8 Safar 1440 :: 17 October 2018

Orang-Orang Yang Berselisih Hendaknya Kembali (Rujuk) Kepada Al-Kitab dan Sunnah

Diposting : 01 Rabiul Awal 1436 H / View : 2620x Tags: , ,

Orang-Orang Yang Berselisih Hendaknya Kembali (Rujuk) Kepada Al-Kitab dan SunnahSoal:

Agama Islam merupakan agama yang sangat mengutamakan keselamatan umatnya dan menjaga keberlangsungannya, serta memperingatkan dari perselisihan, persengketaan dan mempertakuti setiap individu keseluruhannya agar mereka semua berusaha menjauhkan umat dari permusuhan dan persengketaan.

Sampaikanlah kepada kami dari ucapan-ucapan para ulama dan juga ahli tafsir yang menjelaskan tentang tercelanya perselisihan dan kejelekan yang ada padanya. Semoga Allah memberi pahala kepada anda.

Jawab:

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta, semoga shalawat dari Allah serta salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabat beliau seluruhnya.

Allah Jalla Wa ‘Alâ telah menjadikan umat ini sebagai umat yang satu. (Allah berfirman),

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhan kalian, maka beribadahlah (kalian) kepada-Ku”. [Al-Anbiyâ`: 92]

Dan tidaklah umat ini menjadi umat yang satu, bersamaan adanya perselisihan, persengketaan dan perpecahan. Karena itulah Allah melarang dari perpecahan dan perselisihan. Allah berfirman,

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. [Âli Imrân: 105]

Dan juga Allah berfirman,

وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

Dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” [Al-Anfâl: 46]

Dan juga Allah berfirman:

وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. [Hûd: 118-119]

Dikecualikan di dalam ayat ini, orang-orang yang tidak berselisih, Allah akan merahmati mereka. Adapun orang-orang yang berselisih, mereka tidak akan mendapatkan rahmat, rahmat itu hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang tidak berselisih. Tatkala perselisihan itu pasti akan terjadi, maka Allah menjadikan penyelesaian agar tidak terjadi perselisihan tersebut dengan kembali merujuk kepada kitab Allah (yakni Al-Qur’an; -penj.) dan kepada Sunnah Rasul-Nya shallallâhu ’alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah,

 وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

Tentang sesuatu apapun kalian berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah”. [Asy-Syûrâ: 10]

Dan firman-Nya,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” [An-Nisâ`: 59]

Maka, orang-orang yang berselisih (hendaknya) merujuk kepada Al-Kitab dan Sunnah. Nabi shallallâhu ’alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, barang siapa yang hidup di antara kalian kelak, akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang berpenjunjuk setelahku.

Dan barang siapa yang enggan dan tidak menerima untuk berhukum dengan Al-Kitab dan Sunnah dalam permasalahan perselisihan dan perbedaan pedapat, maka ia bukanlah seorang muslim. (Allah berfirman),

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [An-Nisâ`: 65]

Ini terkait dengan perbedaan pendapat dalam masalah aqidah. Adapun perbedaan pendapat dalam masalah ijtihad yang berdasarkan dalil, setiap pihak mengambil sesuai dengan pemahamannya dari dalil-dalil tersebut, yang bisa saja benar, dan bisa saja salah. Ini tidaklah teranggap perselisihan. Memang merupakan perbedaan pendapat, akan tetapi tidaklah mengharuskan (adanya) perselisihan.

Para shahabat –semoga Allah meridhai mereka- pernah berbeda pendapat dalam masalah ijtihad, dan mereka tetap sebagai umat yang satu, tetap bersaudara.

Maka perbedaan pendapat yang terjadi karena perbedaan kemampuan dalam memahami dalil-dalil di kalangan para ulama ahli ijtihad, tidaklah merusak kasih sayang yang ada. Karena sejatinya, pihak yang bertahan dengan pendapatnya itu semangat untuk mencari al-haq, dan bukanlah ia mengikuti hawa nafsunya.

Sehingga perbedaan pendapat yang terjadi karena hawa nafsu inilah yang tercela, dan perbedaan pendapat yang terjadi dalam rangka mencari kebenaran ini bukanlah yang tercela. Hal ini tidaklah memecah belah umat, tidaklah pula merusak kecintaan di antara mereka.

[Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/15187]

Subscribe

Ikuti terus manfaat di Alfawzan.Net dengan berlangganan artikel via email dibawah ini. Jangan lupa cek email Anda untuk menyetujui layanan ini.