2 Safar 1439 :: 22 October 2017

Hak-Hak Sesama Kaum Muslimin

Diposting : 17 Jumadil Awal 1436 H / View : 2613x Tags:

Hak-Hak Sesama Kaum Muslimin

Hak-Hak Sesama Kaum MusliminKhutbah Pertama:

الحمد لله رب العالمين على فضله وإحسانه،وعلى نعمه وامتنانه،وأشهدٌ أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير،وأشهدٌ أن محمداً عبدُه ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه، وسلم تسليماً كثيرا،   أما بعد:

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, dan jagalah hak-hak saudara-saudara kalian, karena sesungguhnya kaum muslimin itu bagaikan satu jasad, dan bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu bagian dengan bagian yang lainnya. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memerintahakan kepada kaum muslimin untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan serta melarang mereka dari tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan, Allah Ta’âlâ berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketakwaan, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Mâ`idah: 3]

Oleh karena itulah, Allah telah mensyari’atkan bagi kaum muslimin agar mereka menjadi umat yang satu.

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kalian semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” [Al-Mu`minûn: 52]

Dan perkara yang mengharuskan mewujudkan persaudaraan dan saling tolong-menolong ini adalah karena kaum muslimin itu bagaikan, “Satu jasad yang bila ada merasakan sakit darinya maka anggota tubuh tersebut akan mengundang anggota tubuh yang lainnya hingga ikut merasakan, tidak tidur semalaman dan demam.” Sebagaimana sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dan kaum mukmin itu adalah bersaudara.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” [Al-Hujurât: 10]

Apabila terjadi di antara saudara tersebut perselisihan faham dan perbedaan, maka tidaklah hal itu menggugurkan persaudaraan tersebut, dan terkadang terjadi permusuhan atau bahkan pertumpahan darah hingga perpecahan. Dan Allah perintahkan untuk berdamai.

فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

“…. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu…”

Dan perdamaian adalah dengan menyelesaikan perselisihan dengan keadilan untuk menghilangkan perbedaan dan melestarikan kecintaan dan kasih sayang serta persatuan antara kaum muslimin. Oleh karena itulah Allah telah mengharamkan perbuatan ghibah dan adu domba, karena dua perbuatan ini akan menyebabkan perpecahan antara kaum muslimin dan kedua hal itu akan menyebabkan kedengkian antara kaum muslimin satu dengan yang lainnya. Dan Allah juga melarang untuk mengambil pemikiran-pemikiran (yang) bisa memecah kaum muslimin dalam aqidah mereka atau dalam persatuan mereka. Dan melarang juga dari segala hal yang bisa menyebabkan rusaknya persaudaraan ini. Kaum mukmin itu bersaudara, baik sesama mereka yang satu masa ataupun tidak.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. [Al-Hasyr: 10]

Maka, kaum mukmin itu bersaudara dari generasi pertamanya hingga generasi terakhirnya, yang saling mendoakan satu untuk yang lainnya, saling memohonkan ampunan satu kepada yang lainnya.

وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” [Muhammad: 19]

Saling merahmati sesama mereka, baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal. Inilah karakternya kaum muslimin sepanjang masa.

Dan ada hak individu di tengah kaum muslimin, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam: (1) memberinya salam jika berjumpa dengannya, (2) memenuhi undangannya jika ia mengundang, (3) memberinya nasihat jika ia memintanya, dan (4) menjawab tahmid untuknya jika ia bersin lalu mengucapkan tahmid, (5) membesuknya jika ia sakit, dan (6) mengiringi jenazahnya bila ia wafat.”

Inilah di antara hak-hak bagi individu dari kaum muslimin terhadap sesama mereka. Hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada enam perkara, maksudnya enam perkara ini adalah sejumlah dari hak-haknya. Sebab hak-hak itu sangatlah banyak di antara kaum muslimin, akan tetapi enam perkara ini adalah di antara yang terpentingnya.

Jika engkau berjumpa dengan saudaramu, berilah ia salam dengan mengucapkan, ‘Assalâmu ‘alaikum’, dan bisa juga engkau tambah,  ‘Assalâmu ‘alaikum warahmatullâh’, atau engkau tambah lagi, ‘Assalâmu ‘alaikum warahmatullâh wabarakâtuh’, ini yang lebih utama. Pernah ada yang datang kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang duduk bersama para shahabatnya, orang tersebut berkata, ‘Assalâmu ‘alaikum’, maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawabnya dan berkata, “Sepuluh”, lalu datang lagi yang lainnya dan berkata, ‘Assalâmu ‘alaikum warahmatullâh’, Nabi pun menjawabnya, dan berkata, “Dua puluh”, kemudian datang orang ketiga dan berkata: ‘Assalâmu ‘alaikum warahmatullâh wabarakâtuh’, lalu Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawabnya dan berkata, “Tiga puluh.” Maka Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal tersebut, “Orang yang pertama, yang memberi salam, ‘Assalâmu ‘alaikum’, baginya sepuluh pahala kebaikan, dan orang yang mengucapkan, ‘Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullâh’ baginya dua puluh pahala kebaikan, dan orang yang menambah ‘wabarakâtuh’, baginya tiga puluh pahala kebaikan. Dan Allah Jalla wa ‘Alâ telah berfirman,

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kalian diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” [An-Nisâ`: 86]

Memulai memberi salam itu hukumnya Sunnah, namun menjawab salam itu adalah wajib. Dan ucapan salam itu hendaknya diiringi dengan berjabatan tangan dengan orang yang berjalan, dan dengan orang yang duduk, dan juga dengan berpelukkan dari orang yang baru tiba dari perjalanan jauh. Ini semua bisa melahirkan kecintaan di antara kaum muslimin. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan bisa kalian masuk ke dalam surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian bisa beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan suatu perkara yang dengannya jika kalian lakukan maka kalian saling mencintai? Saling memberi salam di antara kalian.” Engkau beri salam kepada saudara muslim yang lainnya, baik ia engkau kenal atau tidak. Karena salam itu tidaklah hanya terbatas bagi yang dikenal saja. Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah salam kepada orang yang engkau kenal atau tidak engkau kenal.”

Salam adalah doa memohon keselamatan dari Allah untuk saudaramu muslim, atau bisa juga salam itu adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Subhânahu wa Ta’âlâ, maka jika engkau mengucapkan, “Assalâmu ‘alaikum’, hal (itu) akan menghilangkan keresahan hati dan keragu-raguan. Pada salam itu terdapat rahasia yang sangat agung, karena itulah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau berjumpa dengan saudaramu maka berilah ia salam, jika ia mengundangmu maka penuhilah”, jika ia mengundangmu ke rumahnya untuk menghadiri suatu kegiatan acara tertentu, acara pernikahan atau selainnya, maka di antara haknya darimu adalah engkau penuhi undangannya tersebut, untuk menumbuhkan kecintaan dan menenangkan hatinya serta semakin menguatkan hubungan dengannya. Dan apabila engkau memiliki udzur (halangan) yang membuatmu tidak bisa menghadirinya, maka hendaknya engkau meminta maaf padanya dan jangan serta merta engkau tinggalkan begitu saja.

Dan apabila saudaramu meminta nasihat darimu dengan meminta pertimbangan darimu pada suatu permasalahan, maka hendaknya engkau bermusyawarah dengannya memberikan pertimbangan untuknya pada perkara yang mengandung kebaikan untuknya. Dan janganlah berat hatimu untuk hal seperti itu, atau engkau katakan, “Ah, kan bukan urusan saya!” Ia meminta nasihat darimu maka berilah ia nasihat. Dan Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Agama ini adalah nasihat.” Kami (para shahahabat) bertanya, “Nasihat bagi siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Nasihat bagi Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya serta bagi umat Islam seluruhnya.”

Karena itulah di antara bentuk nasihat bagimu adalah apabila engkau berinteraksi dengannya dalam jual beli atau dalam perdagangan atau dalam suatu perjanjian kontrak atau selainnya, maka di antara bentuk nasihat baginya adalah engkau tidak menipunya, tidak pula mengkhianatinya serta memperdayanya, Sebab ia datang kepadamu karena percaya padamu, maka wujudkanlah prasangka baiknya itu kepadamu, dan janganlah memperdayanya, menipu atau menghianatinya. Demikian juga jika ia menitipkan kepadamu sebuah barang, maka jagalah dengan baik karena itu adalah amanah. Jika saudaramu mengamanahkan kamu suatu barang, uang atau suatu rahasia atau sesuatu lainnya maka engkau jaga dengan baik amanah  darinya itu, dan janganlah melalaikannya. Maka ini adalah di antara makna nasihat.

Apabila ia bersin, yang hal tersebut merupakan nikmat dari Allah, lalu ia mengucapkan tahmid kepada Allah, maka hendaknya engkau menjawabnya dengan engkau ucapkan, “Yarhamukallâh (Semoga Allah merahmatimu).” Dan jika engkau ucapkan ini, maka ia juga akan menjawabmu dengan mengucapkan, “Yahdîkumullâh wa yushlihu bâlakum (Semoga Allah memberi hidayah padamu dan memperbaiki keadaanmu).” Adakah kalimat yang lebih indah dari kalimat-kalimat ini?!, wahai hamba Allah!, yang terjadi antara orang bersin dan yang mendengarkannya, dengan mendoakan rahmat untuknya, maka bagi yang mendengarkannya memanjatkan doa rahmat untuknya, dan menghilangkan perasaan senang atas penyakit saudaranya. Jika ia bersin dengan bertahmid kepada Allah, adapun jika ia tidak bertahmid kepada Allah maka tidak ada kewajiban bagimu untuk mendoakannya. Namun hendaknya engkau menasihatinya, bisa jadi karena ketidak tahuannya atau kelalaiannya, maka katakan padanya agar bertahmid kepada Allah. Adapun jika bersin itu dikarenakan sakit, seperti flu atau semisalnya maka engkau hendaknya mendoakan kesehatan untuknya.

Dan apabila ia mengalami sakit, maka hendaknya engkau membesuknya di rumahnya. Membesuk orang sakit merupakan di antara amalan yang utama, membesuknya untuk menumbuhkan kecintaan padanya dan mendoakan kesembuhan untuknya. Dan sampaikan harapan baik padanya dan prasangka baik kepada Allah Azza wa Jalla. Dan membesuk orang sakit itu tidaklah dilakukan setiap hari, namun dilakukan dengan berkala satu hari kemudian setelah satu hari kemudian, kecuali jika memang sangat bermanfaat bagi si sakit dengan datangnya setiap hari. Dan juga janganlah engkau merasa berat untuk duduk di dekat orang yang sakit, karena bisa jadi ia merasakan perasaan yang sempit dengan rasa sakit yang ia rasakan, dan hendaknya engkau tidak terlalu lamu duduk di sampingnya kecuali memang hal tersebut memberikan manfaat baginya, duduklah bersamanya sesuai dengan kebutuhan.

Dan jika ada saudaramu muslim yang wafat, maka hadirilah jenazahnya. Ini adalah haknya terhadap dirimu, hadiri dan shalatilah jenazahnya dan juga panjatkan doa untuknya. Kemudian iringilah jenazahnya ke pekuburan hingga ia dikuburkan. Ini adalah haknya terhadap dirimu, atau boleh juga bagimu untuk menghadiri penyelenggaraan jenazahnya lalu menyalatinya dan mendoakannya kemudian engkau pergi. Jika engkau juga mengiringi jenazahnya ke pekuburan ini lebih utama. Bagi yang menyalati jenazah itu mendapatkan satu qirâth yaitu sebesar bukit yang besar dari pahala, dan bagi yang mengikuti pengantaran jenazahnya hingga dikuburkan baginya dua qirâth, yang setiap qirâth-nya seperti bukit yang besar.

Maka ini adalah di antara hak-hak kaum muslimin sesama mereka. Maka wasiatkanlah hal ini untuk mereka.

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Saling menasehati supaya menaati kebenaran dan menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr: 3]

 

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعنا بما فيه من البيان والذكر الحكيم، أقولٌ قول هذا واستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

 

Khutbah Kedua:

الحمد لله على فضله وإحسانه،وأشكره على توفيقه وامتنانه،وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبدُه ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه، وسلم تسليماً كثيرا،    أما بعد:

Wahai sekalian hamba Allah!

Sebagaimana yang telah kalian perhatikan, dan adanya pengaduan kepada Saya di zaman ini akan banyaknya pemutus-hubungan antara kaum muslimin, saling memboikot dan bermusuhan hingga terjadi di antara mereka tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya, kadang satu di antara mereka tidak tahu bagaimana keadaan saudaranya sampai ia akhirnya wafat! Maka ini adalah bentuk penelantaran hak-hak antara kaum muslimin. Wajib bagi kalian untuk memperhatikan hal tersebut, karena memang manusia itu akan berhubungan kepada orang yang menghubunginya saja, atau ia berhubungan dengan orang yang mendatangkan manfaat untuknya saja. Adapun kepada orang yang tidak memberikan manfaat baginya dalam urusan duniawinya maka ia akan memutuskan hubungan dengannya.

Berkata Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ, “Sungguh, telah terjadi kebanyakan persaudaraan di tengah manusia itu hanya karena urusan duniawi, karena ia merasakan tidak ada manfaat untuk keluarganya sedikitpun. Sungguh hak keimanan, hak keislaman itu lebih besar dari segala kemanfaatan yang ada dan lebih dari segala ikatan yang ada.”

Maka janganlah kalian lupakan hal ini, semoga Allah memberi taufik.

Penutup Khutbah:

Ketauhilah, bahwa sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek-jelek perkara adalah yang dibuat-buat dalam agama ini (bid’ah), dan segala bid’ah itu adalah kesesatan.

Wajib bagi kalian untuk tetap dalam jamaah, sebab tangan Allah bersama dengan jamaah. Dan barangsiapa yang menyimpang, maka ia akan disimpangkan ke neraka.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzâb: 56]

Doa Penutup Khutbah:

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, hancurkanlah musuh-musuh agama.

Jadikanlah negeri ini penuh dengan keamanan dan ketenangan, demikian juga di negeri-negeri kaum muslimin lainnya, Ya Rabb alam semesta.

Ya Allah, jadikanlah pemimpin bagi Kami yang terbaik dari Kami, dan tahanlah kejelekan dari orang-orang yang jahat di tengah Kami, dan janganlah membuat Kami terkalahkan dari perbuatan dosa-dosa Kami yang membuat hilang rasa takut pada-Mu, dan Engkau tidak merahmati Kami, dan janganlah siksa Kami karena perbuatan orang-orang yang bodoh di tengah Kami.

Ya Allah, jadikanlah pemimpin Kami, termasuk hamba-hamba-Mu yang takut pada-Mu, bertakwa kepada-Mu dan mengikuti keridhaan-Mu, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, berilah taufik pada para pemimpin dan pemerintah Kami untuk segala perkara yang mengandung kebaikan untuk negeri dan masyarakat.

Ya Allah, berilah ia taufik kepada segala kebaikan dunia dan agama, wahai Rabb alam semesta.

Ya Allah, perbaikilah orang-orang yang mendampinginya, dan jauhkanlah ia dari pendamping-pendamping yang jahat lagi merusak.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Ya Tuhan Kami terimalah daripada Kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah: 127]

Ya Allah, jadikanlah amalan-amalan mereka ikhlas hanya karena wajah-Mu, dan jadikanlah semua amalan mereka itu sebagai kebaikan untuk Islam dan kaum muslimin.

Wahai hamba Allah!

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah (kalian) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kaalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah kalian itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat. [An-Nahl: 90-91]

فاذكروا اللهَ يذكرْكم، واشكُروه على نعمِه يزِدْكم ولذِكْرُ اللهِ أكبرُ، واللهُ يعلمُ ما تصنعون.

 

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/4910]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.