3 Shawwal 1438 :: 27 June 2017

Harap dan Cemas kepada Allah

Diposting : 01 Rabiul Akhir 1436 H / View : 2526x Tags: , , , ,

Harap dan Cemas kepada AllahKhutbah Pertama:

Segala puji hanya bagi Allah semata yang telah menolong hamba-Nya, memuliakan bala tentara-Nya, yang telah mengalahkan pasukan musuh dengan sendiri-Nya, tidak ada sesuatu pun sebelum dan sesudah-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu baginya dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, penciptaan-Nya dan urusan-Nya. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Dia adalah seorang Nabi yang Allah lapangkan dadanya, yang Dia letakkan dosa-dosanya, yang Dia angkat sebutan namanya, yang telah menjadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahnya. Semoga Allah memberikan shalawat kepadanya, keluarga dan para shahabatnya yang beriman kepadanya dan yang telah menolongnya, yang telah berjuang bersama di jalan Allah dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah meridhai dan memberikan keridhaan kepada mereka. Semoga Dia memberikan keselamatan kepada mereka dengan keselamatan yang banyak. Adapun sesudah itu:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah. Pahamilah Al-Qur`an yang mulia. Karena memahami Al-Qur`an adalah ilmu yang diikuti dengan pengamalan. Allah Jalla wa ‘Alâ memerintahkan untuk memahami makna di dalam Al-Qur`an dan menganjurkan untuk itu dikarenakan hal tersebut memiliki faedah yang agung bagi seorang muslim. Orang yang mentadabburi Al-Qur`an akan mendapatkan keajaiban yang benar-benar menakjubkan di dalam ilmu-limunya, susunan kalimat-kalimatnya.

Di antaranya adalah apa yang disebutkan di dalam Al-Qur`an tentang surga dan neraka serta janji dan ancaman. Tidaklah ada satu ayat pun yang disebutkan di dalam Al-Qur`an mengenai surga kecuali pasti disebutkan sebelumnya atau sesudahnya ayat-ayat tentang neraka agar seorang muslim selalu berada di antara rasa takut dan rasa mengharap. Rasa takut dari siksa neraka dan mengharapkan surga. Maka dia tidaklah selalu menjadi orang yang takut saja dan tidak menjadi orang yang mengharap saja. Akan tetapi dia berada di pertengahan antara rasa takut dan rasa mengharap. Rasa takut mendorongnya untuk melakukan amalan shalih dan takwa kepada Allah. Sedangkan rasa mengharap mendorongnya berbaik sangka kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Maka inilah cara pandang orang-orang yang memiliki keimanan. Bahkan ini adalah cara pandangnya para rasul.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” [Al-Isrâ`: 57]

Mereka berbaik sangka kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Di sana ada juga kelompok yang tidak menganggap adanya rasa takut dan rasa mengharap sama sekali. Mereka hanya mengatakan, “Kami hanya menyembah Allah karena kami mencintai-Nya. Kami tidak beribadah kepada-Nya karena takut kepada neraka-Nya atau karena mengharapkan surga-Nya.” Mereka adalah kaum sesat Shufiyyah.

Maka wajib bagi seorang muslim untuk menjauhkan diri dari sekte-sekte tersebut dan hendaklah menempuh jalannya pengikut kebenaran dan sesuai (tuntunan), (yaitu mereka) yang takut kepada Rabb mereka dan mengharap kepada-Nya. Mereka mengambil manfaat ayat-ayat tentang janji (surga)  dan ayat-ayat ancaman (neraka) sehingga mereka menjadi orang-orang yang istiqamah di dalam kehidupan mereka tanpa menyimpang ke arah manhaj Khawarij, atau menyimpang kepada manhaj Murji’ah, atau menyimpang kepada manhaj Shufiyyah. Akan tetapi (mereka) menjadi seorang muslim di atas jalan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, bahkan di atas jalan seluruh para rasul dan pengikut mereka.

Di sana ada kaum yang merasa aman dari siksa Allah. (Adalah) kaum ‘Âd ketika nabi mereka yaitu nabi Hûd alaihissalâm memberikan nasehat kepada mereka, mereka malah mengatakan,

سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنْ الْوَاعِظِينَ* إِنْ هَذَا إِلاَّ خُلُقُ الأَوَّلِينَ* وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

“Sama saja bagi kami, apakah kamu memberikan nasehat atau tidak. Agama ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang-orang terdahulu. Dan kami sekali-kali tidak akan disiksa.” [Asy-Syu’arâ: 136-138]

Kita memohon keselamatan kepada Allah. Dan ketika mereka melihat angin kencang yang datang kepada mereka untuk membinasakan mereka. (Allah berfirman,)

قَالُوا هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا بَلْ هُوَ مَا اسْتَعْجَلْتُمْ بِهِ رِيحٌ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ* تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لا يُرَى إِلاَّ مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

“Mereka berkata, ‘Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami’. (Bukan!) Bahkan itulah adzab yang kalian minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” [Al-Ahqâf : 24-25]

Saat ini, di kalangan orang-orang zaman sekarang, ada yang menghina nasehat dan peringatan ini. Mereka mengatakan, “Kalian terlalu keras kepada masyarakat. Kalian menutup pintu asa di wajah manusia. Bukalah untuk mereka pintu asa. Bahagiakanlah dan berilah mereka optimisme.” Maka ini adalah caranya orang-orang yang sesat dari kaum ‘Âd yang selain mereka.

Hendaklah kita berhati-hati dari ungkapan-ungkapan yang busuk seperti ini. Hendaklah kita menempuh jalan yang benar. Kita mengharap rahmat Rabb kita, kemudian kita beramal. Kita takut terhadap siksa Rabb kita dengan meninggalkan kemaksiatan, dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan jelek. Inilah jalan kebenaran dan jalan yang lurus. Tadabburilah oleh kalian Al-Qur`an. Tidaklah kalian mendapatkan penyebutan tentang surga dan kenikmatan-kenikmatannya kecuali kalian juga akan mendapatkan sebelumnya atau setelahnya penyebutan tentang neraka, siksaannya, hembusannya dan panasnya, agar kalian semua beramal demi mendapatkan surga dan takut terhadap neraka yang akhirnya kalian menjauhi semua perkara yang dapat mengantarkan ke neraka.

Tidak cukup hanya dengan takut terhadap neraka. Akan tetapi rasa takut itu harus dibarengi dengan melakukan sebab-sebab yang dapat menjauhkanmu dari neraka. Di antara amalan-amalanya adalah ini. Inilah hikmah Allah yang terdapat di dalam kitab-Nya yang jelas. Telah dimaklumi bahwa surga dijaga oleh perkara yang tidak disenangi, yang tidak disenangi oleh jiwa. Surga tidak bisa dimasuki hanya dengan berangan-angan semata. Sesungguhnya surga dimasuki hanyalah dengan rahmat Allah dan dengan sebab amalan-amalan shalih.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمْ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Kapankah pertolongan Allah itu akan datang?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [Al-Baqarah: 214]

Oleh karena itu surga tidak akan bisa didapat dengan angan-angan semata, atau dengan seseorang mengatakan, “Aku muslim, aku mukmin.” Ini hanyalah anggapan kosong mereka saja. Harus ada pembuktiannya. “Islam apa yang kamu peluk? Keimanan macam apa yang anda yakini ?” Bukanlah keimanan itu dengan perhiasan zhahir semata, bukan pula dengan angan-angan. Akan tetapi keimanan itu dengan keyakinan yang menancap di dalam hati, dibuktikan dengan perbuatan. (Hal tersebut) sebagaimana yang dikatakan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullâh. Inilah (yang dimaksud dengan) keimanan.

Maka wajib bagi seorang muslim agar tidak tertipu dengan ungkapan-ungkapan yang menjebak dan melupakan ancaman. Surga dikelilingi dengan perkara-perkara yang tidak disukai, (yang dengannya) butuh banyak bangun malam untuk shalat, berpuasa di siang hari, butuh berjuang di jalan Allah, butuh kepayahan dalam melakukan ketaatan. Dan perkara-perkara ini begitu terasa berat bagi tabiat jiwa manusia. Maka seseorang harus menahan hawa nafsunya di dalam melawan perkara-perkara yang memang tidak disukai tabiat jiwanya, yang mana itu semua berada di dalam ridha Allah Subhânahu wa Ta’âlâ hingga dia bisa sampai di surga dengan rahmat Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Dan demikian neraka, dihiasi dengan perkara-perkara yang menyenangkan syahwat, yang memang paling disukai oleh tabiat jiwa manusia yaitu syahwat yang diharamkan, syahwat permainan dan hal-hal yang sia-sia. Syahwat untuk berzina dan mencuri, meminum minuman keras, memakan harta riba dan yang lainnya. Surga itu tinggi, maka dibutuhkan ketinggian dan sesuatu yang bisa naik ke atas dan ini tentu teramat berat bagi tabiat jiwa manusia. Sedangkan neraka itu di bawah dan rendah, maka ini sangat mudah bagi tabiat jiwa manusia. Turun ke bawah lebih mudah daripada naik ke atas. Maka wajib bagi kita untuk mengingat perkara ini dan bersabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ dan kepayahan di dalamnya dalam rangka mendapatkan pahala dari Allah Subhânahu wa Ta’âlâ. Dan hendaklah kita meninggalkan apa yang Allah haramkan berupa dosa-dosa dan kemaksiatan-kemaksiatan dalam rangka takut kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ.

Maka yang wajib bagi setiap muslim untuk konsisten di jalan ini, yang mana merupakan jalannya para nabi, para rasul dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman dekat. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada Saya dan kalian semua di dalam Al-Qur`an yang agung dan memberikan manfaat kepada kita berupa penjelasan dan peringatan yang penuh hikmah. Saya ucapkan ucapanku ini. Aku mohon kepada Allah untuk saya dan kalian dan untuk kaum muslimin seluruhnya dari segala dosa. Maka mohonlah ampun kepada-Nya sesungguhnya Dia maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Khutbah Kedua:

Segala puji hanya bagi Allah atas keutamaan dan kebaikan-Nya. Aku bersyukur kepada-Nya atas taufik dan anugerah-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada beliau, keluarga dan para shahabat beliau. Semoga Allah memberikan keselamatan yang melimpah kepada mereka semua. Adapun sesudah itu,

Wahai sekalian manusia, sebagaimana yang telah kalian saksikan pada saat-saat ini berupa perkara-perkara yang berbahaya yang mengelilingi kaum muslimin, (berupa) ancaman para musuh, perusakan tempat-tempat tinggal, pengusiran penduduk suatu negeri dari negerinya, dan pengusiran mereka dari rumah-rumah mereka sebagaimana yang telah kalian saksikan dan dengarkan setiap pagi dan petang. Apa faedah yang kita dapatkan dari kejadian ini? Apakah kita telah kembali kepada Allah? Apakah kita sudah bertaubat kepada Allah? Apakah kita telah menyuruh diri-diri kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita, dan siapa saja yang ada di sekitar kita untuk taat kepada Allah? Kita membiasakan melakukan amar ma’ruf dan membiasakan diri mencegah kemungkaran? Apakah kita telah melakukan sebab-sebab keselamatan yang dapat menjaga kita dari kejahatan-kejahatan tersebut yang mengepung kita ataukah kita hanya mendengar berita-berita saja tapi tidak bisa mengambil hikmah dan pelajaran dalam keadaan kita tinggal di dalam kelalaian dan kelengahan kita? Siap menerima berbagai bahaya yang ada di sekitar kita? Tidak (ada) daya dan kekuatan kecuali hanya dengan kekuatan Allah.

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Apakah mereka merasa aman dari adzab Allah (yang tidak terduga)? Tidak ada seorang pun yang merasa aman dari adzab Allah kecuali hanya orang-orang yang merugi.” [Al-A’râf : 99]

Sesungguhnya perkara-perkara itu datang kepada para tetangga kita yang mungkin tidak jauh dari kita. Dan kita telah menempuh sebab-sebab yang dapat menarik kita kepada perbuatan-perbuatan maksiat, meremehkan perintah Allah dan lalai serta berpaling dari-Nya? Berarti kita belum mengambil sebab-sebab keselamatan kecuali hanya orang yang Allah kehendaki.

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, ambilah pelajaran dari setiap kejadian yang terjadi. Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki bashirah (pandangan yang tajam). Sebagaimana firman Allah Jalla wa ‘Alâ,

يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ

Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka.” [Al-Hasyr: 2]

Maksudnya adalah orang-orang Yahudi ketika mereka tidak mentaati Allah dan Rasul-Nya.

يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأَبْصَارِ

“Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai bashirah.” [Al-Hasyr: 2]

Dan ini bukan khusus orang-orang Yahudi, akan tetapi semua orang yang menyerupai perilaku mereka di antara orang-orang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya dan tidak menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya malah mengikuti hawa nafsunya.

وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [Al-Kahfi: 28]

Kemudian ketahuilah semoga Allah merahmati kalian, bahwa sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara (adalah) yang diada-adakan. Setiap bidah adalah kesesatan. Hendaklah kalian bersama jamaah kaum muslimin, karena tangan Allah di atas jamaah. Barangsiapa yang menyimpang maka dia menyimpang ke neraka.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzâb: 56]

Ya Allah, berilah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul-Mu, yaitu nabi kami nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan ridhailah Ya Allah para Khulafâur Râsyidîn beliau, para pimpinan yang mendapatkan hidayah, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para shahabat yang lain seluruhnya, juga para tabi’in dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Ya Allah, muliakan Islam dan kaum muslimin dan hinakanlah kesyirikan dan orang-orang yang melakukan kesyirikan, hancurkanlah mereka para musuh agama, jadikanlah negeri ini negeri yang damai dan sentosa dan seluruh negeri kaum muslimin, wahai Rabb seluruh alam semesta. Ya Allah jagalah untuk kami keamanan, keimanan dan kesejahteraan di negeri-negeri kami, perbaikilah para pemimpin kami, janganlah Engkau menyiksa kami karena perbuatan orang-orang bodoh di kalangan kami. Ya Allah jadikanlah orang yang menginginkan keburukan pada agama Islam dan kaum muslimin itu sibuk sendiri, palingkanlah makarnya dari kami, jagalah kami dari kejahatannya. Ya Alah jadikanlah senjata-senjata orang-orang kafir yang digunakan untuk menindas kaum muslimin itu kembali kepada mereka sendiri, jadikanlah (hal tersebut untuk) menumpas diri-diri mereka sendiri, jadikanlah petaka bagi mereka sendiri. Lindungilah kaum muslimin dari serangan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah lindungilah kami dari serangan orang-orang kafir. Sesungguhnya kekuatan dan siksaan-Mu itu amat keras dan dahsyat. Ya Allah, terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. Ingatlah Allah, niscaya Dia juga akan mengingat kalian, bersyukurlah kalian atas Nikmat-Nya niscya Dia akan menambahnya, dan sesungguhnya mengingat Allah itu amat besar. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian ketahui.

Khutbah Jumat, 14-4-1435 H.

[Sumber] http://alfawzan.af.org.sa/node/15122

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.