25 Dhu al-Qidah 1438 :: 17 August 2017

Al-Qur’an dan Tafsir dalam Sambutan Pelayan Dua Kota Suci

Diposting : 01 Rabiul Awal 1436 H / View : 1589x Tags: , ,

Al-Qur'an dan Tafsir dalam Sambutan Pelayan Dua Kota SuciKita semuanya telah mendengar sambutan Pelayan Dua Kota Suci yang disampaikan oleh perwakilannya yaitu Gubernur Khalid Faishal, gubernur kota Mekkah Al-Mukarramah, pada saat pembukaan seminar Internasional untuk Tahfidzul Qu`ran Al-Karim yang diadakan di kota Mekkah Al-Mukarramah. Adalah sambutan yang agung yang tepat lagi sesuai pada tempatnya.

Dalam sambutannya disebutkan bahwa Al-Qur`an yang mulia adalah undang-undang yang diberlakukan oleh Kerajaan Arab Saudi semenjak pendiriannya oleh pemerintahan Raja Imam Abdul Aziz Âlu Saûd rahimahullâh. Dan Al-Qur`an yang mulia sebagaimana yang telah diketahui, telah Allah turunkan untuk menjadi hukum, undang-undang di antara manusia tentang semua perkara yang mereka perselisihkan. Barangsiapa yang meninggalkannya karena sombong, maka Allah akan menutup mati hatinya dan barangsiapa yang berusaha mencari petunjuk selain darinya maka Allah akan sesatkan dia. Dan kerajaan ini tidaklah berdiri kuat dan tidaklah berada kecuali dengan berpegang teguhnya kerajaan ini kepada Al-Qur`an baik secara keyakinan maupun secara hukum. Allah Ta’âlâ berfirman kepada Nabi-Nya shallallâhu alaihi wa sallam,

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَّكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ

“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al-Qur`an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab.” [Az-Zukhruf: 43-44]

Kemudian Allah Ta’âlâ berfirman,

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” [Al-Jâtsiyah: 18]

Inilah akidah dan agama yang kita yakini dan kita diperintahkan untuk itu, bahwa Al-Qur`an yang agung adalah undang-undang dan karakteristik hidup kami. Dan tidak akan kami ubah dengan undang-undang apapun yang ada di dunia ini. Demikian juga dengan beragam pemikiran dan ideologi yang busuk.

Di antara kalimat sambutan Raja Sang Pelayan Dua Kota Suci adalah wajibnya mengambil tafsir yang shahih dari Al-Qur`an ini sebagai pedoman dan meninggalkan penafsiran yang salah darinya. Ini adalah perkara yang penting. Penafsiran Al-Qur`an itu tidak diambil dari hasil pemikiran manusia dan pemahaman mereka. Sesungguhnya tafsirnya itu diambil dari orang yang telah Allah wakilkan untuk menafsirkan dan menjelaskannya, yaitu Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam. Allah Ta’âlâ berfirman,

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur`an, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [An-Nahl: 44]

Dan Allah telah menanggung penjelasannya melalui lisan rasul-Nya. Allah Subhânahu berfirman,

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ* فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ* ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” [Al-Qiyâmah: 17-19]

Maka yang menurunkannya, Dialah yang menjelaskannya melalui lisan Rasul-Nya. Dan (hal ini) termasuk penjagaan Allah terhadap Al-Qur`an, baik secara nash ataupun tafsir. Allah Subhânahu berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [Al-Hijr: 9]

Penafsiran dan penjelasan Al-Qur`an yang mulia ini dipelajari para shahabat yang mulia dari Rasulullah. Kemudian para tabi’in mempelajarinya dari mereka, demikian juga para tabiut tabi’in dengan riwayat yang shahih. Kemudian umat mempelajarinya dari mereka, generasi demi generasi. Kemudian para ulama tafsir menulis penafsiran mereka seperti Imam Ibnu Jarir, Imam Ibnu Katsir, Imam Al-Baghawi dan siapa saja yang mengikuti metode mereka dari kalangan ulama ahli Tafsir, yang mana karya-karya mereka telah ditulis di dalam kitab-kitab tafsir rujukan. Dan bentuk penafsiran itu ada empat cara:

  1. Tafsir Al-Qur`an dengan Al-Qur`an. Ayat-ayat yang bersifat global, maka akan dijelaskan rinciannya di dalam ayat yang lain. Ayat-ayat yang masih luas cakupannya maka akan dijelaskan batas-batasannya di ayat yang lain. Sesuatu yang masih umum keterangannya maka akan dijelaskan kekhususannya di ayat-ayat yang lain dari Al-Qur`an yang mulia. Di dalam Al-Qur`an terdapat ayat-ayat yang masih samar hukumnya, ayat-ayat yang jelas hukumnya, ayat-ayat yang sudah dihapus dan ayat-ayat yang menghapus (ayat sebelumnya,pen) yang mana semuanya itu tertulis di dalam kitab-kitab Ushul Tafsir. Orang-orang yang dalam pemahamannya mengembalikan ayat yang mutasyâbih (yang samar hukumnya) kepada ayat yang muhkam (yang jelas hukumnya, pent). Sedangkan orang-orang yang menyimpang, mengikuti ayat-ayat yang mutasyâbih dan tidak mengembalikannya kepada ayat-ayat yang muhkam. Dan Allah telah menjelaskan metode orang-orang yang menyimpang ini di dalam menafsirkan Al-Qur`an agar memperingatkan kita dari mereka dan dari tafsir-tafsir mereka. Dan juga menyebutkan metode penafsiran Al-Qur`an dari kalangan ulama yang kuat ilmunya dalam memahami agama agar kita berjalan di atas jalan mereka.
  2. Tafsir Al-Qur`an dengan sunnah yang shahih yang berasal dari Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam.
  3. Tafsir Al-Qur`an dengan perkataan para shahabat yang meriwayatkan dari Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam.
  4. Tafsir Al-Qur`an dengan perkataan para tabi’in yang meriwayatkan dari para shahabat Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam.

Dan orang-orang yang menyimpang terbagi di dalam banyak kelompok sesat. Di antara mereka adalah Khawarij, Jahmiyyah, Mu’tazilah, Bathiniyah dan siapa saja yang berjalan di atas metode mereka ini dari orang-orang setelah mereka di antara orang-orang yang menginginkan penafsiran Al-Qur`an dengan pemahaman dan pemikirannya dan menyeru kepada penafsiran Al-Qur`an versi baru. Dia berkata, “Menuju Pembaharuan Tafsir Al-Qur`an.” Dengannya dia ingin agar umat Islam terpisah dengan penafsiran generasi salaf. Mengenai mereka ini Rasulullah g telah bersabda

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ وَبِمَا لَا يَعْلَمُ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ، وَأَخْطَأَ وَلَوْ أَصَابَ

Barangsiapa yang berkata mengenai Al-Qur`an dengan pendapatnya dan penafsiran yang tidak dia ketahui ilmunya, maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka, baik itu salah atau pun benar.”

Dan yang diperingatkan Sang Pelayan Dua Kota Suci dari penyimpangan-penyimpangan di dalam tafsir Al-Qur`an yang mulia dalam bentuk senda gurau, maka dialah yang mendapatkan peringatan ini.

Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kita semuanya, berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Semoga shalawat Allah dan salam-Nya atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabat-Nya.

Ditulis oleh:

Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan

Anggota Komite Ulama Besar Arab Saudi

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/12516]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.