24 Dhu al-Qidah 1438 :: 16 August 2017

Mengenal Lebih dekat Rukun ISLAM

Diposting : 24 Rabiul Awal 1436 H / View : 3973x Tags: , , , , ,

Mengenal Lebih dekat Rukun ISLAMKhutbah Pertama:

Segala pujian hanya milik Allah yang telah menyempurnakan agama kita, menggenapkan nikmat-Nya kepada kita, dan telah meridhai Islam sebagai agama kita. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, shalawat dan salam yang banyak dari Allah senantiasa tercurah untuk beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’âlâ dan bersyukurlah kepada-Nya atas hidayah Islam yang telah Dia anugerahkan kepada kalian, dan telah menjadikan kalian sebagai umat terbaik yang pernah dilahirkan untuk umat manusia. Sesungguhnya Islam dibangun di atas lima rukun: Syahadat ‘laa ilaaha illallaah’ dan ‘Muhammadur Rasulullah’, penegakan shalat, penunaian zakat, puasa ramadhan, dan haji ke rumah Allah yang mulia bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Di antara kelima rukun ini, ada salah satu di antaranya yang harus senantiasa ada bersama seorang muslim sepanjang hidupnya, seumur hidupnya. Rukun yang dimaksud adalah syahadat ‘laa ilaaha illallaah’ dan ‘Muhammadur Rasulullah’. Rukun ini harus selalu ada bersama seorang muslim sepanjang umurnya, baik ketika dia sedang mukim maupun ketika sedang safar, baik ketika dia terjaga maupun ketika dia tidur, baik ketika dia sedang sehat maupun ketika dia sedang sakit. Seorang muslim dalam setiap keadaannya tidak boleh terlepas dari kedua syahadat ini, dia senantiasa harus mempersaksikan kedua hal ini secara lahir dan batin, untuk selama-lamanya.

Di antara kelima rukun ini ada yang pelaksanaannya berulang pada seorang muslim sebanyak lima kali sehari, yaitu shalat yang diwajibkan atas setiap muslim yang berulang sebanyak lima kali sehari semalam, yang didirikan secara berjamaah di masjid-masjid. Dengan shalat wajib ini, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dan menggugurkan dosa-dosa.

(وَأَقِمْ الصَّلاةَ طَرَفِي النَّهَارِ وَزُلَفاً مِنْ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ* وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ)

 “Dan dirikanlah shalat di kedua penghujung siang dan di permulaan malam, karena sungguh kebaikan itu bisa menghapuskan keburukan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau mengingat. Dan bersabarlah karena Allah tidak akan menelantarkan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [Hûd: 114-115]

Shalat lima waktu ini diserupakan oleh Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bagaikan sungai yang mengalir di depan pintu rumah salah seorang di antara kita, dimana dia mandi di dalamnya sebanyak lima kali sehari semalam, maka pasti tidak akan tersisa kotoran atau daki di tubuhnya sedikit pun. Demikian halnya shalat-shalat lima waktu ini, jika seorang muslim menegakkannya, maka tidak akan ada dari dosa-dosa kecilnya yang tersisa karena Allah telah menghapuskannya dan menyucikan dirinya dengan shalat lima waktu ini. Itulah keutamaan dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Kemudian, kelima shalat ini tidak memakan banyak waktu dalam pelaksanaannya dan tidak pula menghalangi seorang muslim dari pekerjaan dan tugasnya, bahkan sebaliknya, shalat ini akan membantu dirinya.

(وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ)

“Dan minta bantuanlah dengan kesabaran dan shalat. Dan hal ini berat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang khusyu’.” [Al-Baqarah: 45]

Maka shalat justru membantu seorang muslim, bukannya menjadi penghalang baginya dalam mencari rezeki. Shalat tidak menghalanginya dari pekerjaan yang dia butuhkan, namun shalat justru menyucikannya dari dosa-dosa dan membantunya dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Adalah Nabi shallallâhu alaihi wa sallam, jika beliau mengalami suatu kesusahan maka beliau bersegera untuk mendirikan shalat. Dan beliau juga pernah bersabda,

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا، أَرِحْنَا بِهَا

“Wahai Bilal, tegakkanlah (iqamah untuk mendirikan) shalat. Buatlah kami beristirahat dengan shalat. Buatlah kami beristirahat dengannya.”

Beliau tidak mengatakan, “Istirahatkanlah kami darinya.”

Maka shalat adalah ketenangan bagi seorang muslim, bagi siapa saja yang menjaganya, mengetahui kedudukannya, dan senantiasa menegakkannya. Karena shalat akan memberinya kekuatan dan bantuan dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Di antara kelima rukun ini ada yang pelaksanaannya berulang sekali sepekan, yaitu shalat Jum’at. Sebuah shalat yang agung, dimana siapa saja yang bersegera mendatanginya, mendengarkan khutbah, lalu mendirikannya bersama kaum muslimin, Allah akan menghapuskan dosa-dosa yang dia lakukan antara Jum’at itu dengan Jum’at pekan depannya ditambah tiga hari. Inilah shalat Jum’at, sebuah shalat yang agung.

Di antara kelima rukun ini, ada yang pelaksanaannya berulang sekali dalam setahun, yaitu zakat pada harta orang-orang yang kaya.

(وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ)

“Dan dalam harta-harta mereka terdapat hak bagi orang yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”

Zakat ini dikeluarkan dari harta mereka sekali dalam setahun. Adapun tanaman, maka zakatnya wajib ditunaikan setiap kali panen.

(وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ)

“Dan tunaikanlah haknya setiap hari panen.”

Zakat ini menyucikan harta, menyucikan seorang muslim, dan merupakan bantuan bagi orang-orang yang fakir. Dan zakat merupakan bentuk solidaritas islamiah yang agung. Kemudian, zakat ini mempunyai nilai yang harus dikeluarkan. Nilainya memang kecil, namun itu yang menjadi sebab hartanya bertambah, jiwanya tersucikan, dan tercukupinya kebutuhan kaum muslimin yang fakir dan yang membutuhkan.

Di antara kelima rukun ini ada yang dilaksanakan oleh seorang muslim sekali dalam setahun, yaitu puasa di bulan Ramadhan. Alhamdulillah bulan ini telah mendatangi kita dan kita telah berpuasa di dalamnya, dan kita memohon kepada Allah agar berkenan menerima puasa kita. Puasa ini kita laksanakan sekali dalam setahun, dan dia merupakan ibadah yang agung.

(وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنتُمْ تَعْلَمُونَ)

“Dan berpuasa lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” [Al-Baqarah: 184]

Di antara kelima rukun ini ada yang pelaksanaannya hanya sekali seumur hidup bagi yang mampu, yaitu haji dan umrah. Karena tatkala pelaksanaan haji dan umrah mengharuskan safar, maka seseorang yang melaksanakannya membutuhkan bekal dan keamanan. Karenanya Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menjadikan kewajibannya sekali seumur hidup bagi yang mempunyai kemampuan, baik kemampuan dari sisi keamanan perjalanan, dari sisi harta, dan juga dari sisi kesehatan, karena dia akan menunaikan haji sekali dalam seumur hidupnya. Inilah rukun Islam yang kelima.

Maka agama ini adalah agama yang agung. Dan semua amalan serta ketaatan selain dari kelima rukun ini, maka itu adalah penyempurna dan pelengkap baginya. Karena Islam memiliki banyak cabang keimanan dan ketaaatan, namun semuanya berdiri di atas kelima rukun ini. Sehingga tidak akan sah keislaman seseorang -betapapun banyaknya ketaatan dan taqarrub yang dia lakukan- sampai dia menegakkan kelima rukun ini. Sebagaimana suatu bangunan tidak akan bisa tegak kecuali di atas tiang dan dinding, maka demikian halnya agama Islam ini, dia tidak akan tegak kecuali di atas kelima rukun ini.

Kemudian, tatkala kita telah menunaikan puasa, Allah memasukkan kita ke dalam rukun Islam yang terakhir, yaitu haji. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

(الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ)

“Haji itu pada bulan-bulan yang sudah diketahui.” [Al-Baqarah: 197]

Bulan-bulan yang dimaksud adalah bulan Syawal, bulan Dzulqa’dah, dan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Inilah hari-hari atau bulan-bulan yang Allah syariatkan padanya ihram untuk haji. Adapun rukun haji, maka dia dilaksanakan pada hari Arafah dan setelahnya pada hari ‘id dan hari-hari tasyrik. Hanya saja ihram untuk haji sudah terhitung dan sah dilakukan sejak dari hari pertama Syawal, sah untuk berihram pada hari raya idul fitri. Karenanya Allah berfirman,

(الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ)

“Haji itu pada bulan-bulan yang sudah diketahui. Karenanya siapa saja yang hendak menunaikan haji pada bulan-bulan itu, maka janganlah dia melakukan perbuatan keji, kefasikan, dan berdebat dalam ibadah haji.” [Al-Baqarah: 197]

Kita alhamdulillah senantiasa berpindah dari satu ibadah menuju ibadah lainnya. Setelah kita selesai berpuasa, kita berpindah menuju bulan-bulan haji, yang merupakan bulan-bulan yang penuh keagungan. Bulan-bulan yang penuh berkah, karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan, di dalamnya ada tanggal sepuluh Dzulhijjah, di dalamnya ada hari Arafah, dan di dalamnya ada hari-hari tasyrik. Ini adalah hari-hari yang agung, yang datang setelah berakhirnya bulan Ramadhan yang penuh berkah. Maka kita senantiasa berpindah dari satu ibadah menuju ibadah lainnya, dari satu keutamaan dan nikmat menuju keutamaan dan nikmat lainnya, tidak terputus-putus, alhamdulillah.

Karenanya orang yang diharamkan mendapatkan kebaikan adalah orang yang lalai dari semua nikmat ini dan tidak memuliakannya. Maka setiap kehidupan dan umur seorang muslim adalah ibadah kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, tidak selayaknya dibiarkan berlalu begitu saja dengan sia-sia.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ* وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنْ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [Âli Imrân: 102-103]

Semoga Allah memberkahi kita semua dengan Al-Qur`an yang agung, dan memberikan manfaat kepada kita semua dengan ayat-ayat dan dzikir yang penuh kebijaksanaan. Aku memohon ampun kepada Allah untuk kita semua dan untuk semua kaum muslimin dari semua dosa. Karena itu minta ampunlah kalian kepada-Nya, karena sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

 

Khutbah Kedua:

Segala pujian hanya milik Allah atas keutamaan dan kebaikan-Nya, dan aku bersyukur kepada-Nya atas taufik dan nikmat-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, sebagai pengagungan terhadap-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Shalawat dan salam yang banyak dari Allah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Amma ba’du,

Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah Ta’âlâ dan ketahuilah bahwa keutamaan dari Allah senantiasa meliputi kalian. Seorang muslim adalah hamba Allah di setiap waktu, di setiap keadaaan, dan di setiap tempat. Bertakwalah kalian kepada Allah. Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. Iringilah keburukan dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan orang lain dengan perilaku yang baik.”

Di antara tanda diterimanya suatu kebaikan oleh Allah adalah adanya kebaikan yang baru setelahnya. Karenanya kita harus mengiringi setiap kebaikan dengan kebaikan pula. Hendaknya kita mengiringi bulan ini dengan berbagai ketaatan dan ibadah, dan jangan sampai kita lalai dari berdzikir kepada Allah dan jangan sampai kita menelantarkan kewajiban-kewajiban dari Allah. Sungguh Allah Subhânahu wa Ta’âlâ senantiasa melihat kita sepanjang waktu, tidak hanya pada bulan Ramadhan. Dan ketahuilah bahwa dianjurkan untuk mengiringi bulan Ramadhan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. Berdasarkan sabda Nabi shallallâhu alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتَّةَ مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَّمَا صَامَ الدَّهْر

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan lalu dia mengiringinya dengan 6 hari di bulan syawal, maka seakan-akan dia telah berpuasa setahun penuh.”

Hal itu karena 1 kebaikan dibalas dengan 10 kali lipat. Sehingga barangsiapa yang berpuasa penuh di bulan Ramadhan, maka dia mendapatkan pahala 10 bulan puasa. Dan barangsiapa yang berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia mendapatkan pahala 2 bulan puasa. Tatkala setahun itu terdiri dari 12 bulan, maka seakan-akan dia telah berpuasa sepanjang tahun. Karenanya Nabi shallallâhu alaihi wa sallam bersabda, “Maka seakan-akan dia telah berpuasa setahun penuh.” Ini adalah keutamaan yang besar. Berpuasa selama enam hari ini dilakukan langsung setelah Ramadhan, setelah hari ‘id, ini yang lebih baik. Atau boleh juga dilakukan tidak secara berurutan, melainkan dipisah sepanjang bulan Syawal. Atau bisa juga berpuasa di hari-hari pertama Syawal atau di pertengahannya atau di akhirnya, berdasarkan sabda Nabi, “Di bulan syawal.” Intinya, seseorang berpuasa selama enam hari di bulan Syawal, baik di awal bulan maupun di akhir bulan, baik berturut-turut maupun tidak, agar dia bisa mendapatkan pahala yang besar ini.

Kemudian ketahuilah bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah memerintahkan kalian dengan perintah yang dilakukan terlebih dahulu oleh-Nya kemudian oleh para malaikat-Nya kemudian oleh kalian. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)

“Sungguh Allah dan para malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam penghormatan.” [Al-Ahzâb: 56]

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan keselamatan kepada hamba dan Rasu-lMu, Nabi kami Muhammad. Ya Allah ridhailah para khalifahnya yang senantiasa mendapatkan petunjuk, para imam penunjuk menuju hidayah; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, dan juga para sahabat seluruhnya, para tabi’in, dan semua yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari pembalasan.

Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, dan binasakanlah musuh-musuh agama-Mu. Jadikanlah negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin sebagai negeri yang aman lagi tentram, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, siapa saja yang menghendaki keburukan terhadap Islam dan kaum muslimin, maka buatlah dia sibuk dengan dirinya sendiri, kembalikanlah tipu dayanya kepada dirinya sendiri, dan jadikanlah kebinasaannya pada kemundurannya, sungguh Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu.

Ya Allah jagalah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah jagalah negeri-negeri kaum muslimin. Ya Allah, jagala negeri-negeri kaum muslimin dari semua keburukan dan hal yang dibenci. Ya Allah, peliharalah keamanan kami, keimanan kami, dan ketentraman kami di negeri kami. Perbaikilah pemimpin kami dan pilihkan untuk kami pemimpin yang terbaik di antara kami. Jagalah kami dari keburukan orang-orang yang buruk di antara kami dan janganlah Engkau menjadikan kami dikuasai -karena dosa-dosa kami- oleh orang yang takut kepadamu dan tidak menyayangi kami, dengan kasih sayang darimu wahai yang Maha Merahmati.

Ya Allah binasakanlah musuh-musuh agama-Mu di berbagai tempat, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah hitunglah jumlah mereka, binasakanlah mereka, dan jangan Engkau sisakan seorang pun dari mereka, sungguh Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu.

(عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ* رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)

“Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan Kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. dan ampunilah Kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Wahai hamba Allah,

(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” [An-Nahl: 90]

Ingatlah kepada Allah niscaya Dia akan mengingat kalian, bersyukurlah atas semua nikmatNya niscaya Dia akan menambahnya, dan sungguh berzikir kepada Allah itu lebih besar. Dan Allah Maha Mengetahui semua perbuatan kalian.

[sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/14076]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.