaklumi masyarakat kota Madinah pada saat itu ada yang melarang untuk berbicara bagi wanita dan bersentuhan, kemudian si Doktor menggunakan dalil untuk hal itu dengan ayat yang turun mewajibkan hijab bagi para muslimah untuk menjaga diri dari gangguan-gangguan mereka.

Kita katakana, Alhamdulillah, si doktor tahu bahwa hijab adalah sebuah keharusan untuk menjaga diri dari orang-orang yang fasik. Lalu kalau demikian begitu juga ikhtilath, juga diharamkan untuk menjaga para muslimah dari gangguan-gangguan orang-orang yang fasik. Ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan keharaman ikhtilath untuk mencegah dari gangguan-gangguan mereka. Dan memang bukanlah kita melarang keluarnya para wanita untuk memenuhi kebutuhan mereka, namun tanpa ikhtilath.

والحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه.

 Ditulis oleh:

Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Anggota Hai’ah Kibar Ulama

13 – 07 – 1432 H

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/13381]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.