2 Safar 1439 :: 22 October 2017

(Khutbah) Hukuman yang Allah Berikan Terhadap Pelaku Maksiat dan Orang-Orang Kafir

Diposting : 30 Jumadil Awal 1436 H / View : 3835x Tags:

Hukuman yang Allah Berikan Terhadap Pelaku Maksiat dan Orang-Orang KafirKhutbah Pertama:

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta, Dia-lah yang berfirman dalam Kitab-Nya yang terang lagi jelas.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Ar-Rûm: 41]

Dan saya bersaksi bahwasanya tiada yang berhak diibadahi selain Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, Maha Suci Dia dari segala kesyirikan yang para pelaku kesyirikan lakukan, dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya yang jujur lagi dipercaya. Semoga shalawat dari Allah untuknya dan untuk keluarganya serta para shahabatnya seluruhnya, beserta salam yang berlimpah.

Adapun setelah itu,

Wahai sekalian manusia! Bertakwalah kepada Allah Ta‘âlâ, dan jauhilah perbuatan dosa-dosa dan maksiat. Bertaubatlah kepada Allah Azza wa Jalla karena perbuatan dosa dan maksiat adalah penyebab kebinasaan dunia dan akhirat, penyebab dikeluarkannya dua orang tua kita dari surga, karena dosa yang dilakukannya. Namun selama bertaubat kepada Allah, maka Allah-pun menerima taubat keduanya.

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Baqarah: 37]

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan Kami, Kami telah menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami termasuk orang-orang yang merugi.” [Al-A’râf: 23]

Dan tidaklah ada yang menjadi sebab Iblis diusir dari kerajaan langit dan bumi dan dilaknat, (serta menjadi) pemimpin dalam segala kejelekan, kecuali karena kesombongannya terhadap perintah Allah Subhânahu wa Ta’âlâ ketika ia perintahkan untuk sujud kepada Nabi Adam, lalu Iblis sombong, merasa besar diri dan hasad terhadap Nabi Adam, lalu ia tidak bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla justru terus menerus dalam perbuatan pelampauan batasnya hingga Allah pun melaknatnya dan mengusirnya serta menjadikannya sebagai pangkal dan pimpinan dari segala kejelekan. Dan apakah yang menyebabkan dibenamkannya penduduk bumi  hingga binasa semua mereka dari awal hingga akhirnya, dengan lautan yang setinggi gunung yang tidaklah ada yang bisa selamat kecuali nabi Nuh alaihissalâm dan yang bersama beliau dalam kapal. Dan apa juga yang menyebabkan binasanya kaum ‘Âd dengan angin yang sangat kencang, yang menjadikan mereka,

أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ

“Mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” [Al-Hâqqah: 7]

Dan apakah penyebab binasanya kaum Tsamud dengan suara yang menghancurkan hati mereka yang di dalam tubuh mereka hingga mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di rumah-rumah mereka. Dan apakah penyebab binasanya umat-umat terdahulu itu semua, kecuali karena perbuatan dosa dan maksiat.

فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلا قَلِيلا وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ

“Maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami (lagi) sesudah mereka, kecuali sebahagian kecil. Dan Kami adalah pewaris(nya).” [Al-Qashsash: 58]

Maka marilah bertakwa kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, dan kita introspeksi diri-diri kita, dan memperhatikan amalan-amalan kita, dan kita perhatikan keadaan di sekitar kita. Sungguh di zaman ini, sebagaimana yang kalian semua telah ketahui, telah tersebar kekufuran, kejelekan, kefasikan dan maksiat, yang tidaklah ada mengetahuinya melainkan Allah. Sungguh amar ma’ruf dan nahi mungkar pun telah ditinggalkan, saling menasihati juga telah ditinggalkan, saling mengingatkan akan kebenaran juga ditinggalkan, hingga akhirnya terjadilah berbagai penyakit, kerusakan, malapetaka yang silih berganti di permukaan bumi, di udara, di daratan bahkan di lautan, yang telah tampak dampak dan akibat darinya, itu semua penyebabnya adalah perbuatan dosa-dosa dan maksiat, dengan hukuman yang beraneka ragam bentuknya pada jiwa, harta benda, dan anak-anak. Pada jiwa, sebagaimana yang telah kalian dengarkan dan saksikan berbagai penyakit yang mematikan, di antaranya penyakit AIDS yang penderitanya kebal dari berbagai obat untuk tubuhnya dan menular dengan idzin Allah kepada orang-orang yang berhubungan dengannya. Karena itulah mereka para penderita AIDS itu dikucilkan karena penyakit itu, dikucilkan dan dijauhkan dari manusia, ditempatkan di pengasingan hingga mereka meninggal. Dan penyebab terjadinya peristiwa ini adalah perbuatan keji dari zina dan homo seksual. Semoga Allah melindungi kita semua, Maha Benar Allah dengan firman-Nya.

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

“Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Isra`: 32]

Hingga berbagai penyakit ‘Flu Burung’ yang membuat binasa harta benda dari hewan ternak milik manusia dengan sebab penyakit itu, dan terus berkelanjutan dampaknya hingga ‘Flu Babi’. Babi yang merupakan hewan kotor, yang Allah telah haramkan. (Allah) telah mengabarkan bahwasanya ia najis, namun kaum nashrani tetap mengosumsinya dengan mereka memotong-motong dagingnya untuk dinikmati, maka Allah pun menimpakan penyakit ini kepada mereka, penyakit yang sempat menggetarkan dunia dengan kedatangannya, dan diterapkan segala bentuk safety karena khawatir dari penyakit ini. Namun segala upaya penjagaan mereka, tidaklah bermanfaat sama sekali di sisi Allah. Maka bagi yang mengalami hal ini, haruslah rujuk kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Demikian juga dalam permasalahan harta benda, kalian lihat dan dengar berbagai musibah ini dalam harta benda dengan kehilangannya dan kerugiannya serta kehancuran perekonomian dunia hingga hilangnya harta dengan jumlah yang sangat besar. Dan manusia pun ditimpa kefakiran dan kemiskinan serta kesulitan yang sebelumnya mereka kaya raya. Ketika mereka masukkan hartanya ke saham-saham terinfeksi yang asing tanpa diketahui dan mengikat sistem perekonomian mereka dengan sistem orang-orang kafir yang tidak lepas dari ribawi dan perjudian serta dari harta usaha yang haram, sehingga kaum muslimin pun ditimpa musibah dengan masuknya mereka kepada (sistem) mereka itu dalam usaha-usaha saham. Dan Allah Jalla wa ‘Alâ telah mengharamkan kepada kaum muslimin akan riba dan memberikan ancaman terhadap perbuatan riba dengan ancaman yang sangat keras, dan mengabarkan bahwa tidak ada kebaikan sama sekali pada riba tersebut bahkan justru menghilangkan keberkahan.

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.” [Al-Baqarah: 276]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman. Maka jika kalian tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok harta kalian, kalian tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” [Al-Baqarah: 278-279]

Demikian juga perbuatan judi yang merupakan temannya khamr dan perbuatan-perbuatan undian.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kalian (dari mengerjakan pekerjaan itu).” [Al-Mâ`idah: 90-91]

Maka undian itu adalah judi, yang inilah asas perekonomian negeri-negeri kafir, dan sungguh sebagian kaum muslimin ternyata bekerja sama dalam saham dan judi tersebut. Apa sebenarnya judi itu? Apa sebenarnya undian itu? Semua taruhan-taruhan itu termasuk perjudian, dan segala jual beli yang haram itu teranggap sebagai judi, dan orang kafir tidaklah pernah jauh dari hal yang haram. Namun yang penting adalah kaum muslimin yang terjatuh dalam kerjasama dengan mereka dan tidak memperhatikan akibat dan kerugian dari perbuatan tersebut.

Maka, bertakwalah kalian kepada Allah, wahai hamba Allah! Bertakwalah kalian kepada Allah terhadap diri-diri kalian, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap harta benda kalian, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap segala urusan kalian.

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” [Ath-Thalaq: 2-3]

Mohonlah rezeki dari sisi Allah, dan beribadahlah kepada-Nya serta bersyukurlah pada-Nya. Sesungguhnya Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah menjelaskan jalan-jalan untuk berusaha mencari yang halal, Allah telah menjelaskannya untuk kalian dan juga telah memperingatkan kalian dari usaha yang haram, dan menjelaskan kepada kalian akibat buruk dan dampak darinya.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [Ar-Rûm: 41]

Hikmah dari ditampakkannya kerusakan di darat dan di laut adalah Allah membuat manusia merasakan akibat atau sebagiannya saja dari akibat perbuatan buruk mereka, agar mereka kembali dan bertaubat kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, inilah hikmahnya.

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

“Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu.” [Fâthir: 45]

Bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian hamba Allah! Sesungguhnya baiknya bumi, daratan dan lautan itu hanyalah dengan ketaatan kepada Allah dan ittiba’ (meneladani) Rasul-Nya. Karena sesungguhnya Allah Jalla wa ‘Alâ telah memperbaiki dunia ini dengan mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab serta memberikan tuntunan hukum syari’at yang suci dan menegakkan hudud, menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar, dengan itulah akan menyucikan dan memperbaiki bumi ini. Adapun rusaknya bumi ini, penyebabnya adalah perbuatan dosa dan kemaksiatan serta pernyimpangan-penyimpangan.

 أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk, “Dan peliharalah diri kalian dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” [Al-Anfâl: 25]

Dan Allah Ta’âlâ juga berfirman,

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

“Katakanlah, ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian atau Dia mencampurkan kalian dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kalian keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)’.” [Al-An’âm: 65]

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعنا بما فيه من البيان والذكر الحكيم، أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه وتوبوا إليه إنَّه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua:

الحمد لله على فضله وإحسانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه، وسلم تسليماً كثيرا،  أما بعد:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Allah Ta’âlâ! Ketahuilah bahwasanya Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah menjadikan jalan keluar untuk kalian dari hukuman terhadap perbuatan dosa-dosa dan kemaksiatan  kalian dengan bertaubat kepada-Nya dan memohon ampunan serta kembali kepada-Nya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [Asy-Syûrâ: 25]

Dan juga berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar.” [Thâha: 82]

Maka, segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyegerakan hukuman kepada para hamba-Nya. Hal itu juga memerintahkan mereka agar bertaubat dan beristighfar apabila mereka bertaubat maka Allah akan menerima taubat mereka dan memberikan ma’af untuk mereka serta memberikan kebaikan yang luput dari mereka, serta akan memperbaiki amalan-amalan mereka. Adapun jika mereka tetap terus menerus dalam pelampuan batas yang mereka lakukan, maka sungguh Allah akan memperdayakan mereka, kemudian mengadzab mereka dalam keadaan mereka tidak sangka-sangka.

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” [Al-An’âm: 44-45]

Maka, bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian hamba Allah! Dan ketahuilah bahwasanya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaih wa sallam, dan sejelek-jelek perkara adalah perbuatan yang diada-adakan dalam agama dan segala bid’ah itu adalah kesesatan.

Wajib bagi kalian untuk bersatu dalam satu jamaah, karena tangan Allah bersama dengan jamaah.

 (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab: 56]

[Doa Penutup Khutbah dari Syaikh]

Ya Allah, berilah salam dan shalawat kepada hamba-Mu dan Rasul-Mu Nabi kita Muhammad, ridhailah para khulafâ’ ar-râsyidîn, para pemimpin umat yang berpentunjuk: Abu Bakr, Umar, Utsman dan ‘Ali serta para shahabat seluruhnya, dan juga para tabiin serta semua yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, hancurkanlah musuh-musuh agama.

Jadikanlah negeri ini penuh dengan keamanan dan ketenangan, demikian juga di negeri-negeri kaum muslimin lainnya, Ya Rabb alam semesta.

Ya Allah, untuk setiap yang ingin merusak Islam dan kaum muslimin, sibukkalah ia dengan dirinya sendiri, palingkanlah kami dari tipu dayanya, jagalah kami dari kejelekannya, sesungguhnya Engkau maha mampu atas segelah sesuatu.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, berilah mereka taufik untuk beramal segala hal yang mendatgangkan keridha’an-Mu.

Ya Allah, berilah mereka taufik kepada segala hal yang membuat baik mereka dan membuat baik Islam serta kaum muslimin.

Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kaum muslimin di setiap tempat dan jagalah kami dari kejelekan-kejelekan orang-orang jelek di antara kami, dan janganlah Engkau jadikan dosa-dosa kami mengalahkan kami, dosa yang menghilangkan rasa takut kepada-Mu dan Engkau-pun tidak merahmati kami. Dengan rahmat-Mu kami mohon, wahai yang maha merahmati dari seluruh yang merahmati.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 127]

Wahai hamba Allah,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.”

فاذكروا الله يذكركم، واشكُروه على نعمه يزِدْكم، ولذِكْرُ الله أكبرَ، والله يعلمُ ما تصنعون.

Ingatlah Allah, maka Ia pun akan mengingat kalian, bersyukurlah pada-Nya terhadap nikmat-nikmat-Nya, Ia pun akan menambah nikmat untuk kalian.

Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar, dan Allah maha mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan.

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/1767]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.