1 Rabi II 1439 :: 19 December 2017

Kaum Mukminin itu Bersaudara

Diposting : 10 Rabiul Awal 1436 H / View : 2473x Tags: ,

Kaum Mukminin itu BersaudaraKhutbah Pertama:

Segala pujian hanya milik Allah yang telah menjadikan kaum muslimin sebagai saudara yang saling menyayangi. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya, al Malik al Haq al Mubin. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya yang jujur lagi terpercaya. Shalawat dan salam yang berlimpah dari Allah senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan semua yang mengikuti beliau.

Amma ba’du:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah telah menjadikan kaum mukminin sebagai saudara yang saling menyayangi, mulai dari mukmin yang pertama hingga yang terakhir.

(رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman sebelum kami, dan jangan Engkau jadikan di dalam hati-hati kami perasaan dengki kepada orang-orang yang beriman. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Dan Allah Jalla wa ‘Ala menurunkan surah al Hujurat, yang di dalamnya Allah menjelaskan semua hal yang bisa merusak kasih sayang ini. Allah melarang semuanya dan memperingatkan darinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang yang fasik dengan membawa berita, maka periksalah kebenarannya. (Jangan sampai) kalian menimpakan (keburukan) kepada suatu kaum tanpa kalian ketahui, yang menyebabkan kalian akan menyesali perbuatan kalian.”

“Jika datang kepada kalian seorang yang fasik.” Orang fasik adalah orang yang tidak diterima persaksian dan pengabarannya karena adanya cacat pada agamanya dengan dia melakukan dosa-dosa besar. Inilah orang yang fasik. Termasuk orang fasik adalah orang yang menyebarkan gosip dan kabar-kabar dusta, dan orang yang mengadu domba untuk merusak persatuan kaum muslimin dan memecah belah mereka. Inilah orang yang fasik. Orang fasik adalah orang yang melenceng dari ketaatan kepada Allah. Sehingga orang fasik adalah orang yang melenceng dari menaati Allah yang telah memerintahkan untuk saling menyayangi, menyambung silaturahmi, dan bersatu padu.

Firman Allah, “Maka periksalah kebenarannya,” maksudnya: Verifikasilah beritanya, apakah itu kabar yang benar atau dusta. Jika itu kabar dusta maka tolaklah dan jika kabar itu benar maka janganlah kalian menyebarkannya, namun sikapilah dengan cara yang lebih bijaksana. Sembunyikan kabar itu guna menjaga kasih sayang di antara kaum muslimin, menutup pintu fitnah, dan mencegah berhasilnya usaha para perusak itu.

Karenanya Allah berfirman, “Kalian menimpakan,” yakni: Jangan sampai “kalian menimpakan (keburukan) kepada suatu kaum tanpa kalian ketahui.” Kalian tidak mengetahui kebenaran kabar itu lantas kalian membenarkannya, kaum itu tidak bersalah.

“Yang menyebabkan kalian akan menyesali perbuatan kalian.” Kalian menyesali perbuatan kalian yang telah menimpakan keburukan kepada orang-orang yang tidak bersalah, hanya karena kabar dusta ini. Kalian akhirnya menyesali perbuatan kalian, namun ketika itu penyesalan sudah tidak bermanfaat. Karena jika hati-hati itu sudah saling menjauh dan membenci maka tidak mungkin untuk mengembalikannya seperti semua, tidak ada yang mampu melakukan hal itu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْراً مِنْهُنَّ)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sebagian kaum mengejek kaum yang lain, karena bisa jadi mereka (yang diejek) lebih baik daripada mereka (yang mengejek). Dan jangan juga sebagian wanita mengejek wanita yang lain, karena bisa jadi mereka (yang diejek) lebih baik daripada mereka (yang mengejek).”

Demikian halnya mengejek dan merendahkan orang lain, karena itu merupakan sebab lahirnya kebencian, penghinaan, dan perendahan kepada orang lain. Padahal seorang mukmin itu mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Allah, sehingga tidak boleh dilanggar dan tidak boleh diejek. Dan sama halnya di antara kaum lelaki, semua hal ini juga diharamkan di antara kaum wanita. Bahkan kaum wanita lebih sering terjatuh dalam perbuatan ini dibandingkan kaum lelaki, dan hal ini sering terjadi di antara mereka. Mereka adalah saudari dalam keimanan, karenanya tidak sepatutnya mereka menjadikan perbuatan mengejek dan merendahkan wanita lain sebagai pekerjaan mereka. Maka Allah memerintahkan kaum wanita dengan perintah yang Dia berikan kepada kaum lelaki, karena kaum wanita adalah saudara lelaki (dalam hukum syariat, penj.). Juga karena jika kaum wanita baik maka akan baik pula keluarga dan masyarakat, namun jika mereka rusak maka akan rusak pula keluarga dan masyarakat, karena mereka merupakan pondasi yang masyarakat dibangun di atasnya. Dan juga karena mereka adalah makhluk yang lemah akalnya sehingga mudah terpengaruh oleh kabar burung yang membuat mereka mengejek dan merendahkan orang lain.

“Janganlah sebagian kaum mengejek kaum yang lain,” “Dan jangan juga sebagian wanita mengejek wanita yang lain.” Karena bisa jadi orang yang diejek itu lebih baik daripada yang mengejek, bahkan demikianlah kenyataannya. Orang-orang yang mengejek dan merendahkan orang lain itu sebenarnya mereka yang mempunyai kekurangan yang besar. Jika tidak demikian, seandainya diri mereka tidak memiliki kekurangan, niscaya mereka tidak akan merendahkan orang lain.

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

(وَلا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ)

“Dan janganlah kalian mencela diri-diri kalian sendiri.”

Mencela juga merupakan bentuk merendahkan. “Diri-diri kalian sendiri,” maksudnya: Sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, karena kaum mukminin itu ibarat satu jiwa. Tidak ada orang yang akan mencela dirinya sendiri, namun dia bisa mencela saudaranya, sementara saudaranya itu bagian dari dirinya, karena kaum mukminin itu ibarat satu nyawa, bagaikan satu tubuh, dan bagaikan satu bangunan.

(وَلا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ)

 “Jangan kalian mencela diri-diri kalian sendiri dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

Al alqab merupakan bentuk plural dari kata laqob, yaitu gelar/panggilan yang memberikan kesan pujian atau celaan. Dan ayat ini melarang penggunaan gelar-gelar yang mengandung celaan, seperti merendahkan orang lain dengan gelar ‘pelit’, ‘bodoh’, dan aib-aib lainnya. Sampai seandainya pun memang seseorang mempunyai aib seperti itu, maka sepatutnya dia menyembunyikannya dan tidak menampakkannya. “Dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

(بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ)

“Kefasikan adalah nama terburuk setelah keimanan.”

Maka Allah menamakan perbuatan menggelari orang lain dengan gelar yang buruk sebagai perbuatan fasik.

“Kefasikan adalah nama terburuk.” Kefasikan adalah melenceng dari ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla setelah keimanan. Ini menunjukkan bahwa menggelari orang lain dengan gelar yang buruk merupakan perbuatan yang menafikan kesempurnaan iman dan menguranginya.

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

(وَمَنْ لَمْ يَتُبْ)

“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat.”

Allah menghukumi perbuatan di atas sebagai dosa yang seseorang wajib bertaubat darinya. “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat” dari perbuatan mengganggu orang lain dengan gelar yang buruk,

(فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ)

“Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

Allah menamakan pelakunya sebagai orang yang zalim. Hal itu karena zhalim adalah perbuatan menganiaya orang lain dan melecehkan hak-hak mereka. Orang yang mengganggu orang lain dengan gelar yang buruk adalah orang yang melecehkan hak-hak orang lain, sama seperti orang yang merugikan harta orang lain. Bahkan melecehkan kehormatan dan kedudukan orang lain itu lebih buruk dibandingkan merugikan harta mereka. Karena seseorang yang dilecehkan kehormatannya itu merasa lebih kehilangan daripada jika dia kehilangan hartanya. Karenanya Allah melarang untuk mengganggu orang lain dengan gelar yang buruk, dan Dia menamakannya sebagai kefasikan dan bahwa perbuatan itu mengurangi keimanan. Allah memerintahkan pelakunya untuk bertaubat, dan Dia menyatakan bahwa siapa saja yang tidak bertaubat darinya maka dia adalah orang yang zalim, dan tempat kembali orang yang zhalim adalah kegelapan, wal ‘iyadzu billah. “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.”

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنْ الظَّنِّ)

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka.”

Prasangka ini juga bisa mempengaruhi seseorang. Engkau berprasangka buruk kepada saudaramu, sementara hukum asal seorang mukmin adalah saleh dan baik. Karenanya jangan kamu berprasangka tentangnya kecuali kebaikan, dan jangan berprasangka buruk kepadanya. Jauhilah kebanyakan prasangka,”

)إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ)

“Karena sebagian bentuk prasangka adalah dosa.”

Maka sesuatu yang banyak harus ditinggalkan untuk menghindari sesuatu yang sedikit, karena buruknya sesuatu yang sedikit itu. “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian bentuk prasangka adalah dosa.” Maka bagaimana lagi jika sangkaan buruk itu yang mendominasi?! Wal ‘iyadzu billah. Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

(وَلا تَجَسَّسُوا)

“Dan janganlah kalian saling memata-matai.”

Jangan kalian mencari-cari aib sesama manusia yang tersembunyi, dan jangan memata-matai mereka, namun tutupilah aib mereka. Jika kalian mempunyai kritikan terhadap mereka, maka nasehatilah mereka secara sembunyi-sembunyi. Adapun mencari-cari aib orang lain lalu mengumbarnya, maka Allah telah mearang perbuatan tersebut. Dalam sebuah hadits disebutkan:

“من تتبع عورة أخيه تتبع الله عورته، ومن تتبع الله عورته فضحه على رؤوس الأشهاد”

“Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya maka Allah akan mencari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah cari aibnya, Dia akan mempermalukannya di hadapan seluruh makhluk.”

Jika kamu mencari-cari aib orang lain dengan tujuan untuk mengumbar dan menyebarkannya, maka Allah akan mencari aibmu -dan Dia Subhanahu wa Ta’ala adalah yang paling tahu tentang dirimu-, dan akan menyebarkan aib-aibmu di tengah-tengah manusia sebagai hukuman untukmu. Kita memohon keselamatan kepada Allah. “Dan janganlah kalian saling memata-matai.”

Kemudian Allah berfirman:

(وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً)

“Dan jangan sebagian kalian menggibahi sebagian lainnya.”

Ini termasuk sebab terputusnya hubungan baik, sebab perpecahan dan saling membenci. Gibah, tahukah kamu apa itu gibah? Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskannya dengan sabdanya:

“هي ذكرك أخاك بما يكره”

 “Dia adalah engkau berkomentar tentang saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.”

Dia mengomentari perilaku buruk saudaranya di belakangnya, dia mengomentarinya ketika saudaranya itu tidak ada di hadapannya. “Engkau berkomentar tentang saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut anda jika apa yang saya sebutkan itu memang betul ada pada diri saudaraku itu? Beliau menjawab:

“إن كان فيه ما تقول فقد اغتبته، وإن لم يكن فيه ما تقول فقد بهته”

“Jika apa yang kamu sebutkan itu memang betul ada pada dirinya maka sungguh engkau telah menggibahi dirinya. Dan jika apa yang kamu sebutkan itu tidak ada pada dirinya maka sungguh engkau telah menuduhnya.”

Maksudnya: Engkau telah berdusta atas nama dirinya. Maka wahai saudaraku, jagalah lisanmu dari gibah. Kemudian Allah menjelaskan betapa buruknya gibah:

(أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً)

“Apakah salah seorang dari kalian suka jika dia memakan daging bangkai saudaranya?!”

Seandainya kamu mendatangi jenazah, apakah kamu sanggup untuk memakan dagingnya? Tentunya tidak ada seorang pun yang akan membenarkan perbuatan itu, dan itu merupakan perbuatan yang dibenci. Orang yang menggibahi orang lain bagaikan dia memakan dagingnya.

(أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ)

“Apakah salah seorang dari kalian suka jika dia memakan daging bangkai saudaranya?! Tentu kalian tidak menyukainya. Dan bertakwalah kepada Allah karena sungguh Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.”

Jika di antara kaum muslimin terjadi keributan, perpecahan, dan peperangan, maka mereka wajib untuk didamaikan.

(وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا)

“Dan jika ada dua kelompok kaum mukminin yang berperang, maka damaikanlah di antara keduanya.”

Inilah langkah pertama, yaitu perdamaian. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

(وَالصُّلْحُ خَيْرٌ)

“Perdamaian itu lebih baik.”

Perdamaian adalah meredakan ketegangan di antara dua pihak yang bertikai, sampai pihak yang satu bisa menerima pihak yang lain, serta perselisihan dan perpecahan bisa dihindarkan. Terlebih jika pertikaian itu melibatkan senjata tajam sehingga bisa menyebabkan pertumpahan darah, maka mereka wajib didamaikan dan tidak boleh dibiarkan untuk saling membunuh. Kita wajib menengahi mereka untuk mendamaikan mereka sebisa mungkin, walaupun kita harus banyak berkorban untuk perdamaian tersebut, kita harus memberikan nasehat kepada mereka.

Kemudian langkah kedua adalah: Jika salah satu dari kedua kelompok itu ada yang menolak perdamaian

(فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي)

“Maka perangilah kelompok yang melampaui batas.”

Kaum muslimin wajib memerangi kelompok yang melampaui batas, yang enggan menerima perdamaian.

(فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ)

“Maka perangilah kelompok yang melampaui batas sampai mereka kembali kepada perintah Allah.”

Yakni: Meninggalkan perbuatan mereka sekarang menuju perintah Allah.

(فَإِنْ فَاءَتْ)

“Jika mereka kembali,”

Yakni: Jika mereka rujuk.

(فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ)

“Maka damaikanlah keduanya dengan cara yang adil.”

Mintalah yang zhalim untuk memenuhi hak orang yang dia zhamili, dan mintalah orang yang salah untuk memenuhi hak korbannya.

(أَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ)

“Damaikanlah keduanya dengan cara yang adil. Dan berlaku luruslah, karena sungguh Allah mencintai orang-orang yang berlaku lurus.”

Yakni: Orang-orang yang adil. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

(إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ)

“Sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara.”

Bersaudara dalam hal nasab? Bukan. Karena terkadang mukmin yang satu tinggal di ujung bumi yang satu sementara yang lainnya tinggal di ujung bumi lainnya, dan mereka tidak saling mengenal, namun keimanan menyatukan mereka. “Sesungguhnya kaum mukminin itu bersaudara.” Dimana pun, seorang mukmin itu saudara mukmin lainnya. Dimana pun seorang mumin berada dan warga negara apapun dia, orang arab adalah saudara non arab yang muslim, yang berkulit putih adalah saudara muslim yang berkulit hitam. Tidak ada perbedaan antara kaum muslimin dan mukminin, tidak pada negara, tidak pada warna kulit, dan tidak pada nasab, karena mereka adalah saudara seiman, iman yang menyatukan mereka. Inilah persaudaraan sejati. Adapun persaudaran nasab, maka jika dia berbenturan dengan persaudaraan iman, maka persaudaraan nasab harus disingkarkan.

(لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ)

“Kamu tidak akan menemukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, lantas dia berkasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya, walaupun mereka adalah ayah-ayah mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, atau keluarga mereka.”

Maka kasih sayang itu hanya dibangun di atas keimanan semata, bukan di atas hasrat, bukan di atas rasa memiliki, dan bukan di atas hal-hal yang bersifat jahiliah. Kasih sayang hanya dibangun di atas keimanan yang Allah telah anugerahkan kepada para hambaNya.

Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَتَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً)

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telag menciptakan kalian dari satu jiwa, lalu dia menciptakan dari jiwa itu pasangannya. Lalu Dia melahirkan dari keduanya anak keturunan lelaki dan wanita yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang kalian senantiasa saling meminta satu sama lain dengan namaNya, dan jagalah hubungan silaturahmi kalian. Sungguh Allah senantiasa mengawasi kalian.”

Semoga Allah merahmati kita semua dengan al Qur`an yang agung, dan memberikan manfaat kepada kita dengan ayat-ayat dan zikir yang [enuh dengan kebijaksanaan. Aku mengucapkan ini, seraya memohon ampun kepada Allah -untuk kita dan untuk semua kaum muslimin- dari semua dosa. Maka minta ampunlah kalian kepadaNya, karena sungguh dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

Khutbah Kedua:

Segala pujian hanya milik Allah atas semua keutamaan dan kebaikanNya. Aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Shalawat dan salam yang banyak senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ)

“Wahai sekalian manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang lelaki dan wanita, lalu Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Berilmu lagi Maha Mengetahui.”

Allah berbicara kepada seluruh manusia secara umum setelah Dia berbicara kepada kaum mukminin secara khusus. Allah berbicara kepada seluruh manusia dan menjelaskan kepada mereka asal usul mereka, bahwa Dia menciptakan mereka dari Adam dan Hawa, dari seorang lelaki dan wanita. Tidak ada kelebihan sebagian mereka di atas sebagian yang lain dalam hal nasab, karena mereka semua adalah anak keturunan Adam. Kelebihan hanya bisa diraih dengan keislaman, keimanan, dan akhlak yang terpuji. Hal-hal inilah yang mempunyai kelebihan. “Sungguh yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” Maka tidak ada hal yang bisa mendekatkan kepada Allah selain ketakwaan. Nasab seseorang tidak akan mendekatkan dirinya keapda Allah walaupun dia dari keluarga yang terpandang nasabnya.

(فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ* فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ* وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ)

“Jika sangkakala telah ditiup, maka ketika itu tidak ada lagi hubungan nasab di antara mereka dan mereka tidak akan saling bertanya satu sama lain. Siapa saja yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa saja yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri-diri mereka sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.”

Kita memohon keselamatan kepada Allah. Nasab itu hanya ada di dunia, dan tujuannya hanya untuk bisa saling mengenal. Kamu harus mengetahui bahwa kamu berasal dari keturunan si fulan agar kamu bisa menyambung hubungan baik dengan keturunannya yang lain, agar sesama suku bisa bersatu. Adapun nasab itu bisa mengangkat atau merendahkan derajat, maka itu tidak ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Sungguh yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

(وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ* تَلْفَحُ وُجُوهَهُمْ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ)

“Dan siapa saja yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan diri-diri mereka sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Wajah-wajah mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.”

Dimana nasab mereka? Nasab mereka telah sirna dan tidak tersisa kecuali amalan-amalan mereka, dan tidak tersisa kecuali ketakwaan, ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wahai hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa ucapan terbaik adalah kitab Allah dan petunjuk terbaik adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Amalan terburuk adalah yang diada-adakan dan semua bid’ah adalah kesesatan. Wajib atas kalian untuk berkomitmen dengan persatuan, karena tangan Allah berada di atas kelompok yang bersatu, dan siapa yang menyendiri maka dia akan sendirian masuk ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman:

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat kepada sang Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan RasulMu, Nabi kami Muhammad. Ya Allah, ridhailah para khalifahnya yang mendapatkan petunjuk, para imam yang menunjuki kebenaran; Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Dan kepada para sahabat seluruhnya, juga para tabi’in, dan siapapun yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari pembalasan.

Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, dan binasakanlah semua musuh agamaMu. Jadikanlah negeri ini dan semua negeri kaum muslimin sebagai negeri yang aman lagi tentram, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah perbaikilah pemerintah kami dan berilah taufik kepada mereka menuju kebaikan mereka dan kebaikan Islam dan kaum muslimin. Ya Allah jagalah agama ini. Ya Allah jagalah semua negeri kaum muslimin. Ya Allah lindungilah semua kaum muslimin dari keburukan dan hal-hal yang dibenci. Ya Allah, siapa saja yang menginginkan keburukan terhadap Islam dan kaum muslimin, maka sibukkanlah dia dengan dirinya, kembalikanlah tipu dayanya kepada dirinya sendiri, dan jagalah kami dari keburukannya, sungguh Engkau Maha Mamu atas segala sesuatu.

Wahai hamba Allah,

(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)

“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil, berbuat baik, dan menyantuni karib kerabat. Dan Dia melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan kezhaliman. Dia memperingatkan kalian semoga kalian mengingatnya.”

(وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)

“Dan penuhilah perjanjian dengan Allah jika kalian berjanji dan jangan kalian membatalkan sumpah-sumpah itu setelah kalian meneguhkannya, sedang kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi. Sungguh Allah mengetahui apa yang kalian perbuat.”

Ingatlah Allah niscaya Dia akan mengingat kalian dan syukurilah semua nikmatNya niscaya dia akan menambahnya. Sungguh mengingat Allah itu jauh lebih besar dan Allah mengetahui apa yang kalian lakukan.

Khutbah Jumat 28 Muharram 1433 H

[Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/13634]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.